Perang Rebutan Kebenaran

ilustrasi

Oleh : Eddy Pranajaya

Mengamati kehidupan manusia sejak mereka dilahirkan sampai tumbuh menjadi dewasa, tua, dan mati. Ternyata tanpa pernah kita sadari, sejak anak-anak berusia dini, hidup mereka sudah dikuasai ego, yakni sifat ingin jadi yang nomer satu, ingin lebih diperhatikan, disayang, dipuji, dan ingin menang sendiri, mementingkan diri sendiri.

Dibalik sifat mementingkan diri sendiri, pada setiap manusia pasti ada sifat kebajikan yang tersembunyi didalamnya. Tapi seringkali sifat kebajikan itu tidak mampu muncul keluar, akibat tertekan kebawah oleh sifat mementingkan diri sendiri yang lebih kuat menguasai dirinya.

Maka terjadilah pertentangan didalam diri, di satu sisi mereka melakukan segala sesuatu untuk kepentingan dirinya sendiri, dilain sisi mereka ingin menunjukkan bahwa mereka masih memiliki sifat kebajikan. Satu sisi ingin memuaskan nafsu dirinya sendiri, dilain sisi ingin menunjukkan bahwa dirinya masih memiliki kebajikan, agar mendapatkan pujian dari orang lain.

Maka lahirlah perbuatan-perbuatan yang sebenarnya menghamba hawa nafsu, tapi yang dengan cerdik dan licik berusaha ditutupi dengan topeng kebajikan, berupa kesucian semu, untuk mengelabuhi pandangan sesamanya.

Perbuatan-perbuatan menghamba hawa nafsu kepentingan diri sendiri yang berusaha untuk ditutupi dengan sedikit kebajikan inilah yang melahirkan kemunafikan.

Seperti seekor bunglon, yang demi keselamatan dirinya selalu menyamarkan dirinya didalam alam lingkungannya, atau seperti burung-burung kecil yang selalu merasa lebih aman didalam sebuah kelompok besar ; demikianlah manusia selalu berusaha menempatkan dirinya ditengah-tengah kelompok / komunitas yang menamakan dirinya "komunitas manusia suci".

Karena didalam "komunitas orang-orang suci", mereka dapat menyembunyikan nafsu keegoisannya dengan lebih sempurna. Perbuatan yang sebenarnya menghamba nafsu, dapat dengan aman disembunyikan ditengah-tengah kelompok yang sedang memperjuangkan kesucian dan kebajikan.

Para pendeta, ustad, pengkhotbah, penginjil, para agamis yang mempertontonkan busana keagamaan, dsbnya, mereka ada ditengah-tengah komunitas orang suci, ditengah-tengah orang yang mengidamkan hidup suci ; benarkah tujuan keberadaan mereka untuk menebarkan kebajikan atau sebaliknya untuk menghamba kepada nafsu duniawinya ??? ( simak sendiri bagaimana pola hidup mereka "para suci" itu 

Otak dan akal manusia tidak kekurangan bahan untuk mencari "kebenaran" demi menyamarkan nafsu mementingkan dirinya sendiri. Ada saja alasan yang dipercaya oleh diri sendiri bahwa perbuatan yang dilakukannya benar dan demi memperjuangkan "kebenaran".

Benar bagi dirinya sendiri, tapi belum tentu benar bagi orang lain. Benar bagi nafsunya sendiri !!!

Maka itulah yang disebut sebagai KEBENARAN NAFSU, segala sesuatu yang mendatangkan enak, senang, keuntungan dan kemuliaan bagi AKU, itulah yang BENAR !!!

Dengan demikian muncullah kebenaran demi kebenaran ( lebih tepatnya pembenaran demi pembenaran ) yang berasal dari dirinya sendiri, setiap perbuatan selalu dianggap benar oleh dirinya sendiri. Maka berasal dari pembenaran diri sendiri itu, lahirlah perseteruan, perdebatan, sampai peperangan yang tidak pernah berakhir.

Sejarah telah mencatat bahwa peperangan dalam nama agama tidak pernah berakhir, terjadi dimana-mana, sejak ribuan tahun yang lalu, sampai hari ini ; peperangan membela dan memperjuangkan "kebenaran" agama masing-masing masih terus terjadi.

Siapakah yang jadi korban ???

Para pengikutnya yang jadi korban, tapi para boss besar berpesta pora setiap hari, bukan ?

Ujung-ujungnya apa ???

Apalagi kalau bukan sarana memuaskan diri sendiri, menghamba nafsu sendiri ? Uang, kemuliaan, kedudukan, kesombongan, kenikmatan duniawi, dsbnya ? Semuanya demi AKU.

Kalau sebuah komunitas suci, ternyata adalah sarang berkumpulnya para munafik, kenapa harus terus bertahan berada ditengah-tengah serigala berbulu domba ???

Kalau tidak berani berjalan sendiri untuk menjalani kehidupan yang penuh kepalsuan ini dan berani untuk tidak menyembunyikan kemunafikan ditengah-tengah kesucian semu ; bagaimana mungkin KESADARAN akan mampu tumbuh didalam diri untuk menjadi diri sendiri apa adanya ???

Jadi diri sendiri itulah KESADARAN yang sesungguhnya, dengan kekurangan dan kelebihan yang kita miliki, apa adanya, tanpa perlu ada yang disembunyikan. Benar atau tidak benar, tidak perlu harus diakui sebagai kebenaran oleh orang lain, atau pun sebagai kebenaran menurut diri sendiri.

Karena KESADARAN tidak memerlukan pengakuan atau pembenaran dari orang lain atau merasa diri sendiri yang paling benar.

KESADARAN tidak membutuhkan komunitas untuk menyembunyikan diri ; melainkan berani tampil beda sesuai jati diri sendiri.

Sumber : Status Facebook Eddy Pranajaya

Tuesday, June 2, 2020 - 09:15
Kategori Rubrik: