Penghayat dan Kepercayaan Masuk KTP

ilustrasi

Oleh : Abdul Munib

Apa penghayatan itu ?
Siapa penghayatnya ?

Arti kata menghayati menurut KBBI
menghayati [meng·ha·yati]
Kata Verbia (kata kerja)
Dari kata dasar: hayat.
Arti: mengalami dan merasakan sesuatu (dalam batin)
contoh: 'kita semua harus menghayati dan mengamalkan Pancasila'

Kata-kata dari kata dasar hayat
hayat
penghayat
penghayatan
Kata bijak dengen kata: menghayati

Allah yang menjadi sutradara, penulis skenario, dan menciptakan setting agar kita bisa memainkan peran sebaik-baiknya. Bukankah kita sering mendengar orang yang sukses dalam hidup adalah orang yang benar-benar menghayati peran yang sedang ia jalankan? - Hanum Salsabila Rais

Aku ini tukang kebun tua yang lahir dan dibesarkandi pedalaman, sepanjang hidup hanya belajar menghayati rumput, pohon, dan tanah basah, mengurus pagar dan membersihkan rumah. - Sapardi Djoko Damono

Selalu lebih mudah untuk memperjuangkan prinsip seseorang daripada menghayati mereka. - Alfred Adler

Sudah lama aku belajar memahami apa pun yang terdengar di sekitarku,sudah lama belajar menghayati apa pun yang terlihat di sekelilingku, sudah lama belajar menerima apa pun yang kau berikan tanpa pernah bertanya apa ini apa itu - Sapardi Djoko Damono

Kita perlu lebih pandai untuk membayangkan para penerus kita, lebih pandai untuk menghayati kehadiran mereka yang akan mewarisi Bumi ini sepeninggal kita. - Jostein Gaarder

Kang Mat :
Kita bisa sepakati saja bahwa tindakan menghayati itu huduri, atau pengalaman langsung jiwa. Dan huduri adalah salah satu jalan mencari hakikat yang menempuh jalur bertindak langsung dalam bimbingan penghayat sejati (mursyid yang telah mengalami mukasyafah dan musyahadah). Ini jalur mistisisme, salah satu jalan menuju hakikat melalui atau via syair wa suluk. Ngambah lakon. Dan namanya juga mengalami langsung yang harus ada adalah bimbingan langsung sang penghayat. Bukan pedoman penghayatan. Membaca buku tashawuf tak membuat seseorang jadi sufi. Jadi P4 adalah Pancasila mistisisme yang tak ada penghayat sejatinya. Menempuh jalur sufi tanpa guru mursyid. Hanya berpedoman pada buku teks yang ada. Mana bisa begitu. Lawan dari huduri (present) adalah husuli (refresentatif). Kita harus gunakan seluruh disiplin ilmu, rasionalitas mantiqi, efistemologi dan filsafat pertama.

Bung Cebong : Berarti parah sekali kita selama ini Kang. Rombongan bangsa ikut cahaya obor di depan yang dibawa orang buta.

Kang Mat : Demikian lah analoginya Bong. Kita tak punya penghayat sejati untuk membimbing penghayatan Pancasila. Siapa mau bimbing siapa belum jelas. Kita kurang memahami secara keilmuan dengan rasionalitas dan filsafat eksistensi. Kita butuh ilmuwan sekaligus penghayat Pamcasila. Dunia para Resi atau Pinandita.

Bung Cebong :
Pedoman adalah hal atau pokok yang menjadi dasar, pegangan, acuan, atau petunjuk untuk menentukan atau melaksanakan sesuatu. Setiap buku pedoman memerlukan seorang ahli dibilang itu. Siapa ahli penghayat Pancasila yang syah di Indonesia ? Apalagi pengamalan, itu harus terpancar dalam praktek baik dalam ekonomi, politik maupun etika kehidupan sehari-hari.

Santri Kalong :Kita butuh kesadaran Paripurna untuk meraih ketinggian keilmuan falsafah. Karena Indonesia adalah negara Pancasila. Negara Falsafah Ketuhanan. Manusia yang hendak menujuju adiluhungnya peradaban umat manusia yang berkeadilan ilahi. Yang hendak memulainya dari halaman rumah kebangsaan Indonesia seperti digariskan langit. Dengan kepemimpinan yang berhikmat. Dan keadilan sosial untuk dunia, di mulai dari Indonesia. Pancasila adalah replika sederhana yang disederhanakan dengan substansi filsafat Timur yang : mistis religius,
rasionalis, filosofis, teilogis dan sintesis kesemuanya. Filsafat Barat materialis, positivis, skeptis, empiris dan berujung relativis. Dalam tema relativisme posmodernism inilah tema besar agama-agama hendak mereka robohkan. Tapi benarkah cahaya Tuhan dapat mereka redupkan ? Tidak. Barat sebentar lagi akan tenggelam bersama matahari jaman, dan akan tereliminasi dalam pewaris bumi berikut oleh karena bersandar kepada pandangan dunia rapuh positifisme. Peradaban yang mengagungkan cangkang, bukan isi. Tuan pesta jaman ini yang mabuk tak tahu diri. Kita bisa lihat riaknya dalam tampang Trump.

Angkringan Filsafat Pancasila

Sumber : Status Facebook Abdul Munib

Monday, March 2, 2020 - 08:15
Kategori Rubrik: