Pentingnya Pengamanan Obyek Vital

ilustrasi

Oleh : Alto Luger

Ledakan yang terjadi di Beirut, Lebanon bukan hanya menyebabkan korban tewas dan luka-luka, dan kerusakan infrastruktur publik, bisnis maupun pribadi, tapi juga merusak Pelabuhan laut Beirut yang merupakan pelabuhan utama import bagi Lebanon.

Kondisi ekonomi yang sudah sangat parah di sana, menjadi lebih parah lagi karena kerusakan akibat ledakan yang diperkirakan mencapai 3 milyar USD. Bukan hanya itu, rusaknya pelabuhan laut utama di Beirut ini akan membuat ekonomi di negara tersebut menjadi sangat sulit untuk 'recovery'.

Dari kacamata keamanan, apa yang terjadi di Beirut ini harus menjadi perhatian pemerintah di Indonesia tentang Pengamanan ObVit dan 'Choking Points'. Setahun yang lalu, kita pernah mengalami pemadaman se-pulau Jawa selama beberapa jam. Saya juga pernah tertunda kereta karena sistem sinyal kereta rusak di Klender sehingga berpengaruh pada seluruh jadwal kereta pada hari tersebut.

Atau bagaimana penumpukan massa di bandara Soekarno-Hatta di awal pandemi Covid-19 karena kurangnya tenaga medis yang diperlukan dalam rangka pengecekan dokumen perjalanan sesuai protokol Covid-19.

Kejadian di atas adalah contoh adanya vulnerability pada keamanan ObVit kita. Ketidaksiapan dalam mengantisipasi skenario ancaman di ObVit akan menciptakan 'choking points" yang akhirnya berpotensi melumpuhkan kota, dan negara.

Pemerintah kita harus belajar. Lembaga intelijen kita harus selalu bermain dengan skenario "What If", sehingga semua potensi kerentanan yang berpeluang dieksploitasi oleh orang/kelompok jahat itu bisa diidentifikasi, dan bisa dimitigasi.

Jangan tunggu sampai choking points kita dieksploitasi baru kita mau belajar. Kita cukup belajar dari kemalangan orang lain, atau negara lain.
#SiVisPacemParaBellum

Sumber : Status Facebook Alto Luger

Thursday, August 6, 2020 - 11:00
Kategori Rubrik: