Penyangkalan atas Aksi Terorisme Lebih Bahaya dari Peristiwa Terornya

Oleh : Wahyudi Akhmaliah

Bagi para tetangganya, tidak ada yang mencurigakan dari keluarga Dita Oepriarto, tidak ada yang mengira mereka sanggup melakukan aksi terorisme yang brutal. Keluarga Dita adalah keluarga yang ramah kepada para tetangganya dan tidak segan untuk membantu.

Keluarga Dita Oepriarto juga adalah keluarga berada. Tinggal di perumahan elite, punya usaha yang berkembang, sekaligus berpendidikan baik. Mereka tinggal di sebuah rumah mewah, di Kompleks Wonorejo Asri, Kavling 22, Wonorejo Rungkut. Harga perumahan di kompleks itu rata-rata Rp. 1,2 miliar hingga Rp. 1,5 miliar.

Bom bunuh diri yang dilakukan Dita bersama isteri dan empat orang anaknya, dua laki-laki dan dua perempuan, di tiga gereja Surabaya itu mengubah asumsi yang selama ini beredar: di mana terorisme dianggap beririsan kuat dengan faktor ekonomi, yaitu kemiskinan.

Saat berita pengeboman itu muncul, di beberapa grup WhatsApp yang saya ikuti, alih-alih ungkapan duka cita, yang muncul justru suara-suara yang menganggap tragedi itu sebagai settingan dan pengalihan isu. Alih-alih berempati, beberapa orang lebih memilih untuk menyodorkan teori-teori pengalihan isu: mulai dari proyek terorisme dengan nilai miliaran rupiah, krisis ekonomi yang sedang dihadapi negara, hingga pengalihan isu dari gerakan tagar #2019GantiPresiden, dengan tidak lupa menyampirkan he he he dan ha ha ha atau emotikon melet dan tertawa-menangis

Di media sosial, informasi dan nada yang sama juga dipertontonkan. Jangan kira orang-orang yang berpikirtan tentang pengalihan isu ini merupakan orang yang tidak berpendidikan. Sebaliknya, banyak dari mereka justru berpendidikan tinggi.

Bagi saya, yang paling berbahaya dari peristiwa teror di atas justru bukan bom bunuh dirinya, melainkan penyangkalan bahwa kekerasan itu terjadi. Penyangkalan, yang kini bergerak massif di media sosial dan kemudian menyeruak diam-diam di grup-grup WhatsApp yang bersifat lebih tertutup, merupakan bentuk praktik upaya normalisasi bahwa cara-cara biadab itu tidak seburuk yang diperkirakan. Rasionalisasi yang digunakan atas dalih itu adalah teori konspirasi dan argumen setting isu oleh negara. Akibatnya, hal itu dianggap sebagai proses kewajaran. Dampaknya, kita tidak usah tanyakan bagaimana rasa empati, yang hadir justru rasa permusuhan dan amarah yang terpendam dengan terus-menerus mengabarkan informasi mengenai pengalihan isu atas apa yang dilakukan negara.

Jika terus dibiarkan, pengabaian menjadi wajah kekerasan yang lain dan bisa berbentuk massal, dan pada gilirannya akan membentuk pembiaran atas peristiwa-peristiwa terorisme yang terjadi. Pada titik ini terorisme memungkinkan untuk beranak pinak, menemukan ruangnya di tengah ekosistem banalitas penyangkalan tersebut.

Mematahkan upaya penyangkalan tersebut menjadi penting sebagai cara untuk memutus rantai normalisasi kejahatan—yang memungkinkan aksi terorisme mendapatkan dukungan luas. Caranya  setiap elemen masyarakat harus terus-menerus bersuara lantang dengan mengatakan bahwa aksi-aksi terorisme itu merupakan merupakan kejahatan, dengan suara tegas bahwa kita tidak akan pernah takluk oleh teror, sambil pemerintah terus berupaya melemahkan jaringan dan mengantisipasi aksi-aksi teroris lainnnya.

Di sisi lain, kampanye melawan penyangkalan atas tindakan terorisme itu, baik offline maupun online,  juga perlu terus dilakukan. Hal ini tidak terkait urusan politik atau siapa yang akan terpilih pada Pilkada 2018 dan Pilpres 2019, melainkan lebih kepada wajah kemanusiaan Indonesia dengan imajinasi kebangsaan yang harus terus-menerus dikokohkan.

Meski harus diakui, untuk Pilkada 2018 dan Pilpres 2019, kita mulai melihat ujaran kebencian dan hoax dipakai untuk kampanye dan dukungan, sebagaimana Pilkada 2017 khususnya Pilgub DKI. Kenyataan ini telah membelah masyarakat kita menjadi dua kelompok dengan segregasi kuat. Padahal, dari dua perpecahan ini, yang menanggung akibatnya adalah kita semua.

Di tengah situasi tersebut, terorisme mengatasnamakan agama sekali lagi akan memiliki celah dan terus menemukan pembenarannya. Sementara para predator politik minim empati dan selalu saja berteori konspirasi yang akan menangguk untung.

Sumber : geotimes

Wednesday, May 23, 2018 - 13:30
Kategori Rubrik: