Perang Propaganda Soal Vaksin

ilustrasi
Oleh : Fadly Abu Zayyan
(Plandemik Yang Gagal dan Kematian Thanos)
Narasi2 dalam video seperti di bawah inilah yang menyebabkan awam menjadi sesat pikir. Dan kemudian berujung pada penolakan vaksin. Video satu dengan yang lain dipotong2 untuk membangun propaganda sesat. Padahal Barcode yang dimaksud oleh Erick Tohir pada video ini adalah yang tertera pada kemasan Vaksin untuk memantau pendistribusian dan perlakuannya yang memang harus Prudent. Bukan barcode dalam chip yang dimasukkan ke dalam cairan vaksin yang disuntikkan sebagaimana Teori Konspirasi yang mereka anut.
Jujur saja saya termasuk yang meyakini bahwa Covid-19 ini adalah Plandemik. Hal ini berdasar pada penyataan Jokowi di forum global pada tahun 2018 lalu bahwa Thanos ingin mengurangi populasi dunia. Ditambah lagi dengan RUU penanganan Coronavirus yang telah digodok oleh US Congress setahun sebelum meletusnya Pandemik.
Namun begitu tidak semua hal yang sifatnya konspiratif dan "wow" harus ditelan mentah2. Perlu telaah jernih untuk menganalisanya. Salah satu contohnya tentang penanaman chip dalam vaksin untuk dimasukkan dalam setiap manusia di muka bumi agar bisa dikontrol atau bahkan di "shut down". Lha wong Amerika untuk mengatur warganya sendiri perkara Pilpres saja sulit. Kok ini ada cerita mau mengontrol seluruh umat manusia melalui chip.
Beda cerita dengan rencana Bisnis Vaksin oleh Oligarkhi Global. Ini jauh lebih masuk akal. Apalagi jika dihubungkan dengan segera berakhirnya era Energi Fosil yang akan digantikan dengan Lithium. Tentu Oligarkhis itu mencari komoditas pengganti yang bisa dikapitalisasi. Dan mereka memilih sektor kesehatan umat manusia. Mungkin "Blue Print" atas agenda ini sudah terendus oleh Avengers dimana salah satunya adalah Presiden Jokowi. Makanya mereka segera merancang dan menandatangani Perjanjian Transparansi Keuangan 2017 di Hamburg untuk memutus mata rantai pendanaan kejahatan skala global.
Benar saja, ketika WHO mengumumkan Pandemik pada Maret 2020 lalu, Israel juga mendeklarasikan dalam waktu 60 hari akan menemukan vaksinnya. Dan yang terjadi di luar rencana justru ketidaksiapan Bill Gates (BG) sebagai tandem sekaligus wakil WHO untuk melaksanakan "Cyber Imun". Yaitu program penanaman chip yang kadung digadang-gadang dan bikin ngiler para Oligarkhis itu. Entah itu strategi PHP atau buying time dari BG saat ia mengatakan butuh waktu setidaknya enam bulan untuk bisa merealisasikannya.
Singkat cerita, kini yang tersaji dan siap di hadapan kita adalah Vaksin besutan Sinovac dan Pfizer. Dua raksasa farmasi beda kutub. Antara Amerika dengan China. Dan lagi2 isu kemanusiaan ini dipolitisasi. Mulai isu halal haram, tingkat efektifitas serta keamanannya. Perang Propaganda dimulai. Dan sepertinya fakta membuktikan bahwa Sinovac lebih aman setelah terjamin kehalalannya. Selain itu juga lebih terjangkau sehingga bisa didistribusikan secara gratis kepada rakyat. Sementara Pfizer justru telah memakan puluhan korban jiwa di Norwegia. Dan kejadian ini tentu merenggut reputasinya.
Sekarang pilihan di tangan kita. Mengakhiri Pandemik ini dengan memilih Vaksin yang teruji aman tentunya. Atau menolak Vaksin karena termakan Hoax dan Propaganda yang bisa jadi dibangun oleh pihak yang sudah merasa kalah bersaing dan gagal rencana antara Kapitalisasi atau Depopulasi!
Yang mungkin juga tidak banyak diketahui khalayak, Pfizer adalah perusahaan farmasi yang didanai oleh BlackRock. Sebuah lembaga yang mengatur dunia keuangan global dan terafiliasi dengan Benjamin de Rothschild. Sebuah nama yang tidak asing lagi dalam dunia Teori Konspirasi. Dan bisa jadi, ia pula yang dimaksud sebagai (organ) Thanos itu. Secara mengejutkan, Sabtu 16 Januari 2021 kemarin, dikabarkan ia telah menemui ajal. Dengan membawa Plandemik Yang Gagal.
*FAZ*
 
Sumber : Status facebook Fadly Abu Zayyan
Wednesday, January 20, 2021 - 08:45
Kategori Rubrik: