Penolakan Logo HUT RI ke-75 Yang Menyerupai Salib di Solo

ilustrasi

Oleh : Seruanhulu

Beberapa hari terakhir, informasi yang cukup mengagetkan sekaligus menggelikan datang dari Solo. Selain pengeroyokan dan perusakan acara doa bersama, jelang pernikahan atau midodareni di Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah pada Sabtu lalu.

Ada berita menarik lainnya yakni dimana Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) Solo, mempersoalkan logo HUT RI ke-75 yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat. Mereka menganggap jika salah satu desain logo tersebut menyerupai simbol salib.

Lantaran hal tersebut, mereka meminta pemerintah pusat melalui Kementerian Sekretariat Negara (Kemensesneg) untuk menarik logo tersebut agar tidak menimbulkan keresahan di beberapa kalangan.

Tentu saja ini menggelikan bukan?

Bagaimana tidak? Dulu juga pernah ada seorang Ustad yang mengatakan dalam sesi ceramah terbukanya bahwa logo Ambulans adalah haram karena menyerupai salib. Tak lama setelah itu, lagi-lagi Ustad yang sama menyampaikan dalam ceramahnya bahwa salib adalah tempat jin.

Sehingga pada saat itu, pernyataan tersebut menjadi viral dan heboh di kalangan media dan menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.

Kembali pada topik pembahasan yakni terkait penolakan logo HUT RI ke-75 yang dilakukan oleh sekelompok orang. Adapun alasan penolakan logo tersebut adalah karena mereka mencurigai bahwa melalui logo yang menyerupai salib itu ada tujuan terselubung pemerintah untuk melakukan upaya kristenisasi.

Lagi-lagi hal ini bisa menjadi bahan gorengan mereka untuk menyerang pemerintah. Sekaligus juga bisa memicu kegaduhan antar umat beragama. Tinggal dibumbui sedikit dengan narasi provokasi, maka meledaklah isu itu di tengah masyarakat.

Jika disimpulkan, logo HUT RI ke-75 yang menyerupai salib itu adalah selain mereka benci terhadap salib, juga mereka manfaatkan sebagai alasan untuk menyerang pemerintah berhubung yang mendesain dan mengeluarkan logo tersebut adalah pemerintah pusat.

Padahal kalau dipikir-pikir, apakah benar pemerintah pusat memiliki tujuan untuk melakukan upaya kristenisasi melalui logo HUT RI ke-75 tersebut? Itu sangat tidak masuk akal, bagaimana mungkin pemerintah memiliki tujuan seperti itu jika sementara pejabat di dalam struktural pemerintahan saja diisi oleh orang-orang yang mayoritas bukan agama Kristen?

Di sinilah rusaknya negeri ini, ketika sekelompok orang selalu saja menggunakan agama sebagai alat untuk menyerang siapa saja yang berseberangan dengan mereka termasuk pemerintah. Jika ini dibiarkan secara terus menerus maka bukan kemajuan yang dialami bangsa ini, melainkan kemunduran.

Sumber : Status Facebook Seruanhulu

Friday, August 14, 2020 - 21:45
Kategori Rubrik: