Peran Soekarno dalam Perkembangan Islam Dunia

ilustrasi

Oleh : Andrezeko

Tahun 1956, Presiden Sukarno tengah melakukan kunjungan kenegaraan ke Moskow. Saat itu di bawah kekuasaan Presiden Nikita Khrushchev. Dalam kunjungannya, Presiden Sukarno ingin mampir di kota St Petersburg, saat itu masih bernama Leningrad, karena terkenal dengan keindahan arsitekturnya.

Saat itu Presiden Sukarno melewati Jembatan Trinity Bridge, dalam pandangannya tertuju ke sebuah bangunan berkubah biru. Ia menduga, bangunan dengan menara menjulang tinggi ini adalah masjid. Ia meminta agar diantarkan menuju lokasi tersebut, tetapi tak diindahkan oleh para pengawalnya.

Karena penasaran, akhirnya Presiden Sukarno secara diam-diam berangkat menuju bangunan tersebut. Ternyata dugaannya benar, ternyata bangunan tersebut adalah sebuah masjid yang berubah fungsi menjadi gudang. Saat Khrushchev bertanya bagaimana kesan mengenai Leningrad, sang Presiden malah membahas kondisi Masjid Biru yang baru ia kunjungi. "Presiden Sukarno meminta masjid ini dikembalikan sesuai fungsinya. Hanya sepuluh hari setelah kunjungan Presiden Soekarno, bangunan ini kembali menjadi masjid," cerita imam Masjid Biru St Petersburg Zhapar N. Panchaev.

Dalam pertemuan dengan Imam Mesjid, Presiden didampingi anggota parlemen Partai NU, (ketika itu) KH Zainul Arifin mendapat penjelasan mengenai sejarah mesjid yang nama resminya adalah Jam’ul Muslimin. Masjid Biru mulai dibangun tahun 1910. Ketika dibangun, umat Islam di Rusia berjumlah hanya 8.000 orang. Pembangunan masjid dilakukan setelah dibentuk komite khusus tahun 1906 yang diketuai Ahun Ataulla Bayazitov. Penyumbang terbesar tercatat Said Abdoul Ahad Amir Buharskiy yang membiayai semua pekerja pembangunan masjid. Pembangunannya memakan waktu sebelas tahun. Saat diresmikan penggunaannya pada 1921, mesjid yang diarsiteki oleh dua orang nasrani bernama Vaslilier dan Alexander Von Googen ini tampak mirip dengan sebuah masjid di Samarkand, Asia Tengah. Dua menaranya menjulang setinggi 48 meter sedangkan kubahnya yang dibalut keramik warna biru sangat gagah dengan ketinggian 39 meter.

Usai mengunjungi mesjid, Sukarno lagi-lagi berdiplomasi ke pemerintah Uni Soviet untuk membuka kembali Mesjid Jam’ul Muslimin dan umat Muslim Uni Soviet diizinkan beribadah di dalam Mesjid Raya mereka tersebut. Peristiwa ini dicatat oleh sejarah umat muslim Rusia hingga kini. Ketika diwawancara oleh media masa AS mengenai keadaan penduduk muslim Uni Soviet. sebagai tokoh Islam Indonesia Zainul Arifin menjawab dalam bahasa Inggris:

“Here the Moslem religion resembles a lamp in which the light has almost died out and the oil has not been renewed.” (Di sini agama Islam seperti lampu minyak hampir padam yang minyaknya belum diganti).

Dibukanya kembali Mesjid Biru sebagai pusat kegiatan umat muslim Uni Soviet-pun bagaikan lampu minyak baru, penerang bagi Islam.

Sampai detik ini, mesjid St Petersburg menjadi tempat favorit untuk beribadah bagi Muslim di Petersburg. Mesjid yang kini terkenal sebagai Mesjid Biru sering kali diulas sebagai Mesjid Sukarno.

Apa yang saya tulis ini pasti tidak mampu menggambarkan secara persis 100% peristiwa itu. Namun ada dugaan titik simpul yang bisa kita tarik, bahwa sebagai seorang nasionalis sejati, Sukarno ternyata juga adalah seorang pembela Islam yang begitu relijius--meski tanpa atribut jenggot panjang dan berjidat gosong. Relijiusitasnya ada di kedalaman, bukan artifisial di permukaan.

Sumber : Status Facebook Andrezeko

Thursday, July 2, 2020 - 10:30
Kategori Rubrik: