Perang Bharatayudha di Pilkada

Oleh: Muhammad Toha

 

Dalam watak aslinya, perebutan tahta memang kejam dan tak jarang berdarah-darah.

Di China, An Lushan, panglima perang Dinasti Tang yang memberontak, lalu berhasil mendirikan Dinasti Yan di wilayah utara daratan China, justru meninggal di tangan anak kandungnya sendiri An Qingxu, di tahun 757 masehi, hanya sekitar 2 tahun setelah berkuasa.

 

 

Padahal, Dinasti Yan yang didirikan oleh An Lushan, dibangun dengan darah dan nyawa. Sekitar 34 juta tentara dan penduduk China tewas selama masa perang hampir sepuluh tahun itu. Jumlah kematian terbesar akibat perang, setelah perang dunia II.

Tapi An Qingxu memerintah tak lama. Sahabat dan mantan teman seperjuangan An Lushan yang bernama Shi Siming berhasil membunuh An Qingxu lewat perang berdarah, dan segera mengambil alih kekuasaan.

Tapi ironis. Shi Siming menjadi kaisar dengan masa paling singkat. Tahun 761, Shi Siming tewas justru di tangan anak kandungnya sendiri, Shi Chaoyi yang tak lama kemudian, membawa Dinasti Yan ke jurang keruntuhan.

Sejarah mencatat, Dinasti Yan ini sebagai dinasti tersingkat di China, karena pembunuhan demi tahta yang berseri-seri.

Di Indonesia, siapa yang tak mengenal Sultan Agung Tirtayasa, Raja Kerajaan Banten yang kesohor dengan kepemimpinannya yang adil dan bijaksana, yang justru didongkel dari singgasana oleh anak kandungnya sendiri, Sultan Haji.

Sultan Haji sepertinya tak terima dengan keputusan Sultan Ageng yang menunjuk Pangeran Purbaya sebagai penggantinya.

Dengan bantuan bala tentara Belanda yang bersenjatakan mesiu dan meriam, pasukan Sultan Haji menggempur pasukan ayahnya dalam perang dahsyat yang menewaskan ribuan orang.

Sejarah mencatat..Sultan Ageng di pihak yang kalah, ditangkap lalu dijebloskan ke penjara Belanda di Batavia. Dan Sultan Haji pun menjadi Sultan Banten, tapi dengan menggadaikan sebagian besar kekuasaannya ke tangan Belanda. Konon, selama di penjara, Sultan Haji tak sekalipun menjenguk ayahnya hingga ajal.

Aroma perebutan kekuasaan lewat Pilkada yang akan dihelat tahun ini pun naga-naganya bakal “kejam dan berdarah-darah”.

Di Maluku Utara. Perebutan kursi Gubernur akan mempertemukan dua saudara kandung di palagan yang saling menjegal. KH Abdul Gani Kasuba, Gubernur Patahana yang awalnya menjadi Gubernur dengan bendera PKS, kini harus menghadapi mantan partai-nya sendiri. Lebih ironis, karna rival yang harus dihadapi adalah adik kandungnya sendiri.

Entah dosa politik apa yang telah dibuat oleh Abdul Gani Kasuba?

Hingga menjelang batas penetapan calon gubernur, PKS sebagai partai pengusung, tak segera memberikan lampu hijau untuk melanjutkan masa jabatan 5 tahun. Justru, Partai Bulan Sabit ini kepincut untuk mendukung Muhammad Kasuba, mantan Bupati Halmahera Selatan yang notabene adik kandung Sang Gubernur untuk melawan Sang Patahana.

Bersama PAN dan Gerindra, PKS memberi restu ke Muhammad Kasuba yang berpasangan dengan Abdul Madjid Husen sebagai calon Gubernur Maluku Utara.

Abdul Gani Kasuba yang “dilepeh” oleh PKS, segera mencari kendaraan politik yang bersedia memberinya tiket. Gayung bersambut. PDIP yang tak punya sosok kuat di Maluku Utara, langsung menunjuk Sang Kiai untuk memerahkan Maluku Utara. “Meskipun adik kandung saya maju, tetapi saya tidak gentar menghadapinya," kata Sang Kakak seperti dikutip Antara.

Panasnya perebutan kursi untuk maju Pilkada, juga kita rasakan di Jawa Barat, Jawa Timur dan daerah-daerah lain di Indonesia. Di Jawa Barat, Dedy Mizwar yang sebelumnya telah dapat restu dari PKS, tapi di ujung jalan, ditinggalkan oleh PKS yang mengalihkan dukungnya ke Sudrajat yang diusung Gerindra. Setali tiga uang dengan nasib Ridwan Kamil yang telah memperoleh rekomendasi dari Partai Golkar, tapi pasca Setya Novanto lengser, dukungan itu dialihkan ke Dedy Mulyadi yang berpasangan dengan Naga Bonar--Dedy Mizwar.

Di Jawa Timur, Abdullah Azwar Anas yang telah resmi mengantongi restu untuk jadi Wakil Gubernur, mendadak urung langkah karna terpaan isu moral yang dihembuskan lawan politiknya, lalu diganti oleh Puti Guntur Soekarno, keponakan Megawati Soekarno Putri. Di Jawa Timur, kita juga sedang disuguhi perseteruan La Nyala Mattaliti yang mutung dan geram, karna gagal memperoleh dukungan Partai Gerindra untuk maju Pilkada.

Nurdin Abdullah, Bupati Bantaeng di Sulawesi Selatan juga nyaris kehilangan tiket maju di Pilgub, karena Partai Gerindra yang sebelumnya telah memberikan restu, mendadak menarik rekomendasi dan mengalihkannya ke Wakil Gubernur petahana, Agus Arifin Nu’mang.

Jika teori politik menyebut, politic is the art, tapi dalam prakteknya: politic is the rat. Di habitat yang sebenarnya, perilaku politik tak ubahnya tikus, yang mengerat, menggigit dan menguyah apapun yang bisa dimakan. Tikus yang hidup berkelompok, tak segan berperang dengan kelompok lain untuk menguasai dan memperluas wilayah kekuasaan. Tikus yang menjadi pecundang, harus terusir dan menyingikir.

Tikus pun bisa membunuh dan menjadi pemakan daging sejenisnya. Dalam kondisi langka pangan yang parah, mereka jadi kanibal yang kejam dengan memakan tikus yang lebih lemah. Bahkan banyak kasus induk tikus betina memakan anaknya sendiri yang terlahir cacat.

Jadi apa bedanya politik dengan tikus? Kurang lebih sama sih.

Yang menjadi pembeda, jika kita bisa menjalankan politik ini dengan bermartabat, serta meraih kekuasaan itu dengan cara yang beretika. Politik yang tak menghalalkan segala cara demi tahta dan kuasa, dan politik yang tak menggunakan tipu muslihat, hasutan, caci maki dan fitnah untuk memenangkan pertarungan.

Itulah beda hakekat politik manusia dengan tikus di sawah.

Pilkada ini adalah hajatan yang sah untuk “perang demi kekuasaan”; memuaskan hasrat berkuasa, sekaligus ikhtiar untuk mensejahterakan rakyat.

Kita manaruh harap, semoga Pilkada tahun ini, bisa melahirkan “raja-raja” yang adil dan bijaksana yang mampu mensejahterakan rakyat, dan bukan sebaliknya, sebagai perampok hak-hak rakyat.

 

(Sumber: Facebook M Toha)

Sunday, January 14, 2018 - 21:45
Kategori Rubrik: