Penunggu Pasien Harus Mahram

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Anda pernah sakit sehingga harus opname di RS? Kalau iya pasti tahu gimana rasanya sakit. Pasti nggak terpikir untuk berbuat mesum. Ngrasain sakit saja sudah setengah mati. RS syariah salah fokus. Dikiranya setiap tempat akan dijadikan tempat mesum oleh manusia sehingga orang sakit harus dijaga oleh mahramnya atau berjenis kelamin sama. Salah besar.
Banyak orang baik yang punya nilai-nilai positif yang ia yakini dan jaga. Tidak bertindak asal di sembarang tempat. Orang sakit butuh diobati, tidak butuh aturan dijaga siapa.
Sedari awal konsep RS syariah sudah salah fokus. Banyak pasien kita lari ke Penang atau Singapura karena persoalan pelayanan. Bukan soal halal haram. Di sana mereka diperlakukan secara lebih manusiawi. Peralatan dan mutu dokter kita tidak kalah. Tapi para pasien merasa lebih secure berobat ke sana.

Seorang teman senior dosen Elektro UGM bercerita. Suatu saat dulu ia divonis kanker colon setelah melewati pemeriksaan USG dan pemeriksaan lain di RS dalam negeri. Dia stress berat, dunia seakan segera berakhir, tinggal menunggu waktu ajal. Untung istrinya sigap. Segera ia mencari info pengobatan di Singapura. Memang biayanya hampir 3x lipat dari biaya di sini. Tapi karunia hidup dari Tuhan harus dijaga dan diusahakan semaksimal mungkin. Semua segera diatur. Berangkatlah mereka ke sana. 
Dengan pemeriksaan yang mirip di RS kita tapi lebih teliti, ternyata tidak ditemukan kanker seperti temuan di RS di sini. Teman saya kembali bersemangat, harapan hidupnya muncul lagi, dunia belum berakhir. Dia hanya disarankan untuk tidak makan pedas, dan menghindari beberapa makanan!!
Tidak ada tindakan.medis yang serius atau menakutkan. Hingga sekarang teman saya itu baik-baik saja, tidak ada masalah dengan ususnya. Bisa melaksanakan tugas sebagai asesor, anggota senat , dan juga banyak mengerjakan proyek

Itu..itu yang dibutuhkan pasien kita, pemeriksaan yang teliti, memberi rasa nyaman pada pasien dan penjaganya, perlakuan yang manusiawi, nguwongke. Sehingga mampu membuat orang sakit jadi sehat atau minimal merasa terobati, bukan makin stress dengan vonis kanker, atau semacamnya.

Teringat RS di Oklahoma,US, yang mewajibkan RS melayani sesuai kemampuan maksimalnya, tidak peduli pasiennya membayar asuransi sendiri atau lewat bantuan pemerintah. Kami pernah dilayani dengan sangat baik, penuh keramahan, profesional di RS kafir waktu istri melahirkan anak ke 1 dan ke 3. Ya kami yang bukan warga negara AS dapat layanan excellent dengan biaya gratis karena kami tidak punya insurance atau masuk kategori miskin. Tidak ada agama dibawa ke rumah sakit, yang ada bagaimana membuat pasien nyaman dan cepat sembuh.

Masalahnya utamanya adalah layanan prima. Bukan syariah atau tidak, bukan soal halal-haram.
Tidak RS saja. Fenomena salah fokus terjadi dimana-mana. Masalahnya apa, solusimya apa. Bank syariah, hotel syariah, wisata syariah, bukan jawaban kebutuhan masyarakat. Itu bisnis akherat yang tidak dibutuhkan.
Kita butuh solusi kehidupan di dunia, saat ini , bukan iming-iming surga dengan bidadarinya. Di dunia sudah banyak bidadari. Mengapa tidak membangun RSUD yang bersih, dengan layanan prima, dokter dan perawat yang profesional, menghormati pasien, biaya terjangkau?? 
Jangan-jangan RS kafir itu lebih syariah dari RS bersetifikat syariah? Ini butuh akal sehat untuk bisa membedakan esensi dan asesori.

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Tuesday, June 11, 2019 - 09:00
Kategori Rubrik: