Penguasa Tipikal

Ilustrasi

Oleh : Ferdinand Tobing

Waktu masih Cagub bela-belain keluar masuk gang, blusukan sampai ke pelosok kelurahan & RT/RW untuk menemui warga. Waktu statusnya masih "Calon", saat kampanye, seolah yang paling prioritas adalah bertemu warga. Pada masa ini sangat penting menyediakan kuping untuk keluhan warga. Dan seandainya mungkin, semua warga harus disapa.

Tapi itu supaya warga pilih dia jadi Gubernur.

Lalu apa yang terjadi setelah jadi Gubernur ?

Setelah jadi Gub, dia mulai menempatkan diri sebagai penguasa. Lihat saja gesture-nya. Tidak terlalu bahagia lihat warga berbondong-bondong datang ke Balai Kota menemuinya. (Padahal itu warga yang kemarin sangat ingin dia temui.)

Karena sebagaimana penguasa, tipikal, mereka perlu jarak dengan warga. Warga tak boleh seenaknya bertemu penguasa. Karena tujuan penguasa menjadi penguasa adalah menikmati privilege. Keistimewaan. Misalnya boleh terobos trafik one way. Bukan bekerja. Ah, apalagi melayani. Ahok mah ngawur !

Warga tak boleh semaunya bertemu penguasa. Apalagi setiap hari. Bagian itu, bertemu warga, adalah tugas loket-loket pengaduan. Atau itu kerjaan para pelayan warga di tingkat kelurahan. Bukan tugas penguasa. Penguasa nanti tinggal menerima laporan dari kelurahan, dan pembantu-pembantunya. Nanti akan dibikin sistem-nya. Itu namanya SOP, Standard Operating Procedure. Paham ya!

Jadi, mohon dengar sabda pertama sang penguasa kepada warganya. Ini sifatnya baru himbauan: gak usahlah ke Balai Kota, karena itu akan menyusahkan anda sendiri. (Percayalah, penguasa tahu apa yang membuat susah warganya lebih dari warganya sendiri tahu.)

Lagipula Balai Kota akan jauh lebih berguna jika digunakan untuk menerima sesama penguasa, para pemangku kepentingan (para bos-nya wagabener), para pengusaha (teman2nya wagabener). Bukan menerima warga.

Sumber : Status Facebook Ferdinan Tobing

Sunday, October 29, 2017 - 17:45
Kategori Rubrik: