Penyakit Karena Kepo

Oleh: Sunardian Wirodono

 

Hari ini, yang lagi trending kutipan kata-kata Ibnu Sina; “Delusi, atau waham, adalah setengah dari penyakit, ketenangan adalah setengah dari obat, kesabaran adalah awal dari penyembuhan.” Dalam konteks waktunya, di medsos diterjemahkan menjadi ‘kepanikan adalah setengah dari penyakit,…’

Tak hanya Fahira Idris, orang yang tak suka Fahira Idris pun kutipannya sama. Aneh juga, padal Ibnu Sina begitu dibenci kalangan Islam puritan, juga sebagian Sunni. Sina bahkan dianggap atheis. Karena pinter dan beda aliran, yakni penganut Mu’tazilah, fondasi lahirnya filsafat Islam dengan tokohnya seperti Al Kindi, Ibnu Farabi, dan Ibnu Sina. 

 

Aliran Mu'tazilah kurang diterima karena beranggapan akal manusia lebih baik dibanding tradisi (puritanisme). Penganut aliran ini cenderung menginterpretasikan Alquran secara lebih bebas dibanding kebanyakan umat muslim.

Ibnu Sina telah membaca Alquran dan sastra sejak umur 10 tahun. Dilahirkan 980 Masehi di Uzbekistan, ia diijinkan bebas menggunakan perpustakaan kerajaan Samanid, sebagai ucapan terimakasih Sultan Bukhara yang disembuhkan oleh Sina. Waktu itu, Sina berusia 16 tahun. 

Tapi kenapa Sina, yang dituding atheis itu kini banyak dikutip, bahkan di kalangan Suni? Entahlah. Itu baik-baik saja. Setelah agama sebagai dogma tak bisa memberi jawaban cespleng atas serangan tentara Allah bernama Covid-19, mungkin kutipan bernada ‘spiritual’ dicari orang. Apalagi setelah para jagoan seperti UAS tak lagi terdengar. Menurut Nadiem Makarim, konon UAS dan UAN tahun ini akan dihapus. 

Sebagai peletak dasar ilmu kedokteran, Ibnu Sina menulis buku fenomenal 'Al Qanun fi Tibb (The Canon of Medicine), buku kedokteran eksperimental paling penting dalam sejarah kedokteran. Menjadi kanon pengobatan dunia Muslim dan Eropa hingga abad ke-17.

Penemuannya paling mencengangkan, tentang sugesti atau adanya hubungan pikiran dan kondisi fisik. Jauh sebelum Carl Jung dan Sigmund Freud, Sina telah menemukan dasar-dasar psikologi modern. Mempelopori psikofisiologi, psikosomatik, dan neuropsikiatri. Membahas mengenai halusinasi, insomnia, demensia, dan vertigo. Ribuan tahun lampau, Ibnu Sina telah berpesan, "Jangan pernah katakan kepada pasien, bahwa penyakitnya tak dapat diobati. Sesungguhnya, sugesti kalian merupakan obat bagi pasien." 

Itu telah dipraktikkan ketika Sina menyembuhkan seorang pangeran dari Gurghan di Laut Kaspia. Alih-alih memberi obat, ia malah menyuruh sang pangeran menikah. Dan advise Sina manjur. Meski Sina sendiri, tak pernah menikah, hingga akhir hayat dan dikubur di Iran 1037. 

Suatu penyakit tak hanya datang karena lemahnya fisik seseorang, tulis Sina. Hal itu juga karena adanya keterkaitan jiwa. Berdasar teori itu pula disimpulkan, suatu penyakit bukan hanya karena makanan, virus, jamur, luka luar; Tapi bisa juga karena kepo, paranoid, cemas, gelisah, takut, baper, bahkan panik, sampai nggoblog-nggoblogin presiden segala. Padal itu pertanda goblig permanen.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Sunday, April 5, 2020 - 19:45
Kategori Rubrik: