Perbedaan Umat Islam di Indonesia dan Arab

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Saya amati ada perbedaan mendasar antara umat Islam di Indonesia belakangan ini dengan umat Islam di Tanah Arab, khususnya kawasan Arab Teluk yang saya amati.

Pertama, tentang pakaian. Di Tanah Arab, ekspresi lelaki Muslim yang berjubah itu biasa saja karena memang itu "pakaian tradisional" mereka. Sebetulnya bukan hanya pakaian tradisional komunitas Muslim saja tetapi juga masyarakat non-Muslim. Banyak umat Kristen dan Yahudi dan lainnya (Yazidi, Druze, dlsb) yang mengenakan jubah.

Mereka bersikap biasa karena mereka tahu kalau jubah itu adalah produk budaya masyarakat Arab maupun non-Arab yang tinggal di kawasan Timur Tengah. Tak ada satu pun yang merasa lebih relijies atau lebih saleh dengan berjubah. Tidak ada satupun diantara mereka yang menganggap mengenakan jubah sebagai "sunah rasul" misalnya karena mereka tahu pakaian yang mereka kenakan sekarang ini berbeda dengan pakaian yang dipakai oleh Nabi Muhammad pada 15 abad yang lalu.

 

 

Nah kalau di Indonesia saya melihat ada kecenderungan umat Islam (meskipun tidak semuanya) kalau sudah memakai gamis merasa paling nyunah, paling saleh, paling alim, paling dekat dengan Tuhan, dan paling layak masuk syurgah. Bukan hanya itu saja, mereka juga mengaggap umat Islam yang belum bergamis dianggap belum nyunah, belum Islami dan seterusnya.

Yang perempuan Muslimah juga sama. Mengenakan abaya atau kadang dilengkapi dengan cadar (dalam bentuk niqab, burqa, atau khimar) juga biasa saja. Yang berabaya dan bercadar memang bukan hanya komunitas Muslimah saja, tapi juga non-Muslimah. Tapi di Indonesia, perempuan Muslimah (lagi, tentu tidak semuanya) yang sudah berjilbab apalagi ditambah bercadar gayanya sudah merasa paling solehah sedunia-akhirat.

Kedua, tentang jenggot. Dunia perjenggotan, sebagaimana dunia perjubahan, juga sangat plural dan kompleks. Arab Muslim yang berjenggot tidak semata-mata mengikuti "sunah Nabi". Mereka tahu kalau jenggot bukan hanya dipraktikkan oleh Nabi Muhammad dan pengikutnya tapi juga oleh umat lain. Banyak yang memelihara jenggot (baik yang ukuran minimalis maupun yang "boros") karena agar kelihatan modis dan maco saja.

Penelitian tentang jenggot yang saya lakukan menghasilkan data yang cukup menarik. Di kalangan pemuda Arab khususnya, jenggot adalah simbol "kedewasaan, kelelakian, dan kemacoan". Banyak dari mereka yang memelihara jenggot agar terhindar dari "godaan lelaki titit belang" yang suka lirak-lirik melihat lelaki bersih dan klimis.

Di tengah masyarakat yang sangat segregatif dari aspek jenis kelamin, dimana ruang publik perjumpaan lelaki dan perempuan sangat terbatas, maka sasaran akan ditujukan kepada sesama jenis kelamin (baca, sesama lelaki) karena itu memelihara jenggot adalah bagian dari strategi untuk menghindari ulah iseng "lelaki ngacengan" tadi (bersambung).

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

 

(SUmber: Facebook)

Monday, September 10, 2018 - 01:00
Kategori Rubrik: