Penggemar FPI Tobat

ilustrasi

Oleh : Ahmad Tsauri

Sebagai remaja, dulu (dulu) saya sangat menyukai buku progresif dan ormas progresif, bacaan saya waktu itu buku-buku Ikhwan Muslim, buku-buku Hasan Bana seperti Hadis Tsulasa, translit pengajian Hasan Bana, dan buku lainnya, termasuk buku-buku Sayid Qutub Maalim fi Thariq, kutipan tafsir fi dzilal Quran, buku-buku jihad Abdullah Azam dan gengnya.

Ormas yang saya suka tentu saja FPI dan yang sejenis seperti GAM (gerakan anti maksiat) pimpinan Habib Muhdor Bogor. Dengan bangga saya pakai kaos ormas ini. Sampai awal ke Jawa Timur saya masih seperti itu.

Ledakan bom Bali I dan II saya sambut dengan suka cita. Bahkan saya dengar dari senior di Bahsul Masail, asal Jember, kepadanya seorang Gus bercerita orang tuanya setuju dengan aksi bom bali sebagai implementasi ajaran jihad dan cara memperlakukan kafir harbiy sebagaimana di kitab kuning.

Saya bersyukur bisa melewati fase itu, tanpa bimbingan guru-guru, diskusi dengan kawan-kawan dan buku-buku nyaris mustahil bisa melaluinya. Tapi sebenarnya, tanpa bantuan agama, menjadi manusia saja sudah cukup untuk menilai kekeliruan para pelaku teror.

Coba tanyakan kepada diri sendiri, bagaimana jika saya menjadi korban aksis teoris? Bagaimana jika saudara, orang tua atau orang yang paling kita kasihi jadi korban?

لايُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
Tidak sehat iman kalian sampai menyukai untuk saudaranya apa yang ia suka untuk dirinya.

Makna hadis ini saya temukan dalam semua tradisi para Nabi, dalam tradisi Yunani, Kristen Konfusionisme dll. Seperti keterangan dibawah ini, para ulama memaknai الاخ, saudara dalam hadis tersebut tidak terbatas hanya saudara dalam iman tetapi juga saudara dalam kemanusiaan; يحب لأخيه فى الانسانية.

المقصود من جملة خصال الإيمان الواجبة أن يحب المرء لأخيه المؤمن، والحقيقة هذا قيد، وهناك من يفسر هذا الحديث تفسيرا أوسع، حتى يحب لأخيه في الإنسانية، ما يحب لنفسه، المؤمن يتميز دائما أن انتماءه لكل البشر،

Nabi saw sering mengatakan hadis tersebut, bahkan dalam riwayat Imam Ahmad, adanya rasa cinta sesama atas dasar kemanusiaan adalah syarat untuk masuk surga.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأحدهم :

أَتُحِبُّ الْجَنَّةَ ؟ قُلْتُ : نَعَمْ، قَالَ : فَأَحِبَّ لِأَخِيكَ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ
Surga bukan tempat untuk para pembenci. Tidak ada tempat untuk kekerasan dan kebencian dalam Islam.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Thursday, May 9, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: