Penjelasan Seputar Divestasi Saham Frepport Indonesia

Oleh : Risono Cirebon

Kalau ada yg malah ngebahas RIO Tinto dlm kontek sbg pembanding harga divestasi Saham Freeport Indonesia FI menurut saya salah Fokus. Klo pun ada dibaca saja tapi jangan jadi salah fokus, itu informasi intinya karena kita iri saja, iri karena yg dpt duit byk dari transaksi ini RIO Tinto. Tapi bukan berarti paling untung karena membandingkan 400 juta vs 3.5 milyar. Karena uang yg dikeluarkan RIO itu bukan hanya 400 juta tetapi 400 juta plus yang dikeluarkan untuk investasi pengembangan FI, baik pengembangan tambang tahun 90an dan pengembangan tambang awal 98.

Simpelnya gini INDONESIA (INA) yg diwakili INAlum beli saham FI 42% tapi yg dapat duit banyak RIO, sementara FCX cuma dapat sedikit. Sudah itu saja, itu namanya rejeki RIO. Yang penting ketika INA membeli saham FI cara ngitungnya sdh tepat yaitu dari nilai aset FI, itu Fokusnya.

Ilustrasi sederhananya begini,

Jaman ORBA dulu, 50 thn lalu INA dan FCX bikin perjanjian sewa menyewa lahan kosong ditengah hutan, dan FCX ini pengusaha mau bikin kos2an, nama kos2anya FI, dilahan kosong Papua, dgn hak dan kewajiban masing2, dimana INA diberi saham kos2an sebesar 9,36% sisanya FCX, dimana dlm salah satu pasal perjanjianya yaitu pasal 22 poin 2, disebutkan rumah kos2an FI yg dibangun FCX diatas tanah INA saat perjanjian habis, mk INA dapat membeli Aset kos2an tsb dgn harga minimal sama dgn nilai buku aset kos2an tsb. Jadi dlm kontrak hanya menyebutkan harga minimalnya, artinya harga akhirnya yah hrs kesepakatan kedua belah pihak, INA dan FCX.

Seiring berjalanya waktu, kos2an FI berjalan baik, sangat menguntungkan dan FCX jadi orang kaya, singkat cerita FCX dari keuntungan FI ini byk digunakan untuk mengembangkan bisnisnya di negara lain. Sehingga Kos2an FI ini menjadi aset andalannya FCX. Bahkan kontrak sewa menyewa ini sudah diperpanjang sampai 2021.

Di awal tahun 90an, karena bisnis kos2an FI maju, maka FCX ingin membesarkan kos2anya, dan butuh duit, 1 milyar. Awalnya FCX ini mau pinjam ke Bank, tapi tidak ada bank yg mau memberi pinjaman dengan bunga rendah, sehingga kalau pinjam ke Bank bunganya tinggi banget, karena saat itu Indonesia masuk negara country risk tinggi untuk investasi, dan menurut hitungan bisnis FCX jadi tidak ekonomis kalau pinjam bank.

Akhirnya FCX cerita sama temenya, si RIO, terkait rencana pengembangan bisnis kos2anya tsb. Karena RIO ini sama2 pengusaha kos2an dan ngerti bisnis kos2an FI, maka RIO setuju untuk join dgn FCX untuk mengembangkan kos2an FI ini. Jadi RIO ini menyanggupi kerjasama pengembangan kos2an FI dengan FCX, dimana 400 juta diberikan dalam bentuk cash ke FCX sebagai tanda jadi atas kesepakatan kerjasama ini, sisanya dalam bentuk aset kos2an di FI. Dan perjanjian kerjasama ini juga mendapat ijin INA sebagai pemilik lahan, mengenai alasan detail, mengapa INA ini menyetuji konsep ini, hanya ORBA yang tahu, dan itu tidak usah dibahas, buang waktu karena sudah terjadi, itu masa lalu, kita bicaranya bagaimana masa depan harus lebih baik.

Karena sama2 pengusaha kos2an, maka RIO dan FCX sepakat JOIN bisnis pengembangan kos2an FI dengan konsep bagi hasil, 40% RIO dan 60% FCX untuk kos2an yang dikembangkan ini, artinya kos2an lama dilahan tersebut tetap 100% haknya FCX, RIO gak ganggu, karena RIO faham betul dengan masa depan bisnis kos2an FI ini, toh nanti juga sebelum 2021 kos2an lama yg dibangun FCX akan tidak terpakai, tetapi RIO pebisnis ulung, tahu masa depan setelah 2021. Makanya dalam perjanjianya, RIO memasukan pasal setelah 2021 semua hasil sewa kos2an FI dibagi 40% RIO dan 60% FCX.

Singkat cerita bisnis kos2an yang dikembangkan ini maju pesat dan menguntungkan. Bahkan awal tahun 98, dikembangkan lagi kos2an ini, dan biaya pengembangan ini 40% ditanggung RIO dan 60% FCX, dan lagi-lagi karena FCX ini gak punya duit untuk memenuhi kewajiban investasi yg 60% dari total biaya pengembangan, maka untuk pengembangan ini FCX pinjam 450 juta ke RIO, dan secara konsep bisnis kos2an tetap bagi hasil, tapi uang 450 juta sebagai pinjaman dan dikenakan bunga oleh RIO. Artinya setelah tahun 98, RIO dapat dua penghasilan disamping bagi hasil kos2an juga dapat untung bunga pinjaman dari FCX.

Singkat cerita, karena bisnis kos2an ini sudah jadi buah bibir rakyat INA sebagai bisnis kos2an yang menguntungkan dimasa depan bahkan masih cantik sampai 2041, maka tahun 2018, ahli waris yang sekarang, yang sudah turunan ke 7, berencana mau mengakhiri kerjasama ini dengan FCX. Karena INA memang hanya berkontrak sewa menyewa lahan dengan FCX. Maka INA menyampaikan niatnya tersebut ke FCX.

Terkait rencana INA tersebut FCX memberi tahu bahwa saat ini kos2an FI bukan hanya dikelola FCX sendiri tapi join dengan RIO. INA sudah tahu hal tersebut dari cerita nenek moyangnya, dan INA tdk mau tahu, pokoknya urusan INA kan hanya dengan FCX. Lalu FCX menjelaskan dokumen perjanjian RIO dan FCX, dan karena secara hukum isi detail perjanjian, memang salinanya tidak seharusnya juga dimiliki INA karena kerjasama B to B, saking penasaranya akhirnya INA minta dijelaskan detailnya.

Setelah dijelaskan INA kaget campur marah, warisanya sudah diijonkan oleh FCX kepada RIO, jadi bukan sekedar JV biasa, bahkan setelah 2021 semua hasil sewa kos2an FI dibagi 40% RIO dan 60% FCX. Dan FCX menunjukan dokumen2 legalnya termasuk surat menyurat pemberitahuan prinsip ijinya ke INA terkait hal tersebut. Dan menurut hitungan FCX dengan konsep bagi hasil setelah 2021 maka ekivalensi sahamnya setara dengan FCX 54.4%, INA 5.6%, RIO 40%. Cara ngitungnya gini ;
FCX = 90.64 x 60% = 54.4%
INA = 9.36 x 60% = 5.6%
RIO = 40%

Saking penasaranya, INA konsultasi dengan yang faham tentang hukum international, dan setelah dipelajari secara hukum internasional itu sangat kuat perjanjian itu. Pulang dari ahli hukum internasional, INA makin stress, rencananya ingin menguasai kos2an FI secara mudah, akhirnya makin rumit.

Singkat cerita, berembuklah INA, FCX dan RIO, cari jalan keluar yang bisa diterima semua pihak, dan INA tetap memegang prinsip yang tidak boleh dilanggar yaitu uang yang dikeluarkan harus setara dengan aset yang akan dibelinya, agar sesuai dengan isi kontrak pasal 22 poin 2. Dan hasil negosiasi semua pihak, maka INA harus keluar 3.85 milyar.

Dan disepakatilah urutan transaksinya sbg berikut :
1. Hak RIO 40% dibeli INA, seharga 3.5 milyar.
2. lalu swap ke saham baru, sehingga 90.64% milik FCX terdilusi.
3. Saham FCX yang sudah terdilusi tadi dijual 5.6% ke INA, seharga 0.35 milyar.

Dari 3 tahapan tadi, akhirnya INA memiliki
40% + 5.6% +5.6% total 51.23%.

Jadi setelah transaksi, INA 51.23%, FCX 48.8%, RIO 0%.

Referensi :

FCX
https://investors.fcx.com/…/Freeport-McMoRan-A…/default.aspx

RIO
http://www.riotinto.com/copper-and-diamonds-82.aspx…

SEC (OJK nya Amerika)
https://www.sec.gov/…/data/831259/000083125901500005/k10.txt

 

Sumber : facebook Ade Winata

Thursday, July 19, 2018 - 19:15
Kategori Rubrik: