Penghargaan

ilustrasi

Oleh : Matt Bento

Setiap kali kita berkumpul dengan para sahabat, pasti ada selalu cerita lucu yang muncul. Itu yang membuat kita selalu ingin berkumpul, bertemu teman-teman, di saat pandemi corona sedang menggila sekali pun seperti saat ini.

Memang bukan hanya soal cerita-cerita lucu yang mendorong kita untuk hadir dalam satu pertemuan. Kesamaan latar belakang, minat atau keinginan untuk melahirkan gagasan-gagasan yang bisa diwujudkan bersama, adalah hal lain yang diharapan dari moment berkumpul itu.

Kemarin, teman-teman wartawan senior menceritakan kejadian tentang wartawan lainnya yang "dikerjai" oleh rekannya sesama wartawan. Alkisah, karena wartawan yang dikerjai itu terlalu bersemangat, oleh temannya disampaikan bahwa dia akan mendapat penghargaan. Dia menyambut dengan antusias.

Suatu hari penghargaan diberikan kepadanya melalui sebuah acara yang seolah-olah resmi, karena dihadiri oleh semua orang penting di komunitasnya. Dia lalu menurunkan tulisan tentang penghargaan yang diterimanya di dua media miliknya. Tulisan penuh dengan opini pribadi. Dia merasa tersanjung dengan penghargaan yang diterimanya, dan akan menjadikan penghargaan tersebut sebagai pemicu semangat dan motivasi dalam menjalankan profesi.

Kami semua tertawa mendengar cerita itu. Apalagi cara teman yang menceritakannya asyik diikuti.

Dalam dua hari terakhir ini saya banyak mendengar cerita, berita, atau sekedar omongan di "warung kopi", dengan topik seputar penghargaan. Yang kedua -- menurut saya tak kalah lucu, entah kalau menurut Anang -- adalah pemberian penghargaan berupa bintang tanda jasa untuk dua politisi: Fahri Hamzah dan Fadli Zon. Keduanya mendapat bintang jasa dari rezim yang suka dilecehkannya. Kita tidak bisa membayangkan andaikata keduanya menjadi politisi di masa Orde Baru dengan kelakuan yang sama.

Menurut Menkopolhukam Mahfud MD. Bintang jasa yang diterima FH dan FZ wajar. Keduanya pernah berjasa kepada negara karena pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPR.

Bintang tanda jasa, kata Mahfud, juga pernah diberikan kepada mantan pejabat yang terseret persoalan hukum seperti, Irman Gusman, Surya Darma Ali, Jero Wacik dan beberapa tokoh lainnya yang dinilai berjasa terhadap negara. Penghargaan itu mereka dapatkan sebelum terjerat masalah hukum.

"Pemerintah tidak boleh tidak memberikan tanpa alasan hukum. Jika bintang jasa tidak diberikan terhadap orang kritis berarti pemerintah mempolitisasi hak orang secara unfair," katanya.

Hayo siapa yang mau membantah Mahfud MD? Pakar hukum, mantan anggota DPR, Menteri Pertahanan di masa Gus Dur, pernah menjabat sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi, dan seabreg jabatan terhormat lainnya.

Tetapi karena saya tidak paham hukum, boleh dong kalau melihat kedua peristiwa di atas seperti memiliki plot yang sama, cuma beda karakter dan setting.

Kemarin sore, saya bersama teman-teman dari Kandang Ayam datang ke kantor sebuah perusahaan pakaian olahraga di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan. Perusahaan itu ternyata milik Haryanto Arby, pahlawan bulutangkis Indonesia.

Pemain yang memiliki julukan "Smash 100 watt" pada masanya ini pernah meraih prestasi diantaranya juara Hongkong Terbuka tahun 1994 dan 1995, juara All England tahun 1993 dan 1994, Jepang Terbuka tahun 1993, 1995, Taipei Master tahun 1993, 1994, juara dunia State Express 555 tahun 1994, ASEAN Games juara beregu tahun 1994 dan perorangan, Juara di kejuaraan Dunia tahun 1995, juara Piala Thomas tahun 1994, 1996,1998, 2000.

Jika ia memiliki prestasi seperti itu di era sekarang, tentu pundi-pundinya sudah melembung. Hadiah datang dari mana-mana, dan penghargaan dari pemerintah sangat luar biasa.

"Tapi kan jaman itu beda," katanya.

"Apakah karena pemerintah kurang menghargai?" tanya mBah Cocomeo Cacamarica yang kalau nanya suka ngeselin.

"Oh enggak, enggak begitu," kata mantan pebulutangkis yang kini menjadi pengusaha itu sambil tertawa. Terkesan tidak ingin menyudutkan pemerintah.

Sikap Haryanto memang bisa ditebak. Para pahlawan bulutangkis yang kebanyakan berlatar belakang etnis minoritas, lebih suka memendam perasaan ketimbang mengekspresikan dengan pernyataan-pernyataan memperkeruh. Mereka mencari jalan lain agar tetap memiliki kebahagiaan.

Sumber : Status Facebook Matt Bento

Thursday, August 13, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: