Penistaan Agama Lewat Bom Samarinda, Ke Mana Suara FPI?

Oleh : Ekha Rifki Fauzi

Fenomena penistaan agama yang di dengungkan oleh FPI (Front Pembela Islam), ternyata telah mendapatkan dukungan, padahal persoalan itu berbau politik dan SARA (Suku, Agama, Ras, Antargolongan). Tidak sedikit umat Islam yang terbuai ajakan dari FPI untuk berunjuk rasa menuntut Ahok. Tuntutan atas tuduhan pelecehan agama ternyata dibarengi dengan demontrasi besar-besaran atas nama “Aksi Bela Islam”.

Demontrasi pada tanggal 4 November lalu, ternyata merupakan bentuk dukungan dari seluruh umat Islam. Dukungan itu diwujudkan dengan melakukan aksi sehari penuh dan juga mendapatkan dukungan dari anggota DPR, seperti Fadli Zon dan Fahri Hamzah. Aksi tersebut, seakan memperkuat adanya indikasi muatan politik menjelang Pilkada DKI 2017.

Umat Islam sebenarnya dihadapkan dengan pilhan yang sulit yang dikemas atas fatwa ulama. Mayoritas masyarakat Indonesia memang beragama Islam, sehingga mudah saja digerakkan dari sosok ulama dari ormasnya. Hal inilah yang menjadi keprihatinan dari Indonesia,  terkadang masyarakat hanya dijadikan alat politik dari kelompok tertentu untuk memuluskan tujuannya.

MUI (Majelis Ulama Indonesia) sebagai organisasi ulama Indonesia, seakan kedudukannya goyah akan unsur internal sendiri terkait isu penistaan agama. Goyahnya MUI juga diimbangi dengan ketidakpercayaan masyarakat dengan lembaga tersebut. Mereka yang sudah tidak memperhatikan atau apatis dengan fatwa  MUI, menjelma masyarakat cerdas yang tidak mudah terhasut isu penistaan agama.

Seharusnya hal itu, sebagai petunjuk untuk MUI agar mampu kembali menjadi organisasi ulama yang utuh, terlepas dari kepentingan politik, sosial, dan ekonomi. Karena jikalau MUI sudah terindikasi praktek politik praktis, akan mencoreng nama ulama Indonesia. Tentunya, umat muslim sulit untuk mempercayai fatwa-fatwanya MUI.

Isu penistaan agama ternyata masih perkasa, meski ada isu kemanusiaan yang dilecehkan oleh oknum umat Islam atas nama “Jihad”. Oknum pelaku jihad yang melempar bom molotov di sebuah gereja, telah menewaskan seorang anak berusia 2 tahun di Samarinda. Sebetulnya, aksi jihad itu sejatinya merupakan penistaan agama yang sebenarnya dan luar biasa.

Lucunya, FPI dan kawan-kawannya diam seribu bahasa yang tak mampu berucap dan berkoar-koar memperjuangkan keadilan bagi korban “jihad”, layaknya pada kasus penistaan agama. Ketidak berdayaan FPI dan golongannya semakin merucut bahwa penistaan agama yang dituduhkan ke Ahok sarat kepentingan politik semata. Ada apa dengan FPI beserta golongannya?

Kemanusiaan sebenarnya mempunyai kedudukan tertinggi yang harus diperjuangkan sesuai perintah Nabi. Tolong menolong dalam hal kebaikan telah menjadi budaya umat Islam, lantas dimana sifat belas kasihnya FPI dan kelompoknya? Mampukah FPI memperjuangkan keadilan korban bom gereja seperti yang mereka lakukan menuntut keadilan penistaan agama kepada Ahok?

Nabi SAW menjunjung tinggi akan rasa kemanusiaan, kepada mereka yang sedang dilanda musibah dan kesusahan. Dimana masa demo 4 November ? Mereka hanya mampu berdemo untuk kepentingan ulama ormasnya sendiri dan melalaikan masalah kemanusiaan yang sedang melanda Indonesia tercinta.

Absurb sekali kondisi umat muslim Indonesia yang hanya mampu mendengungkan penistaan agama untuk kepentingan kelompok dan individu semata. Padahal kasus pelemparan bom “jihad” telah mencoreng Islam. Kenapa tidak pada demo atas penistaan agama pada bom itu? Di mana kalian pendemo 4 November? Kita ini Indonesia bukan golongan-golongan ormas.

Padahal kemanusiaan telah dihina, dilecehkan, dan dinistakan oleh oknum orang beragama Islam yang berdalih berjihad, padahal jihadnya dengan cara melempar bom molotov dan memakan korban jiwa. Tindakan keji itu, harusnya mengetuk pintu hati nurani para ulama yang berdemo atas nama penistaan agama. Mereka sebenarnya ketakutan bersembunyi dan berdalih macam-macam atas peristiwa bom molotov Samarinda.

Sejatinya umat Islam Indonesia itu yang ramah, seperti halnya para Ulama NU dan Muhammadiyah. Sampai sekarang ulama kedua ormas Islam tersebut, masih komit dan istiqomah menjaga NKRI dan menomor satukan kemanusiaan. Bukan ulama yang sibuk memikirkan kekuasaan dalam pentas politik praktis. Hati nurani umat Islam yang berdemo kemana itu?

Tuhan saja menurunkan Rasul SAW untuk memperbaikai akhlak, bukan untuk pemicu perpecahan.  Pendemo penistaan agama kemarin akhlaknya kamana? Apa ikut akhlak Nabi SAW? Penistaan agama yang berbalut politik memang pada dasarnya licik bin tipu muslihat. Tapi kalau penistaan dilakukan dengan kata “jihad” kok pada diem semua.

Cukup jelas mana yang pelaku penistaan agama berbalut politik kekuasaan, dengan pejuang penistaan agama sejati. Indonesia yang kaya akan keberagaman, mudah sekali masyarakatnya terutama umat Islam dimasuki doktrinisasi atas seruan dari ulama ormasnya. Masyarkat awam juga harusnya lebih berhati-hati dan mawas agar tidak terjerumus kedalam politik atas nama agama.

Kemanusiaan hakekatnya menjadi landasan utama dari akhlakul karimah dari seorang muslim. Sebenarnya akhlak-lah yang harus menjadi tonggak berdikarinya muslim nusantara menjadi muslim ramah, bukan muslim marah. Ego, individualisme, dan fanatisme kepada ormas bentuk dari hawa nafsu yang tidak terjaga.

Mereka yang bersorak-sorak atas penistaan agama pada surat Al-Maidah ayat 51, perlu membuka mata dan hati. Penistaan agama atas nama “Jihad” dengan membunuh orang-orang, itu seharusnya didengungkan dan diperjuangkan agar Islam benar-benar murni agama yang rahmatal lil ‘alamin.

Ulama yang tergabung pada MUI, juga harus tunduk akan Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Bukan seenaknya sendiri membuat fatwa, yang ternyata malah mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Mari jaga NKRI ini dengan akhlak yang baik dan saling bertenggang rasa.**

Sumber : qureta.com

 

Thursday, November 17, 2016 - 07:15
Kategori Rubrik: