Perbedaan

Oleh: Erizeli Bandaro

Ada netizen dengan tegas mengatakan dia tidak suka dengan Jokowi. Ada juga yang bilang engga suka dengan Ahok. Di lain waktu ada juga yang bilang engga suka dengan Partai A atau B. Hebatnya sikap seperti itu bukan hanya di sampaikan secara pribadi kepada orang lain tapi juga disampaikan lewat sosial media. Sehingga sikapnya seakan mencari cantolan dengan pihak yang sependapat dengan dia. Dari komunitas Sosial media, dunia jadi terang benderang. Mana yang berbeda dan mana yang sepaham terlihat jelas. Jokowi menjadikan Indonesia tidak lagi dalam keadaan galap atau remang remang. Semua menjadi vulgar. Bahkan sangking vulgarnya perbedaan menimbulkan aroma mantiko, dan juga cinta.

Tak pernah terbayangkan kebebasan itu akan ada di Turki dibawah Rezim Erdogan yang melaran FB. Tidak mungkin ada itu di CHina yang melarang sosial media berbeda pendapat dengan pemerintah. Tidak akan mungkin itu ada di Arab Saudi dan dinasti islam yang pernah berjaya berabad abad. Mengapa ? Peradaban yang di bangun dalam suasana gelap dan remang remang, kebenaran hanya ada pada kekuasaan, dan tidak boleh ada perbedaan pendapat. Mengelola kekuasaan seperti ini memang menyamankan. Bahkan kekuasaan adalah pesta tanpa jeda dan tanpa henti sepanjang hari. Namun apa hasilnya ? Sejarah mencatat bahwa kemajuan suatu bangsa bukan karena kekuasaan mengekang semua orang tapi karena kekuasaan memberikan kebebasan orang untuk bersikap atas dasar intelektual dan spiritualnya.

 

 
Adam bersama Siti Hawa di tempatkan didalam Sorga. Semua kemewahan dan kemudahaan ada di Sorga. Tapi hanya satu yang tak boleh di sentuh oleh Adam dan Hawa, yaitu bual Qalbi. Ya hanya buah Qalbi. Ini bukan buah hebat dan terlalu berharga dibandingkan yang ada di sorga. Tapi qalbi adalah lambang batas kebebasan dan akal yang berikan Tuhan kepada Adam. Walau Tuhan melarang Adam memakan buan qalbi namun kekuasaan Tuhan tidak mencegah Adam menggunakan free will nya. Mengapa ? Free will yang ada pada Adam adalah takdir yang di design Tuhan ketika menciptakan Adam. Dan ketika Adam menentukan pilihan melompati batas kebebasan dan akalnya maka takdir kehidupan manusia di bumi di tercipta.
Manusia dan kebebasan menentukan sikap adalah dua hal yang satu kesatuan , yang apabila ada kekuasaan ingin memisahkan itu maka dia sudah lebih hebat dari Tuhan. Kekuasaan yang manusiawi adalah menghargai kebebasan orang lain dan pada waktu bersamaan setiap orang sadar bahwa setiap kebebasan itu ada rasiko yang harus dibayarnya. Setiap orang menanggung resiko masing masing atas pilihannya dan semua orang akan bertanggung jawab dihadapan Hukum manusia dan juga Tuhan. Karenanya agama diperkenalkan dan di terapkan agar orang tahu batas kebebasan itu, bukan dengan rasa rakut tapi dengan kesadaran bahwa tidak ada kebebasan yang free of charge. Dari sikap seperti ini memaksa semua orang bijak untuk belajar memahami orang lain dan berusaha mempersatukan perbedaan dengan cinta.
 
(Sumber: Facebook Erizeli)
Tuesday, June 13, 2017 - 22:30
Kategori Rubrik: