Penukaran Uang Lebaran Bukan Riba

ilustrasi

Oleh : Shuniyya Ruhama

Seperti biasa, rasanya tidak ada kebiasaan yang sudah berjalan di masyarakat kita yang tidak mendapat gugatan. Dipertanyakan keabsahannya, kemudian dihukumi bid’ah, sesat, kafir dan sejenis itu. Biasanya juga dibarengi caci maki dan sumpah serapah. Tak ketinggalan pula disertai rujukan dalil-dalil yang tidak nyambung antara fenomena yang sedang dihakimi dengan rujukan dalilnya.

Fenomena terkini yang sedang digugat adalah penukaran uang lebaran yang dihukumi sebagai sebuah riba. Tentu saja hal ini menghenyakkan banyak orang dan membuat sebagian kalangan masyarakat kita kalang kabut.

Padahal, jika ditelusuri akan diketahui bahwa sumbernya adalah dari penyebar hoax atau orang yang belajar agama tanpa sandaran guru. Terlalu khusuk beragama tapi tidak dibarengi ilmu memadai, sehingga sering konslet dalam menerapkan dalil. Maka yang terjadi adalah tragedi kemanusiaan.

Memahami fenomena penukaran uang lebaran dikaitkan dengan riba adalah sesuatu yang tidak pada tempatnya, juga jelas-jelas tidak nyambung. Mengapa demikian, sebab yang sesungguhnya terjadi bukan sekedar uang dengan nilai tertentu ditukar dengan nilai yang lebih rendah.

Misalnya uang nominal Rp 100.000,- ditukar dengan uang Rp 5.000,- namun jumlahnya menjadi hanya Rp 90.000,- atau Rp 95.000,-. Ada variabel yang jelas sekali tidak boleh dihilangkan dalam hal ini. Pertama, yakni UPAH. Secara awam, dalam hal ini, “penjual” sudah bersusah payah menukarkan di tempat penukaran resmi, harus ikut antri dan memodali terlebih dahulu.

Tentu saja sangat wajar bila ada nilai tambah yang didapatkan dalam hal ini. Jika tidak mau, silakan antri saja di BI atau Bank setempat tanpa harus teriak-teriak riba. Dan jangan dilupakan juga ya, bahwa dengan sudut pandang ini juga, otomatis Bank juga lembaga riba loh, hehehe.

Sebenarnya, fenomena penukaran uang dengan mendapat nilai yang lebih rendah ini tidak hanya terjadi saat lebaran saja. Setiap hari juga ada. Mengapa hanya saat lebaran mereka menyebar fitnah? Aneh kan?

Kedua, uang merupakan alat tukar yang tidak hanya diukur dari kacamata nilai nominalnya saja. Namun juga kadang menjadi BARANG KOMODITAS. Jadi sah-sah saja, jika dalam hal ini ada uang senilai Rp 90.000,- yang dijual kembali dengan harga Rp 100.000,-

Ketiga, dalam kancah internasional kita juga mengenal perdagangan uang dollar. Sebagai contoh, uang USD 1 di Amerika, tidak ada perbedaan harga apakah dicetak tahun 2015 atau 2020. Tidak ada pengaruhnya apakah masih lurus baru atau sudah kusut. Nilainya sama. Tetap USD 1.

Namun, sudah berbeda nilai ketika ada di Indonesia. Uang USD 1 cetakan 2015 berbeda nilai tukarnya dengan USD1 cetakan tahun 2020. Demikian juga walaupun sama-sama cetakan tahun 2020 kalau yang satu lurus baru dan satunya lagi kusut atau terlipat-lipat maka nilainya akan berbeda.

Jadi, fenomena penukaran uang, baik di saat lebaran atau tidak, mengacu fenomena di lapangan tidak ada sangkut pautnya dengan dalil yang dijadikan rujukan. Ini murni permasalahan pemenuhan kebutuhan duniawi semata. Dalil yang paling tepat justru masuk di “antum a’lamu bi umurid dunyakum” (Kalian lebih tahu akan urusan duniawi kalian).

Selamat menikmati lebaran dan berbagi uang kepada sanak saudara yang dicintai tanpa harus takut riba.

Sumber : Status Facebook Shuniyya Ruhama

Saturday, May 16, 2020 - 13:00
Kategori Rubrik: