Percaya Nabi Atau Kyai?

ilustrasi

Oleh : Shuniyya Ruhama

Pertanyaan aneh dari segelintir kaum Muslimin yang sebenarnya tidak perlu dijawab sering membuat kita gerah.

Kyai dan Nabi jelas tidak akan bisa diperbandingkan. Sebab Nabi adalah manusia suci yang diutus Gusti Allah untuk umatNya dengan bimbingan wahyuNya. Sedangkan Kyai adalah penerus ilmu dan akhlak Kanjeng Nabi.

Jaman ini adalah jaman yang kita imani sebagai jaman kenabian Rosulullah Muhammad SAW yang sudah wafat belasan abad lalu. Namun, anehnya ada yang menolak mengikuti Kyai, dan ngotot mengklaim sebagai pengikut langsungnya Kanjeng Nabi.

"Antum ikut Kyai atau Nabi?" tanya dia seakan paling yes.
"Ikut Kyai..!!!" jawabku tegas... Lalu kulanjutkan, "Apa kamu ketemu Nabi sehingga bisa langsung mengikuti beliau SAW?"

"Jelas tidak. Ana langsung mengikuti Nabi berdasarkan Qur'an Hadits" jawabnya garang.

"Apa kamu lihat waktu Kanjeng Nabi keturunan ayat dan menyabdakan atau meneladankan Hadits?" tanyaku tak kalah garang.

"Astaghfirullah.... Antum tidak percaya Quran Hadits?" mulai ngamuk dia.

"Iya. Aku percaya Qur'an Hadits haqqul yaqin karena ngaji sama Kyai. Bukan ngaji sama Kanjeng Nabi. Terus kamu percaya Qur'an Hadits karena langsung ngaji sama Kanjeng Nabi, gitu?" sergahku

"Ya gak juga... Ana ngaji sama Ustadz Sunnah, murni Qur'an Hadits", jawabnya mulai linglung

"" Ya udah. Berarti kamu percaya sama Ustadz kamu itu..." kataku santai.

Aku lanjutkan, "Woles aja Mas, Kyai itu murid dari para Kyai sebelumnya dan seterusnya hingga sanadnya sampai ke Kanjeng Nabi... Kalau sanadnya nyambung, mengikuti Kyai ya berarti mengikuti Kanjeng Nabi juga"

"Tidak bisa. Mana dalilnya?" jawabnya. Aku hanya tersenyum saja. Dia pasti tidak butuh dalil. Butuhnya hanya hidayah, hehehe. Sebab, kalimat "mana dalilnya" adalah senjata mereka untuk membungkam kita.

"Coba dengarkan ya, Kanjeng Nabi bersabda: Sanad itu bagian dari agama. Seandainya tidak ada sanad, maka setiap orang bisa berkata apa yang dia inginkan... Rosulullah juga bersabda: Barangsiapa yang berkata tentang Kitab Allah dengan gagasannya sendiri, kalau benar dianggap salah, kalau tidak benar akan dimasukkan ke neraka Jahanam" (Sambil kusebutkan nash asli sesuai yang tercantum di Hadits).

Gelagapan dia... xixixi sebelum dia menggunakan jurus berikutnya, langsung kusergah, karena sudah hafal tabiat saudara seiman beda jalan ini, "Shohih gak haditsnya? Kamu mau tanya itu?"

Mukanya terkejut sekali... Aku hanya tersenyum, dan mengatakan, " Mas, lebih baik kamu cari sanad gurumu nyambung gak ke Rosulullah daripada ribut mempertanyakan keshohihah Hadits yang sudah dinyatakan shohih dan hasan oleh para Imam Muhadditsin terdahulu..."

Dia kelicutan, gak bisa jawab. Aku hanya senyum lalu berpamitan. Urusanku banyak. Tidak ada waktu buat orang masa kini yang berhalusinasi sebagai murid langsungnya Kanjeng Nabi. Semoga mendapat hidayah.

Sumber : Status Facebook Shuniyya Ruhama

Monday, February 17, 2020 - 08:15
Kategori Rubrik: