Pengen Makmur? Ikut yang Waras

ilustrasi

Oleh : Karto Bugel

Dua puluh tahun yang lalu, orang tua kami meninggalkan deposito sebesar 20 miliar untuk kami anak-anaknya yang berjumlah 9 orang. Dengan bunga 6% per tahun, masing-masing dari kami mendapatkan Rp. 10 juta setiap bulannya.

Setahun lebih kami menikmati hasil itu, sampai suatu hari om, pak de, keponakan hingga tetangga menawarkan diri mengelola uang tersebut dengan janji hasil 10% per tahun, 4% lebih besar dibanding bunga bank. Kami sepakat dan apalagi sebagian dari kami diangkat menjadi komisaris perusahaan tersebut.

Sejak saat itu, setiap bulan tak kurang dari 18 juta rupiah tiap bulan kami terima. Di sisi lain, banyak dari saudara kami masih mendapat penghasilan lebih atas peran mereka dalam perusahaan-perusahaan tersebut.

Saya sebagai anak tertua tentu bersyukur dapat berperan cukup bagi 8 adik-adik saya. Hidup mereka berkecukupan dengan penghasilan sebesar itu.

Itu 20 tahun yang lalu. Hari ini, harga beras termurah Rp 10 ribu/kg, padahal 20 tahun yang lalu maksimal Rp 3.000. Uang kami tetap namun daya belinya turun.

Mereka yang memanfaatkan uang kami semakin kaya, sedangkan kami, si pemilik pokoknya tetap saja tak berubah, bahkan daya belinya justru menurun.

Benar, aset kami tetap 20 miliar dan masih memberi kontribusi bunga 10% setiap tahun, namun aset mereka sepertinya sudah lebih besar dari pokok yang pernah kami pinjamkan. Mereka sekarang lebih kaya dibanding kami yang dahulu memberi hak pakai atas uang kami.

Beberapa kali saya sebagai kakak tertua mencoba berbicara dengan adik-adik untuk menarik semua aset yang pernah kami pinjamkan tersebut, namun selalu gagal. Selalu ada cara dan alasan dari adik-adik yang menjadi komisaris atau karyawan pada perusahaan itu.

Mereka menolak karena kepentingannya terganggu, dan namun anehnya tak peduli dengan saya sebagai kakak tertua yang memiliki wewenang atas surat waris tersebut.

Apabila seluruh aset dapat saya tarik, kekayaan kami masih sangat besar, sangat cukup untuk membuat kami maju lebih cepat dibanding mereka yang meminjam kemarin. Modal yang kami satukan, akan membuat daya tawar kami lebih besar.

Hari ini, Malaysia, Singapore hingga AS dan Eropa sedang berusaha menahan Indonesia mengambil kembali apa yang sudah lebih dari 50 tahun dibiarkan mengelola banyak hal yang seharusnya sejak dulu kita kelola.

Fasilitas pelabuhan hingga pengaturan wilayah udara kita pinjamkan kepada Singapore. Sawit kita serahkan kepada Malaysia dan banyak tambang kita pinjamkan kepada AS hingga Eropa itu yang kini akan kita minta kembali dan mereka tak suka.

Jokowi sebagai kakak tertua kita hari ini hanya sedang mencari cara agar semua yang pernah negara ini pinjamkan ditarik kembali.

Siapa yang tak suka dan marah, sudah pasti adalah mereka yang memiliki kepentingan dan yang selama ini telah menjadi komisaris dan apapun seperti adik-adik saya tadi.

Terserah anda semua, mau mendukung Jokowi dan kita semua menuju arah yang benar, atau termakan janji-janji mereka yang sudah kenyang namun sedang terancam?

Isu apapun akan mereka keluarkan hanya demi mempertahankan kenyamanan mereka yang sebentar lagi diambil.

Lebih jauh lagi, Jokowi sebagai kakak tertua akan mereka gulingkan, bukan cerita mustahil bila marah dan frustasi tinggal menjadi satu-satunya pilihan.

Ngamuk dan tak peduli atas akibat yang akan dihasilkannya, bukankah orang kesetanan selalu seperti itu?

Monggo, mau ikut mereka yang kesetanan atau yang waras..?
.
.
.
RAHAYU
Sumber : Status Fanspage Karto Boogle

Thursday, October 22, 2020 - 09:30
Kategori Rubrik: