Perbaikan Sistem Pendidikan dan Regulasi Dokter

Ilustrasi
Oleh : Alim
Pagi-pagi terpikir perlunya perbaikan sistem pendidikan dan regulasi dokter kita agar disesuaikan dengan tantangan pasar bebas informasi seperti saat ini.
Ya, ini terkait oknum dokter influencer yang mengaku ahli, sehingga statemennya ngawur terkait medis langsung auto-sahih karena menurutnya, ia sebagai ahli tidak perlu menggunakan referensi ilmiah. Pendapat nya adalah referensi itu sendiri.
Jelas itu statemen sesat.
Perbaikan yang saya maksud setidaknya terkait tiga hal: Pertama, kemampuan dalam berpikir sahih dan ilmiah. Kedua soal bersikap secara profesional saat berlaku sebagai dokter. Ketiga, hak menyandang dan mengaku sebagai dokter.
Tampaknya pendidikan dokter kita belum bisa mencetak dokter dengan standar nalar sahih dan ilmiah secara merata. Buktinya ada dokter aktif dan non-aktif yang statemen2 publiknya ngawur penuh logical fallacies dan tidak berbasis bukti ilmiah. Ngomong ke publik suatu hal, ngakunya berbasis jurnal, padahal jurnal itu hanya ia kutip sebagaian sementara kelemahan jurnal (yang diakui oleh penulis jurnal tsb) disembunyikan. Ngutip jurnal aja nggak bisa, kok berstatement di ruang publik.
Benar kata DR. Dr. Atoillah Isvandiary, bahwa pendidikan kita tidak menjamin sikap lulusannya bersikap ilmiah. Sikap ilmiah itu berkembang di lingkungan yang kondusif setelah lulus.
Ya, di kuliah kedokteran memang tidak ada mata kuliah Logika. Filsafat kedokteran diajarkan sangat elementer dan kemudian fokus di bio-etik. Bahkan Epistemologi dan Filsafat Ilmu pun tak tersentuh.
Sementara di pendidikan spesialis banyak porsi praktiknya dan berpikir ilmiah seperti kajian jurnal terkait yang dipraktekkan itu. (Makanya saya heran kok ada spesialis, bahkan ada profesor, yang justru pakai teori konspirasi dibanding metode ilmiah? Kadang memang pakai jurnal, tapi main comot dan menyembunyikan sebagaian isi jurnalnya tadi).
Nah, ketika kengawuran-kengawuran itu dipublikasi lalu ditangkap masyarakat, ya masyarakat mengkonsumsi kengawuran pula.
Saya pikir ini bukan lagi sekadar soal etika, harus ada pendisiplinan aturan. Sudah ada aturan soal interaksi dokter-pasien. Belum ada aturan soal interaksi dokter-publik. Maka wajar ada akun dokter, masih muda, yang isi channelnya banyak ngawurnya.. hanya untuk dapat rating tinggi.
Saya membayangkan, meski ini tidak gampang, aturan terkait statement publik seorang dokter saat ia berlaku sebagai dokter. Ingat, dokter itu seharusnya bukan gelar pribadi tapi gelar profesional. Profesionalitas menuntut kedisiplinan.
Setidaknya publik tahu, kapan seseorang bicara sebagai dokter, kapan bicara sebagai pribadi.
Terkait dengan itu, perlu dipertegas, bahwa dokter adalah gelar profesional, bukan gelar kehormatan/pribadi. Jadi perlu diatur agar yang menggunakan gelar itu adalah yang secara profesional legal memenuhi syarat dan masih berpraktik secara profesional, baik klinis maupun akademis. Setidaknya profesi klinis dan akademis memiliki kontrol yang lebih baik daripada gelar kehormatan kultural yang gampang sekali dibajak oleh oknum medis sendiri.
Saat ini, STR merupakan tanda seseorang terdaftar sebagai dokter resmi, berhak menyandang gelar dokter, berlaku sebagai dokter. Setiap 5 tahun seorang dokter harus memperbarui STRnya dengan mengumpulkan syarat2 yang cukup banyak seperti bukti melayani pasien, sertifikat pendidikan berkelanjutan, workshop, seminar dll yang mengkondisikan ia harus terus update ilmu.
Lha masalahnya, oknum tanpa STR itu kemana-mana ngomong medis yang ngawur sambil bawa2 gelar dokternya. Padahal begitu tanpa STR ia sudah bukan dokter lagi dan (seharusnya, menurut saya ) nggak boleh bawa2 gelar dokter.
Yang perlu ditegaskan adalah penegakan aturan ini.
Apa perlu ditulis dr (purn) agar dibedakan mana dokter aktif dan dokter non-aktif? Tentu agak beda dengan tentara yang setelah purnawirawan tidak bisa aktif lagi (benarkah demikian?), dokter bisa aktif lagi kalau memenuhi syarat dan mendapat STR.
Sebelum adanya perbaikan, saya menghimbau kepada teman-teman saya sejawat dokter, agar proporsional dalam komunikasi publik. Kalau saat berstatement terkait medis, berlakulah secara profesional dengan kaidah ilmiah-kedokteran.
Bila bicara soal hal lain, tempatkan diri sebagai pribadi. Wajar kok sebagai seorang pribadi punya preferensi selain profesinya seperti pernah saya tulis di sini:
Saya sedikit banyak berusaha menempatkan diri begitu. Saat bicara di luar profesi dokter saya, sedapat mungkin tidak bawa2 gelar dokter, seperti saat bikin status soal spiritualitas, filsafat, seni, budaya, politik, agama dll.
Semoga ada perbaikan
 
Sumber : Status Facebook Alim
Saturday, December 5, 2020 - 13:15
Kategori Rubrik: