Penggiringan Opini, Tes PCR Sapi

ilustrasi

Oleh : Nurul Indra

Mengenai tes PCR untuk sapi yang diberitakan media cetak Batam Pos itu, ada yang bilang wartawan mungkin salah paham dengan maksud narasumber. Tes PCR yang dimaksud untuk virus jembrana katanya.

Kalau yang dimaksud itu swab untuk virus jembrana ya wajar aja sih,karena memang virusnya ada. Meski aneh, karena virusnya hanya menyerang sapi bali. Sedangkan sapi bali itu hanya ada di Indonesia, jenis sapi paling produktif di dunia.

Tapi perlu dicatat, virus jembrana bukan zoonosis. Artinya, tidak bisa menular ke manusia. Meskipun mudah mnular ke sesama sapi bali.

Balik lagi ke berita Batam Pos, jika memang wartawan salah paham dengan narasumber,sebetulnya gw mau mempertanyakan proses editingnya nih. Maaf-maaf saja, sebelum berita diupload editor, kan diedit dulu ya.

Waktu editor edit berita wartawan, biasanya ada tuh proses menyamakan persepsi. Kalau ambigu, bisa kita ikut dengar rekaman wawancara. Kalau masih kurang jelas, editor biasanya minta wartawan konfirmasi lagi ke narasumber kan.

Memang ada ambigunya menurut gw, karena di kutipan langsung, narasumber mengaitkan dengan pandemi covid19. Padahal virus jembrana ga ada hubungannya denga covid 19.

Tapi, ambuguitas ini bisa jadi ga disadari wartawan maupun editor jika mereka ga paham bahwa PCR itu bukan hanya untuk virus covid19 aja. Maka, editor dan wartawan memang harus rajin cari info, khususnya editor dan korlip.

Kesalahpahaman kayak gini, meski ga disengaja, dampaknya fatal loh. Masyarakat awam bisa berpikir kalau sapi harus di tes covid, berpikir sapi bisa tertular covid. Bikin makin panik, pandemi ga selesai-selesai.

Sama tuh kayak berita di vivanesws, wartawan/editor memframing di bagian lead bahwa sapi bali HARUS dites PCR virus jembrana. Padahal, dalam kutipan langsungnya, narasumber bilang "SEBAIKNYA".

SEBAIKNYA dan HARUS itu beda, ga boleh disamakan. Nanti kayak statement WHO soal asymptomatic (kaitannya dengan OTG) yang MUNGKIN bisa menular meski masih bersifat MAJOR UNKNOWN. Tapi, ada dokter yang menerjemahkannya sebagai PASTI.

Soal teori framing dan agenda setting suatu berita, bidangnya sarjana komunikasi khususnya jurusan jurnalistik. Sedangkan banyak wartawan, korlip dan editor yang bukan sarjana komunikasi atau jurnalistik. Tapi, editor dan korlip menurut gw sebaiknya pelajari ini.

Kalau kita paham framing berita, agenda setting, dan menguasai topik berita, kita bisa ambil angle yang tepat untuk sebuah berita. Agar kita bisa memberi dampak suatu berita sesuai yang kita mau (dalam frame kebenaran tentunya).

Gw pikir, audiens juga perlu tahu tentang proses produksi berita. Karena, reporter sering kali jadi sasaran amarah ketika ada judul clickbait misal, padahal yang menentukan judul itu editor.

Buat reporter, penguasaan materi berita itu akan mempengaruhi kedalaman informasi yang kita gali dari narasumber. Harus banyak² diskusi dengan ahlinya, tapi bukan hanya dengan satu ahli dan di pihak yang sama.

Gw kasih contoh, dulu gw ga paham apa² soal isu buruh, ketika pertama kali jadi reporter di Batam. Gw berterima kasih ke cak iban Saibansah Dardani, 7 tahun lalu udah nugasin gw wawancara ke mas Andri Yunarko.

Dan gw jg makasih banget sama mas andri sebagai nara sumber gw waktu itu yang sangat paham kalau ga semua wartawan menguasai isu² ketenagakerjaan/buruh. Paham, apa yang harus disampaikan ke gw.

Gw banyak belajar dari mas andri soal hubungan buruh dan pengusaha. Sehingga gw bisa tulis berita tentang konflik buruh dengan pengusaha secara mendalam dan dengan sudut pandang menarik, meski sering berat sebelah.

Karena gw kurang mendengarkan dari sisi pengusaha. Untung cak iban sadar trus narik gw dari lingkungan buruh, dipindah ke ngeliput pengusaha agar gw lebih berimbang. Tks cak

Maksud gw, reporter please jangan malu tanya dan belajar dari siapapun kalo emang belum paham. Misal lu mau liput soal covid19, banyak hal yang bisa lu tanyakan ke dokter yang berbeda-beda, dokter yang meyakini virus covid mengerikan maupun ecek², juga pasien bergejala maupun OTG.

Biar lu ga salah paham kayak PCR sapi itu.

https://www.vivanews.com/…/54098-dokter-hewan-sebut-sapi-ku…

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10207423017408960&id=1693141377

Sumber : Status Facebook Nurul Indra

Wednesday, July 1, 2020 - 08:45
Kategori Rubrik: