Pengobatan Akhir Jaman

ilustrasi

Oleh : Mila Anasanti

Sebelum ada yang kasih testimoni ini itu, baca tulisan saya dulu tentang kenapa testimoni tidak pernah diterima di dunia kedokteran:

https://www.facebook.com/mila.anasanti/posts/10220498099578830

Testimoni adalah sesuatu yang belum terbukti, meraguan dan sangat lemah.

اليقين لا يزول بالشك
“Sesuatu yang meyakinkan tidak dapat hilang hanya dengan keraguan"

Imam Nawawi berkata, “Kaidah ini merupakan kaidah yang umum (mencakup banyak permasalahan), dan tidak keluar dari kaidah ini kecuali beberapa permasalahan saja” (Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzab juz.1 hal.258).

Kaidah ini merupakan kaidah yang sangat agung di dalam syariat Islam, dan banyak permasalahan fikih yang dilandasi oleh kaidah ini. Meng-cover banyak permasalahan, mulai dari ibadah, muamalah, hingga hukum hudud.

Kaidah ini adalah kaidah yang mengajarkan kita untuk skeptik, tidak mudah yakin dengan sesuatu yang meragukan yang belum diteliti.

Kaidah ini mendoktrinkan bahwa defaultnya seorang muslim haruslah skeptik, tidak mudah percaya atau terpengaruh pada hal yang belum tebukti sebelum diTELITI. Namanya penelitian, mengharuskan segala sesuatu diperiksa se-akurat mungkin. Barulah kita bisa yakin. Dan sesuatu yang sudah terbukti dan diyakini setelah lewat penelitian tidak bisa dikalahkan dengan teori baru yang belum terbukti dengan dalih siapa tahu suatu saat bisa dibuktikan lewat penelitian.

Kaidah ini juga menunjukkan kesempurnaan Islam yang mengajarkan kita WAJIB BERSANDAR pada sesuatu yang kebenarannya paling kuat di suatu masa SETELAH DITELITI KEBENARANNYA, BAIK DITELITI DARI SISI DALIL (AYAT QAULY), MAUPUN PENELITIAN ILMIAH (AYAT KAUNY).

***
Ada garis pembatas yang harus ditekankan tentang pengobatan, antara pengobatan yang berlandaskan tauhid atau justru membahayakan tauhid.

Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitabnya, Al-Qaulul Jadiid:

أحدها:أن لا يجعل منها سببا إلا ما ثبت أنه سبب شرعا أو قدرا.

“Pertama: Tidak menjadikan sesuatu sebagai sebab, kecuali jika sesuatu tersebut terbukti sebagai sebab, baik secara Syar’i maupun Qadari/Kauni.”

Sehingga dalam perkara TAUHID, terkait dengan takdir setiap muslim harus meyakini bahwa apa-apa yang terjadi di alam semesta ini berdasarkan 2 sebab:
1. Sebab Kauniy atau sunnatullah (berdasarkan PENELITIAN seakurat mungkin, di sinilah sains berperan)
2. Sebab Syar’i, berdasarkan dalil yang shahih dengan PENELITIAN ilmu tafsir, musthalah hadits yang benar.

Tanpa PENELITIAN sebuah keyakinan bisa menjurus ke syirik, pengobatan tak lagi ada bedanya dengan sekelas 'batu ponari'. Itulah yang membedakan 'ramalan cuaca' bisa diukur akurasinya dibandingkan ramalan mbah jambrong.

Sedangkan keraguan adalah segala sesuatu yang meraba-raba karena belum melewati penelitian. Contohnya SS yang saya ambil dari website PAZ (Pengobatan Akhir Zaman):

https://pazindonesia.com/

Diabetes, Stroke, Ashma, Cancer, semua diklaim karena syaraf kejepit dan bisa disembuhkan dengan al-kasaw PAZ? Lantas kenapa nama penyakit dan gejalanya beda-beda?

Pakai PENELITIAN apa menentukan SEBAB semua penyakit tersebut karena syaraf kejepit? Apakah ada penelitiannya? Mana jurnal ilmiahnya? Apakah ada dalilnya? TIDAK ADA!

Seberapa persen dijamin sembuh?

Jaman sudah secanggih ini, banyak peralatan level molekuler digunakan untuk menyelidiki penyakit seteliti mungkin, termasuk penyebab semua penyakit di atas. Kenapa kembali menggunakan metode diagnosa 'penerawangan'?

Bandingkan dengan penelitian berbasis EBM, yang selalu disertai akurasi, misal confidence interval berapa persen, ini ada perhitungannya.

Memang ada penelitian berbasis EBM yang mirip dengan PAZ dan dilakukan di RS juga, tapi ya klaimnya hanya terbatas menyembuhkan syaraf kejepit, tidak diklaim ngobatin diabetes, dll, dst. Karena penyebabnya diabetes saja bisa diamati berdasarkan penelitian akurat level molekuler bukan karena syaraf terjepit! Ini sama saja tebak-tebak buah manggis!

Penelitian berfungsi untuk menguji suatu terapi ke banyak orang pada penyakit tertentu dan dihitung berapa jumlah yang berhasil dan tidak, sehingga bisa digeneralisasi bagi siapa saja, penyakit spesifik dengan jumlah dosis yang akurat. Adapun jika tidak berhasil bagi semua orang, juga tetap jelas kategori siapa saja yang tidak akan berhasil mendapatkan terapi ini. Sebagaimana obat, ada kontra indikasi dan larangan bagi penderita ini dan itu. Sehingga sekalipun tidak berlaku bisa menyembuhkan bagi semua, tapi tetap bisa di kategorikan dengan yakin. Ada tingkat akurasi berapa persen yang bisa disebutkan.

Maka kalau anda lihat obat hasil penelitian pasti tidak suka mengobral janji asal klaim ini itu, tapi hanya penyakit spesifik saja.

Bandingkan dengan pengobatan tanpa EBM yang diklaim bisa menyembuhkan semua penyakit, dari panu sampai lemah syahwat! Namun jika ditanya prosentase kesembuhannya tidak bisa dipastikan.

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam tentang ummat akhir zamman:

“Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan jumlah kalian banyak, namun kalian seperti buih di lautan. (HR Abu Dawud 3745)

***

Pernah berpikir kenapa para rasul alaihimussalam dulu diutus hanya untuk ummatnya saja?

Bahkan pada satu zaman bisa lebih dari satu rasul yang diutus pada kaum yang sama, misalnya 3 nabi di kisah surat Yaasin, atau Musa dan Harun alaihimassalaam pada kaum Fir’aun. Harun diutus menemani Musa menemui Fir’aun karena Harun ini pandai berbicara.

Zaman dahulu, masyarakat jahiliyyah belum bisa berpikir, kadang satu rasulpun kewalahan mengimbangi kebodohan mereka.

Untuk membuktikan kebenaran Rasul utusan Allah ta'ala, ummat jaman dahulu itu butuh BUKTI yang bisa dilihat dengan mata kepala sendiri. BUKTI yang tidak memerlukan mereka berpikir. Maka para Rasul dilengkapi mukjizat yang rasa-rasanya mustahil dimiliki oleh manusia biasa, bahkan raja sebesar Fir’aun atau ribuan penyihir sekalipun.

Sebagaimana Musa yang tongkatnya mampu membelah lautan, juga bisa berubah menjadi ular dan mengalahkan ular tipuan ribuan penyihir Fir’aun. Barulah melihat semua mukjizat itu pengikut Fir’aun banyak yang beriman.

Menyeberangi laut yang terbelah, di tengah Jalan Nabi Musa menerima perintah untuk pergi ke bukit Thur demi menerima wahyu kitab Taurat, maka dititipkanlah pengikutnya pada saudaranya, Harun.

Sebelum pergi, Musa telah mewanti-wanti agar ummatnya tidak menyembah berhala. Tapi Samiri menghasut pengikut Musa untuk membuat patung sapi yang memiliki rongga sehingga terdapat celah angin masuk yang membuat patung itu bisa berbunyi karena tiupan angin.

Melihat benda mati bisa berbunyi, terpesonalah pengikut Musa untuk menyembah patung anak sapi itu yang mereka kiraTuhan. Bahkan Harun yang dikenal pandai berbicara, ucapannya tidak diindahkan.

Sekembalinya dari menerima wahyu, marahlah Musa melihat pembangkangan kaumnya menyembah berhala.

Dasar jahil murakkab!

Setelah melihat langsung mukjizat sebesar membelah lautan, tetap saja mereka terpedaya dengan patung sapi yang bisa bersuara tanpa memeriksa lebih dahulu darimana suara itu berasal.

Meninggalkan sesuatu yang level keyakinannya jauh di atasnya karena terpesona sesuatu yang lebih retceh.

Itulah gambaran kebodohan ummat para nabi jaman dahulu.

Namun jaman makin canggih, Mukjizat para nabi jaman dahulu se’amazing’ apapun kini kita tidak bisa melihatnya langsung. Kecuali mukjizat Rasulullaah ﷺ, yaitu al qur’an, yang bisa dilihat sampai akhir jaman.

Tapi bagaimana bisa kita melihat ‘amazing’nya al-qur’an melebihi tongkat yang bisa membelah lautan? Jawabnya adalah BELAJAR DAN BERPIKIR. Sangat sulit melihat mukjizat al qur’an jika tidak paham Bahasa Arab, mengetahui ulumul qur’an, tafsir dan ilmu-ilmu penunjangnya. Dan tentu ini semua membutuhkan waktu bertahun-tahun mempelajarinya. Baru akan terlihat di mana letak 'amazing'nya.

"Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir." (Al-Quran Surah Az-Zumar: 42)

Maka al-qur’an turun dengan perintah pertama: ‘IQRA!’ Bacalah!

Sejak turunnya al-qur’an, membaca dan menulis adalah tradisi ilmiah yang menjadi ciri khas kaum muslimin.

Perintah pertama qur’an ini ‘pintu’ utama yang menjadikan Islam tersebar di seluruh dunia dan menjadi pioneer dari banyak bidang ilmu hingga era kegemilangan Islam di zaman Cordoba, dan ditiru banyak oleh bangsa barat.

Maka pemikiran manusiapun berkembang pesat kemampuan analisanya, sehingga untuk membuktikan kebenaran tidak lagi jamannya SESEDERHANA melihat mukjizat se’ajaib’ tongkat Musa. Harus ikut workshop dulu baru percaya?

Membuktikan kebenaran di era kini membutuhkan penelitian yang sangat panjang, SEDETIL MUNGKIN, SEAKURAT MUNGKIN, sejalan dengan berkembangnya teknologi manusia, yang hasilnya bisa kita telaah lewat membaca jurnal penelitian.

Sungguh menyedihkan ummat islam jadi mundur ke belakang, menyukai segala sesuatu sesederhana mungkin yang bisa dilihat mata tanpa perlu berpikir. Mengklaim tidak perlu yang namanya jurnal penelitian, lantas dikemanakan perintah 'iqra' sebagai seruan utama dalam al-qur'an?

Kembali ke zaman kaum nabi Musa عَلَيْهِ ٱلسَّلَامُ yang lebih mudah terpesona dengan patung sapi samiri yang bisa bersuara.

Kalau sekali pelatihan langsung bisa mendiagnosis, menyembuhkan di depan peserta, tidak perlu uji lab sebagaimana dokter mendiagnosa diabetes, lalu apa bedanya sama kaum Samiri? Mudah terpesona dan percaya sekali lihat?

Padahal EBM ini yang mengajarkan ilmuwan islam jaman kegemilangan islam (kapan-kapan saya kisahkan), mewarisi tradisi penelitian para ulama terdahulu sejak Islam diturunkan.

Sumber : Status Facebook Mila Anasanti

Sunday, January 26, 2020 - 13:00
Kategori Rubrik: