Perang Kabel (+62)

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Dunia digital khususnya terkait pengguna telpon seluler di Indonesia sedang heboh. Bak pertunjukkan film spy, masyarakat disuguhkan kecanggihan mereka dalam mengintai, melacak, membobol hingga mencuri data yang seharusnya bersifat private. Sistem manajemen keamanan jebol. Saling tuding menyalahkan. Sebegitu resikonya sebuah "rahasia" di simpan di dalam "kabel"? Inilah Perang Kabel.

Di era jadul, orang menyimpan rahasia kepada orang lainnya. Atau juga yang lebih terkenal lagi curhat kepada diary Si Buku Harian. Aman? Ya tidak juga. Lihat-lihat orangnya. Jika orang yang menitipkan dan dititipkan rahasia adalah seorang yang ceroboh, ya pasti terbongkar. Bumi berputar, era berganti. Rahasia disimpan di sebuah data komputer, CD maupun disket. Berganti lagi ke flashdisk hingga microchip dan kabel jaringan.

Di dunia kriminal, pencuri lebih canggih dan pinter dari pemilik rumah bahkan anggota polisi. Tapi sepintar-pintarnya pencuri, tidak ada tindak kejahatan yang sempurna, pasti memiliki kesalahan meski itu kecil. Maka orangtua kita sering menasehati jangan mencuri nanti ditangkap polisi. Meski tertangkap, pencuri tidak berhenti di situ saja, melainkan selalu belajar di mana kesalahannya dan bagaimana agar aman dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Jadi, pencuri itu berubah tapi bukan untuk menjadi baik melainkan berubah semakin canggih. Begitupun polisi akan terus belajar akan kecanggihan pencuri yang mengikuti zamannya. Demikian terus yang terjadi dalam dunia kriminal. Saya tidak akan masuk ke soal teknis perang kabel. Biar para inteligen yang akan mendalami teknis kasusnya. Saya sekadar menyampaikan telah terjadi "perang kabel" di era disrupsi.

Tentu kita masih ingat dengan revolusi industri 4.0. Di mana segala hal setiap sendi kehidupan kita masuk dalam perangkat gadget. Dunia semakin kecil dan hanya dalam satu genggaman saja. Jenis percakapan atau komunikasi kita dulu biasa dilakukan secara langsung, bertatap muka ataupun silaturahmi. Sekarang, apapun melalui kabel dan semua tersimpan di sana. Hidup kita ada pada sebuah akun.

Nama, alamat, usia, keluarga, pekerjaan, nomer rekening, asuransi, hingga sesuatu yang sifatnya private (pribadi dan rahasia). Dalam cerita spy, James Bond pernah tertangkap dan disekap. Ia sekuat tenaga bertahan tidak membocorkan rahasia, meski harus disiksa. Begitu pun kisah seorang Rambo atau superhero lainnya di film-film layar lebar. Namun sekarang, nyawa anda ada di hp. Sekali hp diretas atau dibobol, maka selesai.

Itu hanya terjadi pada masyarakat yang belum terlalu maju, ya seperti Indonesia. Di mana smart phone dianggap segalanya. Karena itu tadi. Nyawa kita ada di situ. Kita adalah hp kita, dan hp kita adalah kita. Senua-mua data diri tersimpan di hp, agar lebih praktis alasannya. Namun tidak demikian di negara maju. Hp sekadar sebagai alat kerja untuk mempermudah, bukan untuk menyimpan jati diri kita.

Maka, mereka cenderung membeli hp yang sesuai spek untuk pekerjaannya dan itu bukan sesuatu yang harus mahal. Karena ketika rusak atau hilang, mereka tidak masalah dan dengan mudah ganti hp baru. Bagaimana dengan masyarakat kita? Netizen +62 cenderung memilih hp yang serba komplit, meski tidak semua bisa ia gunakan. Semua data diri tersimpan di sana, bahkan malas membersihkan data usang yang sudah tidak penting.

Bagaimana ketika hilang dan rusak? Sudah seperti orang mati, tidak berdaya mau apa-apa. Jangankan rusak atau hilang, hp ketinggalan saja sudah uring-uringan berusaha untuk kembali mengambil hp nya. Hebat bukan? Sekali lagi itu karena menganggap hp adalah nyawa kita. Tontonlah you tube Raimas Backbone dengan tokohnya Bripka MP Ambarita.

Di setiap penggrebekan atau pun penangkapan, maka yang diperiksa terlebih dahulu adalah hp pelaku. Pelaku bisa berkata yang tidak faktual, namun rekam jejak digital di hp mengatakan semuanya. Kasus yang menimpa Densi pun bisa dialami oleh siapa saja. Dan itu sangat tergantung dari kepentingannya. Sangat aneh jika saya sebagai orang awam biasa kemudian dicuri dan sebar data diri saya, buat apa? Lagian saya orang baik-baik gak punya hater (sambil nyengir).

Bayangkan ini. Andai tidak ada yang rahasia, dalam arti tidak ada identitas penting di data tersebut, tentu kita merasa aman saja. Anggap kebocoran data sebagai kecelakaan biasa yang bisa menimpa siapa saja (kasuistik). Namun jika dipandang memang sudah terkait tindak pidana, apalagi merasa dirugikan, ya silahkan melapor. Pesan orangtua saya agar selalu berhati-hati, tidak ceroboh ataupun lalai. Bagaimana jika itu memang sengaja dan sudah diincar?

Ditelisik lagi, mengapa bisa sampai diincar? Jika terlihat sebuah rumah bagus dan lama diincar maling, maka maling akan menyesal karena di dalamnya tidak ada perabotan sama sekali (wong rumah kosong). Tidak ada yang dirugikan bukan? Saya kira Densi juga sudah paham lah akan konsekuensi dan resiko dari apa yang dilakukannya selama ini. Saling bobol, saling tuding dan saling lapor sudah menjadi bagian dari perang kabel ini.

Prinsipnya dalam perang kabel kita harus cerdas dan tetap hati-hati. Karena kesalahan kecil pun bagi lawan tetaplah kesalahan yang bisa jadi amunisi untuk nyerang balik. Dan tentu saja siap mental juga fisik jika dilaporkan, karena siapapun berhak mengadu. Ahok jadi contoh yang baik menghadapi gugatan dan tidak mencari panggung dengan kasus itu. BTW, denger-denger babak-babak dari perang kabel ini ke depan akan semakin seru. (Awib)

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Tuesday, July 14, 2020 - 10:45
Kategori Rubrik: