Pentingkah Identitas Agama Dalam Data Kita?

ilustrasi

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Waktu ngobrol dengan teman dosen di Polandia terselip beberapa kata penting. Dia suka sekali tinggal di Indonesia. Orang2nya umumnya ramah. Suka tersenyum dan tertawa. Kadang suka ngomongin hal-hal pribadi orang lain. Nah!

Rasanya di sekolah kita tidak ada topik khusus soal ini: membedakan urusan private dan publik. 
Pengetahuan dan pemahaman kita campur aduk soal ini.

Sering hal-hal yang mestinya urusan publik tapi jadi private. Jalan umum distop untuk pesta manten. Properti milik umum dikavling untuk usaha pribadi.

Duit untuk rakyat tapi malah dipakai untuk kepentingan pribadi: instalasi bambu 550 juta.
Sebaliknya hal private dijadikan pembicaraan umum. Bukan urusannya justru diurusi. 

Agama ditanya di form pendaftaran (berbagai pendaftaran) . Field agama muncul di ID. Ini sensitif tapi kenyataanya begitu. Padahal layanan publik mestinya adil. Apapun agamanya orang harus dilayani secara adil. Di dalam hubungan kemanusiaan mestinya bebas agama.
Agamamu apa? Ini sering muncul dalam diskusi.

Dalam ruang publik, group WA banyak teman yang kehilangan sensitivitas. Ngomongin topik tertentu soal agamanya padahal itu mestinya di ruang private atau setidaknya kelompok khusus.
Menggunakan kata2 yang orang lain tidak paham demi menjalankan amalan yang diyakini membawa pahala. Kata2 arab yang mungkin salah dan tidak paham penulisnya.

Apakah ini penting? Pada titik tertentu sangat penting. Yaitu ketika memilih pemimpin publik. Justru hal yang diutamakan urusan private : agama.
Bukan kriteria umum untuk keberhasilan sebagai pemimpin publik. Akhirnya sering terpilih orang yang tidak kompeten. Ya karena dasar milihnya salah.

Bagaimana pendapat Anda?

Sumbar : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Saturday, July 20, 2019 - 20:00
Kategori Rubrik: