Peralihan Soekarno ke Soeharto Bagai Emas Ditukar Tembaga

ilustrasi
Oleh : Tito Gatsu
 
Seperti Sudah diuraikan sejak awal Kejatuhan Suharto adalah karena merubah Garis besar Haluan Negara.
Kejatuhan Suharto menjadi Kejatuhan multi dimensi dari mulai moral, kepribadian , harga diri dan budaya bangsa hingga kekayaan Negara yang dihambur- hamburkan untuk Negara Imperialis terutama Amerika Serikat dan sekutunya serta keluarga dan kolega nya.
Mengganti Garis besar haluan Negara dari Tri sakti yang sangat anti Kapitalisme dan Imperialisme menjadi Trilogi Pembangunan yang pro kapitalisme dan Imperialisme.
Padahal Garis besar haluan Negara dengan konsep Trisakti sudah dipikirkan lama dan matang oleh founding Father Kita Soekarno , Soekarno mempunyai gagasan Trisakti dari buah pemikirannya yang sudah dimulai sejak Tahun 1930 melalui :
"Indonesia Menggugat" (Imperialisme dan Kapitalisme), Imperialisme di Indonesia, Pergerakan di Indonesia, Partai Nasional Indonesia) adalah pidato pembelaan yang dibacakan oleh Bung Karno pada persidangan di Landraad, Bandung (1930). Bung Karno bersama tiga rekannya, yaitu Gatot Mangkupraja, Maskun, dan Supriadinata yang tergabung dalam Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) dituduh hendak menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda.
Dari balik jeruji penjara, Bung Karno menyusun dan menulis sendiri pidato tersebut. Isinya adalah tentang keadaan politik internasional dan kerusakan masyarakat Indonesia di bawah penjajah. Pidato pembelaan ini kemudian menjadi suatu dokumen politik menentang kolonialisme dan imperialisme.
Kemudian melalui bukunya 'Menggapai Indonesia Merdeka". Buku ini ditulis sebagai respon atas tulisan Profesor Veth “Bahwa Indonesia tidak pernah merdeka, dari zaman purbakala sampai sekarang. Indonesia akan tetap menjadi negara jajahan.
“Indonesia harus dan pasti merdeka, jembatan emas kemerdekaan harus segera dibangun oleh Indonesia, dirumuskan dalam 10 poin yaitu keadaan kongkrit Indonesia saat itu yang berada dalam penjajahan belanda namun mempunyai potensi ekonomi yang besar alangkah indahnya jika bisa merdeka dan mengelola potensi ekonomi secara mandiri, di dalamnya juga berisi tentang ideologi Marhean (Marheanisme) adalah salah satu ideologi Bung Karno yang menentang penindasan manusia dan bangsa dan dogma Marhean ini sebagai pemersatu bangsa untuk melawan penjajahan Belanda.”
Sukarno adalah tokoh langka dan pada saat kemerdekaanpun hanya dia yang dicari oleh para pemuda untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia dan pada saat Indonesia belum merdekapun Sudah dikenal dan disegani diseluruh dunia.
Beliau sangat ditakuti Belanda. Bisa dibayangkan ketika Indonesia belum merdeka Bung Karno berpindah-pindah tempat dibuang Belanda agar tak menimbulkan. Pergerakan dari mulai ditahan di Bandung , Digoel (Papua), Bengkulu dan Sumatera hingga ke Ende di Nusa Tenggara Timur tapi justru ditempat pembuangan Itu Bung Karno bisa menjadi penyemangat bagi para pemuda setempat dan mempersatukan Indonesia.
Seperti sudah Saya uraikan dalam tulisan saya sebelumnya Riwayat Jendral Suharto dan Orde Baru bag.12.
Bung Karno bukan hanya tokoh idola bangsa Indonesia tapi juga dunia pemikirannya justru ditakuti karena banyak pihak asing yang Ingin menguasai Indonesia dan selama Masa pemerintahannya terus diganggu oleh Negara Imperialis terutama Amerika Serikat baik melalui CIA maupun pemerintahnya sendiri dengan membiayai Berbagai pemberontakan dan menciptakan resesi ekonomi diakhir kekuasaannya.
Yang sangat menyakitkan kejatuhannya Karena konspirasi pengkhianatan bangsanya sendiri (antara PKI dan TNI AD dibawah kepemimpinan Suharto yang akhirnya dimenangkan Jendral Suharto) Suharto sendiri yang menyebutkan bahwa kepemimpinannya disebut Orde Baru.
Seperti sudah saya ceritakan dalam Riwayat Soeharto sebelumnya . Soeharto mengganti Garis Besar Haluan Negara Trisakti menjadi Trilogi Pembangunan , mari kita review kembali.
Trisakti yang mencakup:
1.Berdaulat dalam politik,
2.Berdikari di Bidang Ekonomi,
3.Berkepribadian dalam kebudayaan
Konsep tersebut memang membutuhkan waktu tapi kita bisa lihat negara yang bisa membangun diatas kaki sendiri bisa menjadi Negara yang sangat maju sekarang, seperti Jepang, Korea bahkan Cina menjadi Negara termaju di Dunia , sebenarnya Tak ada yang perlu dikhawatirkan dengan Indonesia yang mempunyai kekayaan Alam yang luar biasa.
Sebagai sebuah negara yang baru saja merdeka, Presiden Sukarno memiliki rencana besar dalam membangun Indonesia, yaitu membangun kemandirian ekonomi, politik, dan infrastruktur pemerintahan.
Impian tersebutpun dihancurkan Suharto dengan merubah Haluan Negara menjadi Trilogi Pembangunan yang sangat jelas Pro imperialis.
Trilogi Pembangunan adalah konsep pembangunan nasional yang dicanangkan oleh pemerintahan orde baru di Indonesia sebagai landasan penentuan kebijakan politik, ekonomi, dan sosial dalam melaksanakan pembangunan negara atau haluan Negara yang digagas Soeharto.
Trilogi pembangunan terdiri dari 3 ketentuan :
1. Stabilitas Nasional yang dinamis
2. Pertumbuhan Ekonomi Tinggi, dan
3. Pemerataan Pembangunan dan hasil-
hasilnya.
Trilogi pembangunan ini mengakibatkan akibat sebagai berikut :
1. Pelaksanaan stabilitas politik, menghasilkan regulasi dimana diterbitkan sejumlah peraturan yang mengakibatkan dikontrolnya pers, pembungkaman aksi mahasiswa dan pembatasan kebebasan berpolitik , anti terhadap semua perbedaan pendapat bahkan melakukan Genosida terhadap pemikiran dan dasar pemikiran tentang faham politik sehingga menciptakan pemerintahan yang otoriter dan oligarki kekuasaan bahkan menciptakan Suharto menjadi penguasa tunggal.
Dalam hal prosedural diterbitkan Undang-Undang tentang Organisasi Massa dan Undang Undang Partai Politik yang memaksa semua pihak mengikuti apa yang digariskan oleh pemerintah termasuk menghapus dan merobah sejarah bahkan genosida dengan tujuan stabilitas Nasional.
2. .Pertumbuhan ekonomi menghasilkan penanaman modal asing yang mengakibatkan hutang luar negeri tanpa dasar kemandirian dan kemajuan masyarakat secaa berkualitas walaupun memenuhi secara kuantitas untuk jangka waktu tertentu
Tanpa disadari, kebijakan penarikan investor yang sangat liberal ini mengakibatkan undang-undang Indonesia yang mengatur arus modal menjadi yang sangat liberal di lingkup dunia internasional.
Terciptalah maraknya industrialisasi untuk menyerap modal asing sebanyak-banyaknya, sayangnya Industri yang dibangun tidak memiliki konsep berdikari oleh karenanya menghasilkan pendapatan yang besar dalam jangka waktu tertentu tetapi menciptakan bom waktu yang suatu saat akan meledak
karena Indonesia tidak memiliki kemandirian dan landasan ekonomi secara makro yang kuat.
Kita lihat perusahaan asing berbondong -bondong masuk ke Indonesia pada era Tahun 1968 -1988 membangun Industri di Indonesia yang sebenarnya hanya seperti pindah tempat memanfaatkan tenaga kerja yang murah serta sumber bahan baku yang dekat dan sumber daya alam yang bisa didapat dengan cuma-cuma dengan hasil yang menguntungkan investor, selama Indonesia dianggap menjadi macan Asia kenyataannya adalah macan ompong tak ada satupun hasil Industri yang berlabel "made in Indonesia".
Bahkan Industri mobil dimana dari Indonesia menjadi pemasok pasar terbesar diseluruh dunia semuanya berlabel merk mobil jepang , Eropa dan Amerika, menyedihkan Indonesia cuma jadi antek asing.
Sedangkan tenaga kerja Indonesia Tak ubahnya seperti kacung dan antek asing .
Bayangkan negara penghasil minyak tapi mengimpor minyak bagi kebutuhan dalam Negri Itulah Indonesia yang begitu pro Imperialisme.
3. Pemerataan Pembangunan dan hasil- hasilnya.
Pelaksanaan ketentuan ini membuka peluang usaha, seperti Membuka jalur distribusi dan mitra usaha dengan para pemodal kapitalis karena ketentuan PMA harus menyertakan Perusahaan lokal konsep ini justru melahirkan KKN dan penggunaaan Kredit bank yang macet Karena Ketergantungan distribusi dan permodalan kepada Investor asing tersebut Tetap tinggi dan memperluas Ketergantungan masyarakat pada Industri dilingkungan mereka .
Pemerintah Orde Baru benar-benar menciptakan manusia Indonesia untuk tergantung kepada asing dan konglomerat sehingga terciptalah bentuk penjajahan baru yang dinamakan Neo kolonialisme dan Neo Imperialisme.
Suharto mulai berkuasa pada tahun 1967 setelah percobaan kudeta yang secara resmi dituduhkan kepada Partai Komunis Indonesia (PKI), pemerintah Suharto mengadopsi kebijakan yang sangat membatasi kebebasan sipil dan menerapkan sistem pemerintahan yang secara efektif membagi kekuasaan antara organisasi Golkar dan militer.
Pada tahun 1970, kenaikan harga dan korupsi memicu protes mahasiswa dan penyelidikan oleh komisi pemerintah. Suharto menanggapi dengan melarang protes mahasiswa, memaksa para aktivis di bawah tanah bisa dituduh PKI atau subversib.
Pola menjatuhkan beberapa lawannya yang lebih kuat sambil mengkriminalisasi yang lain menjadi ciri khas pemerintahan Suharto.
Soeharto melakukan beberapa reformasi elektoral. Dia mencalonkan diri sebelum pemilihan umum setiap lima tahun, dimulai pada tahun 1973.
Namun, menurut aturan pemilihannya, hanya tiga entitas yang diizinkan berpartisipasi dalam pemilihan: dua partai politik dan Golkar. Semua partai politik yang ada sebelumnya dipaksa menjadi bagian dari Partai Persatuan Pembangunan Islam (PPP) atau Partai Nasionalis Demokratik Indonesia (PDI).
Golkar, sebagai kendaraan politik utama Soeharto, secara resmi bukanlah partai politik. Semua pegawai negeri sipil senior wajib bergabung dengan asosiasi pegawai yang terkait dengan Golkar, sedangkan birokrat senior dilarang bergabung dengan partai politik. Dalam kompromi politik dengan militer yang kuat, Suharto melarang anggotanya memilih dalam pemilihan, tetapi menyisihkan kursi di badan legislatif untuk perwakilan mereka. Hasilnya, dia memenangkan setiap pemilihan yang dia ikuti pada tahun 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998.
Otoritarianisme ini menjadi isu di tahun 1980-an. Pada tanggal 5 Mei 1980, sebuah kelompok yang disebut Petisi Lima Puluh (Petisi 50) menuntut kebebasan politik yang lebih besar dan menuduh Suharto salah menafsirkan ideologi negara Pancasila. Itu ditandatangani oleh mantan tentara, politisi, akademisi dan mahasiswa. Pers Indonesia membungkam berita tersebut, dan pemerintah membatasi para penandatangan, beberapa di antaranya kemudian dipenjara.
Tahun 1995 dan 1997, Political and Economic Risk Consultancy (PERC) mencatat negara di bawah Presiden Soeharto sebagai negara terkorup di dunia.
Pembentukan, operasi, dan bertahannya negara korup dicirikan pola relasi kekuasaan politik, birokratik, dan bisnis, di mana Soeharto adalah pusatnya selama rezim Orde Baru (Orba).
Awal permulaan, dengan dalih kesejahteraan prajurit, banyak perwira militer terlibat dalam bisnis, selain politik. Dengan kepemimpinan Soeharto, mereka menguasai sejumlah BUMN “basah” seperti Bulog dan Pertamina, serta usaha berkedok koperasi dan yayasan.
Selanjutnya pemupukan kekayaan keluarga Soeharto digenjot secara besar-besaran melalui dua sayap. Pertama, sayap pengusaha kroni, perusahaan kerabat, serta perusahaan anak-anak dan cucunya. Kedua, melalui yayasan-yayasan yang dipimpinnya dan menghimpun dana dari berbagai pihak.
Sumber dana pemupukan kekayaan berasal dari APBN, BUMN nonbank, serta bank pemerintah dan Bank Indonesia (BI), eksploitasi sumber daya alam (SDA), suap dan upeti perusahaan asing.
Sebagai imbalan atas pemupukan kekayaan keluarga dan para pengusaha kroninya maupun dukungan politik terhadap Soeharto dan Golkar, maka lapisan birokrasi pemerintahan dibiarkan menjalankan praktik korupsi, sehingga membentuk piramida korupsi. Anggaran rutin dan duit utang dilahap, mafia peradilan beroperasi, serta pungli menyebar hingga ke desa-desa.
Bahkan semua peluang untuk Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) benar - benar dilegalkan dengan diterbitkannya beberapa keppres
MenunjukkanKeputusan Presiden (Keppres) Soeharto yang menguntungkan keluarganya, yaitu:
1. Keppres No 36/1985 tentang Pajak Pertambahan Nilai yang Terutang atas Penyerahan dan Impor Barang Terkena Pajak Tertentu Ditanggung Pemerintah.
"Keppres ini membuka kran KKN untuk pajak impor yang belum ada di Indonesia," dimana semua barang-barang yang diimpor tersebut dikuasai oleh anak-anaknya.
2. Keppres No 74/1995 tentang perlakuan pabean dan perpajakan atas impor atau penyerahan komponen kendaraan bermotor sedan untuk dipergunakan dalam usaha pertaksian.
"Dengan keppres ini, Taksi Citra milik Mbak Tutut yang menggunakan mobil Proton Saga mendapat pembebasan pajak pertambahan nilai,"
3. Keppres No 86/1994
"Keppres ini berisi pemberian hak monopoli distribusi bahan peledak yang diberikan kepada dua perusahaan, yaitu kepada PT Dahana untuk kepentingan militer sedang distribusi komersial diberikan kepada PT Multi Nitroma Kimia (sahamnya sebesar 30 persen milik Hutomo Mandalaputra, 40 persen milik Bambang Trihatmodjo melalui PT Bimantara, dan sisanya PT Pupuk Kujang)."
4. Keppres No 81/1994 tentang Penetapan Tarif Pajak Jalan Tol
Keppres ini menguntungkan kerabat dan kolega Soeharto. Karena pada saat Itu Tutut memiliki hingga saat ini jalan Tol layang Cawang - Tanjung Priok dan Tommy memiliki Jalan Tol Tangerang--merak yang sekarang dimiliki Astra.
5. Keppres No 31/1997 tentang Izin Pembangunan Kilang Minyak oleh Swasta yang Sebagian besar dimiliki anak-anak Suharto dan kroninya.
Keppres ini menguntungkan kerabat dan kolega Soeharto.
6. Keppres No 1/1997 tentang Koordinasi Pengembangan Kawasan Jonggol sebagai Kota Mandiri, dimana Kawasan Jonggol dikuasai putrinya Titiek dan Mamiek Suharto.
Keppres ini menguntungkan kerabat dan kolega Soeharto.
7. Keppres ini adalah Keppres No 93/1996 tentang Bantuan Pinjaman kepada PT Kiani Kertas
Perusahaan milik Bob Hasan dan Titiek Suharto.
Keppres ini merugikan masyarakat dan negara
8. Keppres No 42/1996 tentang Pembuatan Mobil Nasional untuk mobil Timor milik Tommy Suharto
Pada tahun 1996, Partai Demokrasi Indonesia (PDI), sebuah partai legal yang pernah digunakan oleh Orde Baru sebagai pendukung menyatakan kemerdekaannya di bawah Megawati Sukarnoputri.
Sebagai tanggapan, Soeharto berusaha untuk mendorong perpecahan atas kepemimpinan PDIP.
Pada hari Sabtu 27 Juli, massa termasuk tentara berpakaian sipil dan preman dari organisasi Pemuda Pancasila yang terkait dengan tentara memasuki gedung secara paksa. Menurut Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), lima orang tewas, 149 luka-luka dan 74 hilang.
Ketegangan politik di Jakarta dibarengi dengan kerusuhan anti-Tionghoa di Situbondo (1996), Tasikmalaya (1996), Banjarmasin (1997), dan Makassar (1997); sementara bentrokan kekerasan etnis pecah antara orang Dayak dan orang Madura di Kalimantan Tengah pada tahun 1997. Setelah musim kampanye yang penuh kekerasan, Golkar memenangkan pemilihan MPR Mei 1997 yang dicurangi. MPR yang baru dengan suara bulat memilih kembali Soeharto untuk masa jabatan lima tahun lagi pada bulan Maret 1998.
Pada paruh kedua tahun 1997, Indonesia menjadi negara yang paling terpukul oleh krisis keuangan Asia tahun 1997. Perekonomian mengalami pelarian modal asing yang menyebabkan rupiah Indonesia jatuh dari Rp 2.600 per dolar pada Agustus 1997 menjadi lebih dari Rp 14.800 per dolar pada Januari 1998. Perusahaan-perusahaan Indonesia dengan pinjaman dalam mata uang dolar AS berjuang untuk membayar hutang ini dengan pendapatan rupiah mereka , dan banyak yang bangkrut. Upaya Bank Indonesia untuk mempertahankan rezim float terkelola dengan menjual dolar AS tidak banyak berpengaruh pada penurunan mata uang, melainkan menguras cadangan devisa Indonesia.
Pada Januari 1998, pemerintah terpaksa memberikan bantuan likuiditas darurat (BLBI), mengeluarkan penjaminan simpanan bank, dan membentuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional untuk mengambil alih pengelolaan bank bermasalah guna mencegah runtuhnya sistem keuangan. Berdasarkan rekomendasi IMF, pemerintah menaikkan suku bunga menjadi 70% per tahun pada Februari 1998 untuk mengendalikan inflasi yang tinggi yang disebabkan oleh kenaikan harga-harga impor. Namun, tindakan ini membatasi ketersediaan kredit untuk sektor korporasi.
Pada tahun 1997 dan 1998, terjadi kerusuhan di berbagai wilayah Indonesia. Terkadang kerusuhan ini ditujukan terhadap orang Indonesia Tionghoa.
Human Rights Watch Asia melaporkan bahwa dalam lima minggu pertama tahun 1998, ada lebih dari dua lusin demonstrasi, kerusuhan harga, ancaman bom, dan pemboman di Jawa dan kerusuhan menyebar ke pulau-pulau lain. Sebuah sekolah Islam dan empat masjid dibakar sebagai balasan atas kebakaran Gereja oleh orang Kristen.
Insiden Trisakti
Pada awal Mei 1998, mahasiswa mengadakan demonstrasi damai di kampus universitas di seluruh negeri. Mereka memprotes kenaikan harga bahan bakar dan energi secara besar-besaran, dan mereka menuntut agar Presiden Suharto mundur.
Pada 12 Mei, ketika mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta kembali ke kampus pada sore hari setelah berdemonstrasi di dekat gedung parlemen, orang-orang berseragam Brimob Polri muncul di jembatan layang yang menghadap ke Trisakti. Mereka menembak dan membunuh empat mahasiswa dan melukai dua lainnya.
Pada 13 dan 14 Mei, kerusuhan di seluruh Jakarta menghancurkan banyak pusat perdagangan dan lebih dari seribu orang meninggal. Etnis Cina menjadi sasaran. Kerusuhan tersebut diduga dipicu oleh anggota militer Indonesia yang tidak berseragam. Rumah-rumah diserang dan, para wanita diperkosa oleh geng-geng pria yang mengenakan pakaian biasa.
Departemen Luar Negeri AS dan tim pencari fakta pemerintah menemukan bahwa "elemen militer telah terlibat dalam kerusuhan, beberapa di antaranya dengan sengaja diprovokasi". Namun, sebagian besar kematian yang diderita ketika supermarket milik Tionghoa di Jakarta menjadi sasaran penjarahan dari 13-15 Mei bukanlah orang Tionghoa, tetapi penjarah Jawa yang dibakar sampai mati oleh ratusan orang ketika terjadi kebakaran.
Lebih dari seribu dan sebanyak lima ribu orang tewas dalam kerusuhan di Jakarta dan kota-kota lain seperti Surakarta. Banyak korban meninggal di mal dan supermarket yang terbakar, tetapi beberapa ditembak atau dipukuli sampai mati. Kerusuhan menghancurkan tiga belas pasar, 2.479 ruko, 40 mal, 1.604 toko, 45 garasi, 383 kantor swasta, sembilan SPBU, delapan bus umum dan minivan,1.119 mobil, 821 sepeda motor, dan 1.026 rumah.
Seorang pengemudi taksi melaporkan mendengar seorang pria di helikopter militer mendorong orang-orang di darat untuk melakukan penjarahan. Pemilik toko di sebuah alun-alun mengklaim bahwa sebelum kerusuhan, para perwira militer mencoba mengambil uang perlindungan.
Seorang remaja mengaku dia dan ribuan lainnya telah dilatih sebagai pengunjuk rasa. Seorang anak jalanan menuduh bahwa petugas Kopassus memerintahkan dia dan teman-temannya untuk menjadi perusuh.
Ada laporan tentang tentara yang berpakaian seperti pelajar dan mengambil bagian dalam kerusuhan. Para saksi mata berbicara tentang pengrusakan yang diorganisir, dengan gerombolan pria dengan potongan rambut pendek mengarahkan para penjarah ke toko, mal dan bank, dan perusuh yang diangkut dengan truk militer. Korban pemerkosaan bersaksi bahwa perempuan etnis Tionghoa menjadi sasaran, dengan penyerangan yang direncanakan sebelumnya.
Pada tanggal 21 Mei Suharto pun lengser.
Sejak jatuhnya Orde Baru, ada berbagai inisiatif yang disponsori negara untuk menangani pelanggaran hak asasi manusia yang meluas sejak jatuhnya Suharto. Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Pusat Keadilan Transisi Internasional dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KontraS), Tindak pembunuhan dan kekerasan pada Tahun 1965 menyimpulkan bahwa, "pejabat senior pemerintah secara konsisten gagal mencapai kebenaran, akuntabilitas, reformasi kelembagaan dan reparasi untuk kejahatan yang paling parah.
Jenderal yang “kuat dan perkasa” yang selama kekuasaannya bisa memutihkan yang hitam dan menghitamkan yang putih, “yang mampu menyihir banyak orang pintar menjadi bebek-bebek, meneluh wakil-wakil rakyat menjadi gagu, dan membuat pers tiarap sekian lama”, kata KH A. Mustofa Bisri, pengasuh pesantren Rodlatut Thalibin, Rembang.
Penguasa yang sudah membantai jutaan nyawa mencuci otak manusia Indonesia selama 32 Tahun, pelaku penggantIan sejarah dan penghapus Nasionalisme Pendiri Negri ini Bung Karno dan menjual kekayaan Indonesia untuk Imperialisme. Dengan banyak darah dan air mata sejak berkuasa hingga lengser.
Semoga menjadi pelajaran agar Indonesia menjadi bangsa yang lebih beradab , berperikemanusiaan dan lebih maju kedepan .
Wallahu'alam bishowab
Sumber : Status Facebook Tito Gatsu
Thursday, October 1, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: