Perbedaan Kerumunan Jokowi dan Rizieq

ilustrasi
Oleh : Alexander Sakura
Advokat Alamsyah Hanafiah selaku kuasa hukum Habib Rizieq Shihab angkat bicara soal kunjungan kerja

di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menimbulkan kerumunan orang mengabaikan protokol kesehatan.

Kubu Rizieq akhirnya memiliki senjata untuk menyerang balik siapapun yang menciptakan kerumunan. Mereka tidak ingin hanya Rizieq cs yang diproses hukum karena menciptakan pelanggaran. Mereka merasa jika Jokowi tidak ditindak maka tidak adil.
Terbukti saat Presiden Jokowi berkunjung ke Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) lalu muncul kerumunan, kubu Rizieq langsung menyerang Presiden Jokowi. Sampai kemudian mengatakan jika polisi tidak mungkin berani menindak Presiden Jokowi yang menciptakan kerumumanan.
Sdr. Alamsyah gunakan logika anda
Beberapa bulan lalu Rizieq menggelar acara maulid nabi dan hajatan pernikahan anaknya. Undangan sekitar 10 ribu orang. Kerumunan tidak bisa dicegah. Tidak sedikit undangan yang konon positif covid-19 setelah hadir dalam acara tersebut.
Rizieq seperti sengaja menantang pemerintah sebab saat itu Rizieq akhirnya harus mempertanggung-jawabkan perbuatannya dan sekarang sedang menjalani proses hukum.
Ada banyak perbedaan antara kerumunan yang tercipta saat Presiden Jokowi berkunjung ke NTT, dibanding kerumunan yang diciptakan oleh Rizieq. Perbedaan ini yang membuat Jokowi tidak bisa ditindak begitu saja seperti Rizeq. Berikut perbedaannya:
Pertama, Jokowi adalah Presiden Pepublik Indonesia, sedangkan Rizieq adalah rakyat biasa yang sempat menjadi buronan. Ada perbedaan perlakuan hukum antara presiden dengan rakyat biasa. Presiden adalah simbol negara. Siapapun yang menghina presiden bisa langsung ditangkap tanpa delik aduan. Sebaliknya, siapa yang menghina rakyat biasa maka tidak bisa langsung ditindak kecuali yang dihina membuat laporan ke polisi.
Kedua, kerumunan yang tercipta saat Jokowi berkunjung ke NTT terjadi begitu saja, spontan, tidak disengaja, tidak dikoordinir. Kerumunan itu murni karena antusiasme masyarakat yang ingin bertemu dengan presiden. Kerumunan itu juga tidak sampai merusak fasilitas umum. Jokowi juga terus mengingatkan untuk memakai masker kepada masysarakat.
Sebaliknya, kerumunan sengaja diciptakan oleh Rizieq. Dia sengaja mengerahkan pendukungnya untuk menjemput di bandara. Dia juga sengaja menggelar acara maulid nabi dan hajatan pernikahan anaknya dengan mengundang puluha ribu orang. Selain itu, kerumunan yang dibuat oleh pendukung Rizieq di bandara juga sampai merusak fasilitas umum.
Jokowi bisa disamakan dengan Rizieq jika beliau menggelar acara pernikahan anaknya, lalu mengundang puluhan ribu orang. Misalnya saat pandemi Jokowi menggelar hajatan pernikahan Kaesang, lalu mengundang hingga 30 ribu orang sehingga muncul kerumunan, maka Jokowi bisa didesak untuk diproses hukum seperti Rizieq.
Kubu Rizieq harus belajar logika terlebih dahulu sehingga tidak ngawur dalam membuat analogi. Sangat jelas sekali kerumunan yang tercipta saat Jokowi berkunjung ke NTT tidak bisa disamakan dengan kasus Rizieq. Semoga kubu Rizieq bisa tercerahkan dengan artikel ini. Paham !!
Sumber : Status facebook Alexander Sakura
Friday, February 26, 2021 - 08:45
Kategori Rubrik: