Pentingnya Memahami Digital Footprint

Oleh: Samuel Henry

Sampai saat ini kita masih marak melihat postingan hate speech, kata-kata kasar, caci maki di internet diucapkan oleh banyak netizen. Tulisan kali ini mencoba memberikan perspektif kepada anda mengenai dampaknya bagi diri anda di masa depan, terutama untuk karir maupun kredibilitas anda nanti.

 Suka Nyinyir dan Bully?

Sepertinya masih banyak netizen yang menggunakan gaya nyinyir dan bully ketika mengeluarkan uneg-unegnya di dunia maya. Saya pribadi tidak terlalu memperhatikan hal tersebut apalagi menghakimi. Tindakan itu akan lebih merugikan si pelaku dan biasanya tidak lama segera akan dilupakan oleh orang-orang yang tadinya bereaksi untuk membully pelakunya itu sendiri. Jadi dianggap aman padahal belum tentu. Pola balas membalas seperti ini sudah marak di internet.

Tanpa sadar, tindakan seperti ini membuat bekas jejak kaki secara digital (digital footprint) si pelaku. Mungkin sebagian besar tidak sadar kalau mereka saat ini sedang dan sudah membangun reputasinya sendiri. Mungkin dianggap biasa saja dan tidak diacuhkan karena tidak berdampak apa-apa. Beberapa kasus memang mencuat, tapi itu kan hanya kasus tertentu, demikian anggapan pelakunya. Masih ingat dengan kasus ucapan Florence soal Jogja?

Sebagian lagi sadar bahwa mereka meninggalkan jejak tapi beranggapan tidak akan berdampak banyak bagi dirinya karena saat ini memang belum tampak pengaruhnya. Lagi pula, yang sadar akan digital footprint ini berpikir bahwa mereka tidak melakukan ungkapan kebencian (hate speech) yang berlebihan misalnya. Hanya mencoba membuat keunikan dan having fun! Namun, benarkah demikian adanya? Apakah anda saat ini tahu digital footprint anda membantu membangun kredibilitas anda secara positif atau malah menghancurkannya?

Reputasi Online

Mengapa reputasi online penting? Bukankah dunia maya bebas digunakan untuk apapun? Lagian saya masih belia kok!

Ya, bagi remaja atau orang muda yang masih belum memahami kekuatan dan pengaruh internet akan mempertanyakan pernyataan itu. Untuk saat ini memang reputasi atau kredibilitas tidaklah terlalu penting menurut mereka. Tapi bagaimana dengan 3, 5 atau 10 tahun kedepan? Ketika mereka mulai mencari pekerjaan? Atau peningkatan karir maupun perluasan bisnis?

Kita mengetahui bahwa pada umumnya semua ingin menampikan sisi terbaik dan positif dari diri masing-masing. Baik offline maupun online. Dan saat ini media online adalah sarana yang paling praktis untuk melakukan hal tersebut, dan ini berlaku untuk semua orang yang mau dan memahami pentingnya internet bagi dirinya.

 Kita coba pahami dulu konsep dari digital footprint: Semua yang ditemukan secara online mengenai seseorang. Ada jejak kaki digital yang sengaja anda tinggalkan dan ada yang tidak dengan sengaja anda buat juga. Yang sengaja disebut active digital footprint, disini pelakunya langsung adalah anda. Jadi jika anda memaki, mengkritik, memuji, menentang, membuat pernyataan mempertanyakan, atau apapun postingan anda maka semua itu adalah jejak aktif karena pelakunya adalah anda langsung. Termasuk postingan foto atau video tidak senonoh dengan subjek diri anda atau tokoh lain misalnya. Nah, kalau jejak pasif adalah komentar, balasan, pernyataan, kutipan seseorang tentang diri anda. Baik teks, cuplikan gambar bahkan video dari aktivitas/profil anda. Perlu anda pahami bahwa setiap jejak ini bisa membuat anda secara sadar maupun tidak sadar sedang membangun personal brand di dunia maya. Cepat atau lambat personal brand inilah yang bisa menjadi penentu bagi anda satu masa nanti. Kita tidak bisa memprediksikan kapan namun anda akan lebih paham dalam pemaparan saya selanjutnya.

Tips Membangun Reputasi & Kredibilitas Online

 Cara termudah untuk melihat jejak digital anda adalah dengan mengetikkan nama anda di Google. Coba lakukan sekarang dan lihat hasilnya. Apakah muncul? Kalau ada, dimana saja munculnya? Berapa link atau website online yang memberikan hasil pencarian dan bagaimana isinya? Bagaimana dengan hasil di FB atau Instagram misalnya?

Jika anda merasa tidak puas dengan tampilan pencarian karena tidak menampilkan hal yang positif maka sadarilah kalau hal itu karena perbuatan anda sendiri. Apalagi kalau anda menemukan jejak aktif mapun pasif yang buruk tapi terlupakan. Maksud saya adalah anda baru ingat setelah menemukannya. Yang anda lakukan dan anda katakan secara online memiliki konsekwensi tersendiri. Saat ini sudah umum kalau pihak sekolah dan perusahaan secara berkala melakukan cek rutin di internet (khususnya media sosial) untuk pendaftar baru. Setidaknya cara ini sudah lumrah di luar negeri. Kalau di lokal kita, menurut beberapa teman di bagian rekrutmen atau HRD, sebagian sudah melakukannya terutama ketika kandidat mulai masuk taraf penentuan. Jejak digital mampu membantu memberikan penilaian psikologis diri.

Menurut survey di luar negeri (bukan melulu di negara barat saja), 70% dari pihak pemberi kerja menolak lamaran dengan alasan konten yang dipertanyakan. Dan seperti biasanya, info alasan ini tidak sampai ke si pelamar. Sebaliknya, beberapa perusahaan bahkan memutuskan menarik pelamar yang terkesan biasa saja karena konten aktif maupun pasif tentang pelamar tersebut yang ditemukan secara online. Saya sendiri mengalaminya beberapa kali, kebanyakan memang terkait dengan aktivitas bisnis IT saya. Tapi ada juga yang tidak langsung ke aktivitas spesifik, akan saya paparkan nanti.

Untuk bisa meningkatkan daya saing anda dalam dunia kerja yang sangat kompetitif anda harus memberikan tampilan yang profesional dan positif. Jika anda saat ini masih dalam tahap belajar atau mahasiswa sekalipun tidak ada salahnya memulai memoles diri dengan sengaja. Apalagi saat diri anda belum punya kredibilitas atau reputasi online apapun. Jika anda anda sedang mencari kerja atau seorang pebisnis, maka anda memahami arti dan pentingnya sebuah persepsi bukan? Dan itulah yang anda harus bangun.

Pertama, apa yang tidak ingin dilihat perusahaan maupun mitra bisnis anda misalnya? Paling logis adalah kata caci maki tidak berdasar, ungkapan kemarahan dan emosional, foto yang tidak etis dan memalukan. Bahkan bagi remaja atau mahasiswa, kalaupun mau membuat kekonyolan yang lucu, tolong perhatikan apakah yang akan anda tempatkan di dunia maya itu memang cocok untuk konsumsi semua orang atau hanya teman dekat saja? Kalau teman dekat mungkin akan paham kebanyolan anda, orang lain belum tentu. Anda pasti pernah menemukan posting foto anak muda yang pamer binatang buruan bukan? Padahal binatang itu termasuk langka. Atau tampilan seronok dari ABG padahal masih sangat belia. Sekarang dirasa asyik-asyik aja, nanti bagaimana?

Bagaimana dengan gaya hidup? Pesta dugem, minuman, obat terlarang? Terkadang tidak secara eksplisit ditampilkan, tapi namanya persepsi, jika ditemukan dan pihak lain memiliki tudingan miring soal anda lalu bagaimana? Anda harus tahu menempatkan konten mana yang bisa diakses publik dan mana yang diakses oleh teman terdekat dan bisa anda percayai.

Tapi ada hal lain yang seharusnya anda ingat sebagai seorang individu: Jangan pernah menjelekkan perusahaan, teman kerja atau kolega anda di masa lalu apalagi saat ini. Itu adalah untuk konsumsi pribadi dan sahabat yang anda percayai. Walau tidak menjamin, namun setidaknya anda bisa menebak dari mana kebocoran jika terjadi. Ada kasus yang kita bahas soal itu nanti.

Jika kita lihat saat ini banyak yang suka memberikan gambar kurang bijak. Tidak melulu harus gambar porno, tapi gambar/meme menyindir, berisi diskriminasi dan menghasut juga bisa dikategorikan ke bagian itu. Bahkan gambar yang bersifat khusus atau konsumsi terbatas pun harus diperhatikan. Ingat kasus agen BIN yang malah memamerkan surat pengangkatannya beberapa waktu lalu? Walau dibagikan pada awalnya di kalangan terbatas, tapi lihatlah akhirnya keluar juga ke publik. Hasilnya? Anda tahu sendiri bukan? Bukan hanya dia saja yang diejek oleh publik, BIN sebagai lembaga negara juga kena getahnya. Padahal dia bukan berniat buruk dengan niatnya itu.

Membangun kredibilitas online juga bukan berarti memoles resume, CV atau cerita tentang diri anda dengan kebohongan. Itu malah akan membuat anda tidak dipercaya. Jujurlah soal kualifikasi dan skill anda. Sertakan bukti pendukung. Sebisa mungkin ada variasi seperti foto, video dan testimoni.

Membangun Citra Positif

Coba bangun dengan cara membuat profil diri anda dengan baik dan terencana. Tonjolkan kepribadian anda secara positif. Misalnya anda memiliki blog, dalam tulisan anda harus nampak anda mengedepankan hal yang baik, konten berisi motivasi misalnya. Atau sudut pandang kritis tetap sah anda tuangkan, tapi tidak mengarah kepada perdebatan kasar, plintiran apalagi fitnah. Apakah anda ingin dikenal dengan persepsi karakter buruk seperti itu?

 Kalau anda berharap dimasa depan nanti akan mendapatkan kerja yang baik, maka dari sekarang tampilkan kualifikasi anda dengan prestasi yang anda miliki. Tidak hanya di blog pribadi saja, gunakan media lain yang populer seperti Linkedin dan Facebook. Jika Linkedin lebih kepada tampilan profesional, maka Facebook lebih menampilkan keseharian dan cara anda berpikir/bertindak. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, memoles bukan berarti membohongi. Pengamat yang jeli akan bisa menemukan inkonsistensi dari profile anda di Linkedin misalnya dengan membandingkan jejak anda di Facebook, Twitter, bahkan Instagram jika anda punya.

Pahami bagaimana potensi media atau platform yang anda gunakan. Tiap media sosial mempunyai tujuan dan karakteristik berbeda walau ada kesamaannya. Misalnya: Tunjukkan kreativitas anda melalui tulisan atau catatan serta gambar via Facebook. Jika anda bisa membuat video, jangan lupa selain di Facebook anda bisa memuatnya di channel pribadi anda di Youtube. Sebenarnya yang anda tunjukkan tidak melulu harus dipoles sedemikian rupa. Malah terkesan kaku nantinya dan tidak orisinil. Disinilah kreativitas anda bermain. Sambil menulis tentang diri anda kenapa tidak sambil menyinggung soal skill dan kualifikasi anda? Seperti yang saya lakukan di artikel ini misalnya. Ketika anda memasang foto, anda pilih dengan membuat angle yang membangun persepsi positif bagi yang melihatnya. Apalagi video, maksimalkan dan tunjukkan kemampuan komunikasi anda disitu. Mulailah dengan topik yang anda minati, membahas tentang hobby anda juga bisa menjadi awal yang bagus. Hal seperti ini yang akan terlihat oleh orang lain.

Jika anda memiliki bukti tentang juara lomba dari masa sekolah/kuliah atau penghargaan prestasi kerja di masa lalu, jangan ragu untuk menampilkannya. Yang perlu anda perhatikan adalah seni penempatannya. Jika dibuat dengan baik maka kesan positif akan muncul, jika berlebihan dan tidak pada tempatnya maka kesan pamer dengan sombonglah yang akan datang. Anda bisa menggogling artikel tips dan trik tentang cara menampilkan diri via Google.

Strategi yang Bisa Digunakan

Mengenal lebih dalam dari platform media sosial atau internet lainnya adalah syarat awal. Belajarlah menggunakan pengaturan setting dari platform tersebut. Khususnya setting untuk privacy. Di Facebook misalnya, anda bisa mengatur setting untuk menampilkan posting anda. Apakah untuk konsumsi publik (ditujukan untuk perusahaan atau mitra bisnis misalnya) atau hanya kenalan saja. Tiap aplikasi yang anda gunakan menyediakan pengaturan privacy, jadi manfaatkanlah untuk mengatur konten mana yang anda izinkan untuk tampil.

Anda bisa saja menampilkan informasi pribadi, tapi atur dan jaga agar tidak terlalu terbuka. Upayakan jika ada pihak yang ingin mengontak anda maka mereka dapat melakukannya via email atau chat message misalnya. Kalaupun anda memberikan nomor telepon, pastikan nomor HP yang anda tujukan untuk publik dan bukan kerja. Bedakan agar anda lebih bebas mengatur akses komunikasi anda dengan baik dan tidak merasa terganggu oleh panggilan/pesan yang tidak anda inginkan. Toh saat ini HP sudah jamak menggunakan dual SIM bukan?

Terkadang banyak orang mengajak anda kenalan. Berhati-hatilah dan biasakan melihat profilnya dulu. Terkadang dorongan untuk memperbesar jaringan pertemanan sering membuat anda segera mengklik tombol persetujuan tanpa mereview profil orang tersebut. Ingat, semakin besar jaringan anda, maka akan semakin menampilkan siapa anda sebenarnya. Seni membangun kredibilitas anda secara online adalah membentuk cara anda ditemukan oleh pihak lain. Sebagai titik awal, fokuskan saja ke situs tertentu yang berpengaruh.

Saat ini sebagai contoh, saya punya profil di Linkedin, Slideshare, Facebook, Twitter, Youtube, Vimeo, Kompasiana selain website pribadi saya di www.samuelhenry.net. Yang mau melihat resume saya secara profesional biasanya mulai mencari di Linkedin langsung. Saya juga sertakan link ke platform lainnya dari website pribadi saya. Jadi, saya membuktikan aktivitas saya melalui slide seminar di Slideshare. Kegiatan saya juga saya posting di Facebook. Saya sengaja menyelipkan aktivitas rutin sehari-hari termasuk berbagai foto kerja dan pribadi saya (tentu saya pilih dan atur tujuan penampilannya). Beberapa video saya muat di Youtube, berupa hasil kerja, wawancara televisi dan juga beberapa video tutorial.

Kenapa saya menyertakan Kompasiana? Tanpa bermaksud menjilat, platform Kompasiana adalah sarana komunikasi ke publik yang menurut saya cocok untuk bertukar ide atau melempar pandangan untuk berbagai topik. Selain komunitas ini jumlahnya besar, manfaat lain adalah ekspose kepada saya banyak bermunculan setelah tulisan saya jadi highlight atau headline. Dan itu malah datang dari pihak lain. Jika platform website dan FB menampilkan lebih kepada siapa saya, saya memanfaatkan Kompasiana sebagai platform agar publik mengetahui sudut pandang saya lebih detail.

Memiliki website pribadi dengan nama sendiri mampu menampilkan citra positif. Nama pribadi sekaligus menjadi brand diri anda. Jika anda mengunjungi website saya, dalam hitungan 1 menit saja anda sudah bisa menyimpulkan siapa saya dan bidang apa yang saya tekuni. Dengan murahnya membuat blog/website pribadi anda bisa melakukan hal ini. Wordpress sebagai CMS praktis dan mudah sudah umum digunakan.

Jika anda suka menulis di Kompasiana, mengapa tidak anda buat link dari atau ke website anda tadi? Demikian juga ke media atau platform lainnya. Tujuan utamanya adalah agar pengunjung yang kepo (semoga karena tertarik ya) mudah menjejak anda selain menggunakan Search Engine tentunya. Jika anda ingin lebih lanjut dengan website/blog pribadi, tidak ada salahnya anda belajar SEO (Search Engine Optimization) untuk meningkatkan hasil pencarian anda via Google. Tapi penggunaan media media sosial lain juga sudah cukup menurut saya untuk user umum.

Berhati-hati setiap bergabung dengan sebuah situs. Itu adalah langkah antisipasi juga. Menggunakan nama alias, email yang berbeda, serta data yang dimodifikasi merupakan tips untuk gabung jika secara anda harus bergabung. Contohnya ketika saya harus masuk ke situs underground untuk tujuan riset, mau tidak mau saya gunakan cara tadi untuk menjaga keamanan saya. Intinya perlu dilakukan penanganan secara bijak dan hati-hati. Tidak main hantam kromo.

 Hantam kromo inilah salah satu sumber masalah. Secara emosional kita sering terpancing untuk menulis komentar balasan dengan tidak kalah kerasnya. Apalagi di komentar media sosial. Cara gampangnya adalah jangan posting pesan anda dengan gaya atau pilihan kata itu kalau anda anggap pesan tersebut tidak akan anda ucapkan didepan keluarga, teman, kolega atau pihak lain yang anda hormati. Jika anda memilih tidak mengatakannya ke mereka, lalu untuk apa anda posting online?

Pada gambar diatas (status seseorang  di medsos yang mengumbar kata tidak baik kepada Jokowi-red), kita bisa saja mengira bahwa dia masih terlalu muda dan akan dilupakan. Wow.. tidak sepenuhnya benar karena apapun yang sudah diposting akan tinggal dalam waktu lama di dunia maya.

 Pada contoh diatas saya ambil dari forum Kaskus. Jadi ini adalah contoh jejak pasif. Mungkin si pemilik account FB tadi sudah menutup akunnya karena dilaporin, tapi jejaknya masih terekam bukan? Bagaimana dengan postingan dari karyawan yang masih bekerja? Mungkinkah atasan bisa mengetahui? Sekilas tidak, tapi kalau ada netizen yang geram dan menghubungi perusahaan/institusi anda bagaimana? Nasi sudah jadi bubur?

 Ketika berdebat atau adu argumentasi dengan pihak lain, buat kebiasan baru yaitu berhenti sejenak dan baca kembali tulisan atau komentar anda. Pastikan tulisan anda minim bias atau maksud terselubung negatif lainnya. Bahkan dengan cara itupun anda belum tentu dipersepsikan baik, tapi akan ada pihak yang setuju dengan anda atau setidaknya berpendapat kalau anda bukan melakukan sebaliknya yang dituduhkan. Kata kasar, caci maki dan plintiran hanya menambah daftar musuh dan merekalah yang akan berpotensi merekam jejak anda secara pasif.

Kejadian Nyata

Terkesan pemaparan saya terlalu diatur sehingga merasa dibatasi? Mungkin karena anda belum terbiasa saja dan belum merasakan manfaatnya. Sempat saya singgung sebelumnya bagaimana saya mendapatkan manfaat dari profil positif di internet ini. Kalau berhubungan dengan kegiatan langsung seperti kerja dan bisnis saya di dunia IT, rasanya tidak terlalu aneh. Tapi ada satu kasus diantara beberapa kasus unik yang tidak saya duga bisa dijadikan contoh yaitu ketika saya beberapa waktu lalu mencari kontrakan ruko untuk usaha saya diluar bisnis IT.

Ruko yang saya incar adalah ruko baru dan sangat bagus. Pemiliknya sangat pemilih dan saya kesulitan memnbuatnya mau menerima penawaran dari mitra kerja saya (ternyata nanti saya ketahui karena tidak memiliki profil online yang jelas dan bisa dijejak di internet). Ketika saya mencoba peruntungan dengan memberikan kartu nama serta menekankan dimana saya bekerja, penawaran saya itu juga masih dipertimbangkan. Saya sudah nyaris habis pikir. Padahal harga bukan persoalan dan saya menyanggupinya karena memang butuh agak mendesak.

Tiba-tiba keadaan berubah setelah beberapa hari bertemu dengan pemilik. Akhirnya penawaran saya diterima dan disetujui, bahkan diberikan tambahan fasilitas lagi tanpa biaya dan yang paling mengejutkan adalah diskon harga. Baru kali ini ada ruko disewakan dan pemiliknya yang berinisiatif memberi potongan harga.

Saya heran dan menanyakan alasannya. Jawabannya mengejutkan saya. Ternyata pemilik ruko mencari jejak saya di internet dan mengkepo semua profil saya. Ternyata beliau terkesan dan merasa bangga kalau saya mengontrak disana dan merasa bisa mempercaya saya dengan amanah. Sampai sekarang saya bingung. Saya kira ini hanyalah soal bisnis saja, tapi pendapat orang bisa berbeda setelah melihat profil kita.

Penutup

Membangun profil diri dengan positif tidaklah dilakukan dengan semalam saja. Tetap butuh waktu. Pelan-pelan anda membangun jejak kaki digital di dunia maya baik anda sadari atau tidak. Keputusan untuk mengatur kesan positif atau tidak sepenuhnya tergantung kepada diri anda sendiri.

Menutup tulisan ini, janganlah kita bersembunyi dibalik nama alias, foto profil palsu, data diri buatan hanya untuk membuat pesan yang tidak berani kita nyatakan secara langsung kepada orangnya kalau berhadapan di dunia nyata. Itu adalah sikap seorang pengecut. Dan jejak kepengecutan seperti ini salah satunya akan kembali ke anda sendiri suatu saat nanti. Biasanya kita tidak tahu kapan waktu itu akan datang dan sulit menerima kalau sesuatu di masa lalu kita ternyata berdampak merugikan kepada aktivitas yang kita lakukan saat ini. Intinya: apa yang kamu tabur, akan kamu tuai. Selamat berakhir pekan.** (ak)

Sumber  tulisan : kompasiana.com

Sumber foto :tpr.org

Sunday, March 20, 2016 - 18:00
Kategori Rubrik: