Perbedaan Dakwah Ulama Toleran dan Intoleran

ilustrasi

Oleh : Tito Gatsu

Ada perbedaan prinsip dasar dalam menjalankan syiar Islam antara NU dan HTI .
Saya disini memilih NU yang juga merepresentasikan Muhammadiyah sebagai Ormas terbesar di Indonesia sejak berabad-abad lamanya .

Walaupun banyak pandangan yang bersebrangan, namun ada satu benang merah yang menyatukan keduanya. Antara NU dan Muhammadiyah sama-sama memiliki sikap yang toleransi dengan agama lain, tidak berat sebelah dan menjalankan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya.

Dan sebagai perbandingannya kenapa Saya memilih HTI, Karena faham HTI Sudah secara terang terangan dan memposisikan diri sebagai penentang pemerintah dan mempunyai wakil di Parlemen selama masa reformasi walaupun sering berubah-ubah wujud dan kadang diakui kadang tidak diakui PKS, sedangkan faham lain seperti Wahabi dan salafi Saya anggap hanya menunggangi.

HTI , Wahabi dan salafi sama-sama menganut Azas tunggal yaitu khilafah Islamiyah yang pada akhirnya bila terwujud akan perang saudara terus Karena pada hakekatnya mereka tak akan bisa disatukan karena perbedaan ideologi dan syariat yang mendasar.
Sangat berbeda dengan NU dan Muhammadiyah yang jauh lebih moderat.

Fenomena menjamurnya para dai yang tidak memiliki kualifikasi keilmuan Islam yang mendalam menjadi keprihatinan banyak pihak. Para pendakwah dadakan alias instan ini memanfaatkan media sosial untuk memunculkan dirinya agar diketahui khalayak. Bukan itu saja, berbekal pemahaman dangkal, mereka pun dengan beraninya menyalahkan pendapat-pendapat ulama yang memiliki pemahaman komprehensif dalam agama. Kenapa demikian ?

Mari kita bedakan dulu platform yang jelas antara NU dan Muhammadiyah (Kita sebut saja dengan sebutan Islam Toleran ) dengan HTI (Ikhwanul Muslimin) , Wahabi dan Salafi (Kita sebut saja dengan sebutan Islam.Intoleran).

Apa Platform Islam Toleran ?
NU dan Muhammadiyah walaupun banyak perbedaan dalam pandangan dan Tata cara syariat tapi mempunyai platform yang sama, yaitu : Amaliyah dan Ukhuwah.

Apa Itu Amaliyah?
Amaliyah adalah akhlak dasar seorang muslim yang dicontohkan Rasulullah, yaitu Akhlakul karimah adalah prinsip Dasar Islam dan mengapa orang disebut Islam , Amaliyah mengatur hubungan sesama manusia, dan alam semesta.
Bersumber dari Al Quran dan As Sunnah dari ajaran Rasulullah SAW. Karena apa yang baik menurut Al Qur’an dan As Sunnah maka itulah yang baik dan menjadi pegangan di dalam kehidupan sehari-hari.

Apa Itu Ukhuwah ?
Ukhuwah adalah konsep persaudaraan , ada tiga macam ukhuwah, yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan bangsa), dan ukhuwah basyariyah (persaudaraan umat manusia). Ukhuwah basyariyah bisa juga disebut ukhuwah insaniyah. ... Dalam konteks ini, semua umat manusia sama-sama merupakan makhluk ciptaan Tuhan.

Apa Platform Islam Intoleran ?
HTI , Wahabi dan Salafi walaupun secara ideologi dan syariat mereka mempunyai perbedaan yang sangat jauh bahkan cenderung saling menghancurkan tapi mereka mempunyai kesamaan platform yaitu Harakah Islamiyah

Apa Itu Harakah Islamiyah?
menurut Syaikh Abdul Malik Al-Jazaairy : "Orang-orang harakah adalah suatu kaum yang (kelihatannya) berjuang untuk Islam. Mereka berpendapat bahwa memahami agama ini tidaklah cukup untuk memperjuangkan Islam, sampai setiap individu bergabung di dalam suatu gerakan dakwah, yang didalamnya mereka diperintah dan dilarang, (mereka harus) mendengar dan taat. Kegiatan ini kebanyakan disertai dengan bai’at dan sumpah setia, meskipun mereka berada di dalam suatu negara yang dipimpin oleh penguasa muslim."

Jadi menurut saya pribadi (Maaf Saya orang yang merasa bodoh mengenai Agama , oleh karenanya Saya tidak berani menjadi ustad beda dengan Om Felix Siauw yang begitu percaya diri.

Islam toleran lebih mengutamakan kualitas dan Akhlak individu umat Islam sedangkan kelompok Intoleran lebih mementingkan kuantitas atau jumlah pemeluk atau pengikutnya.

Mereka kurang memperhatikan Amaliyah dan Ukhuwah makanya ustadnya agak sangar-sangar karena target mereka adalah kuantitas dan jumlah pengikutnya yang diutamakan.

Pola pendekatan mereka adalah dengan liqo atau kumpulan-kumpulan terbatas , tarbiyah atau memberikan pendidikan agar mereka mau mengikuti faham mereka, fikra atau pemikiran menggugah fanatisme dan menganggap mereka yang Terbaik dan yang lain salah atau Kafir dan Harakah atau gerakan selalu menentang penguasa dengan menganggap penguasa adalah Kafir atau thogut sampai mereka bisa berkuasa dan tujuannya adalah Khilafah Islamiyah.

Untuk menjadi Ustad Intoleran tentunya tidak dibutuhkan sertifikasi yang terlalu rumit karena targetnya adalah kuantitas jumlah pengikut (apalagi ditambah Nasi Bungkus mungkin lebih joss ! ).

Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Agus Salim mengatakan, jika ini dibiarkan begitu saja, tentu masyarakat yang akan menjadi korbannya. Masyarakat akan terkontaminasi pelan-pelan karena para pendakwah seperti ini yang sering muncul di medsos. Oleh karenanya, para pendakwah Nahdlatul Ulama ala Ahlissunnah Wal Jamaah (Aswaja) juga harus mampu aktif mewarnai media-media untuk memberi konten-konten dakwah yang baik dan benar.

Kiai Agus Salim mengingatkan, dakwah yang dilakukan para dai Nahdlatul Ulama memiliki perbedaan dengan yang ‘mereka’ lakukan. Setidaknya ada lima hal yang membedakannya. Pertama, selalu mengawali aktivitas dakwah dengan niat yang benar. “Luruskan niat. Niatkan semata-mata karena Allah SWT dan meninggikan kalimat Allah,” tegasnya pada silaturahim virtual Alumni Tadribud Duat wal Aimmat yang dikirim PBNU ke Universitas Al Azhar Kairo Mesir.

Perbedaan kedua, lanjut dia, para dai NU harus menyampaikan konten dakwah yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Apa yang disampaikan kepada para jamaah harus valid dan sesuai dengan dalil hukum yang ada dalam Islam. “Sering kita dengar orang-orang dengan gampangnya berdakwah, tapi dia sendiri tidak paham dengan apa yang disampaikannya,” ungkap Kiai Agus Salim.

Ketiga, para dai NU harus mengedepankan akhlak dengan menggunakan bahasa yang jelas dan beradab. Ia mengajak pendakwah NU menjauhi cara-cara dakwah yang menggunakan bahasa yang tidak sopan dan sering menyalah-nyalahkan tanpa dasar. “Rujukannya adalah yang dipakai oleh para ulama salafusshalihin,” ajaknya.

Dakwah yang dilakukan para pendakwah NU juga harus mampu menjadi instrumen dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Poin keempat ini berdasarkan fakta bahwa Nahdlatul Ulama menjadi salah satu bagian yang paling banyak memiliki andil saham dalam mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Poin kelima yang harus diingat oleh para dai NU dan juga yang membedakannya dengan cara dakwah kelompok lain adalah tidak gampang mengeluarkan fatwa.

Mengutip makalah Imam al-Syafi’i RA, Kiai Agus mengingatkan bahwa orang yang paling sering dan berani berfatwa adalah orang yang paling berani masuk neraka. Tentunya pengikutnyapun Akan mengikuti.

Dalam menghadiri pengajianpun pada akhirnya Kita harus benar- benar teliti jika salah pengajian apalagi pendidikan untuk Masa depan anak-anak kita tentunya kitapun bisa berdosa dan mendapatkan Azab dan semoga Kita selalu mendapat hidayah dan rahmat dari Allah SWT... Aamiin YRA.

Semoga bermanfaat Saya hanya orang bodoh yang sangat mencintai kebenaran dan keutuhan di negri Indonesia tercinta ini sumpah demi Allah saya bukan buzzer oleh karenanya bila banyak salah Mohon dimaafkan.

Wallahu'Alam bishowab.

Sumber : Status Facebook Tito Gatsu

Thursday, September 10, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: