Pengalaman Diskusi Dengan Komunitas Bumi Datar

Ilustrasi

Oleh : Parawansa Assoniwora

Beberapa tahun yg lalu, saya secara khusus diundang dalam sebuah diskusi bedah buku. Buku yg ingin dibedah waktu itu adalah buku dengan judul “Runtuhnya Teori Evalosi” karya Harun Yahya, seorg scientist berkebangsaan Turki. Pada saat itu, memang buku itu sedang “Best Seller” dan sering dijadikan bahan diskusi di kampus2. Yg menjadi narasumber waktu itu adalah seorg dosen dr ITB sekaligus sebagai ahli Kimia-Molokuler dan dekan Saya sendiri yang juga seorang Professor pada Jurusan Pendidikan Kimia.

Mau tau alasan saya diundang khusus? Karena saya dianggap “anti” terhadap buku itu. Tapi sebenarnya saya sama sekali tidak anti, cuma saya mencoba untuk kritis aja dan tidak cepat terpengaruh pada hal2 yg sifatnya lagi trend waktu itu.....

Di ruang auditorium yg cukup besar, seperti dugaan saya, peserta yg hadir cukup banyak dan berasal dari satu aliran tertentu saja. Tapi namanya diundang khusus, yaa saya tetap hadir walau saya tau hal2 negatif yg mengarah ke saya secara pribadi, mungkin saja terjadi....

Akhirnya, bedah buku dimulai, para narasumber mulai memaparkan setiap bab buku dengan sangat detail dan dengan semangat yang berapi2..... Saya tetap tenang, dan segala pertanyaan yg ada dibenak saya, tak satupun yg terjawab dan justru semakin “menggila”....

Akhirnya, masuklah pd sesi diskusi dan tanyajawab. Saya sengaja tidak begitu antusias, karena saya sadar di forum mana saya berada. Tetapi ketika sesi selanjutnya dibuka kembali, saya sengaja mengacungkan tangan saya keatas, walau pun itu sangat terlambat sekali..... Dan benar dugaan saya, walau terlambat, kesempatan itu diberikan kepada saya... karena emang dari awal saya sangat yakin pendapat saya sangat ditunggu-tunggu.....

Ohh iyaa, inti dari buku itu sebenarnya adalah menolak teori evolusi Charles Darwin yang dianggap berdasar pada paham Materialis....

Mulailah saya berpendapat. Saya memulai kalimat saya dengan mengatakan bahwa dalan kaidah Ilmu pengetahuan, thesis dan anti-thesis itu adalah hal yg sangat biasa sekali.... Ada teori, terus ditolak dan diganti dengan teori baru, terus ditolak lagi, dan diganti lagi dengan teori baru, atau teori lama diperbaiki atau diterima lagi dan seterusnya sampai entah kapan akhirnya.....tetapi, saya tambahkan juga, bahwa bagi Darwin, teori nya salah saya pikir tidak jadi masalah bagi dia. Tetapi bahwa “missing-link” yg mereka persoalkan pd teori tersebut, masih terus didalami oleh banyak ahli Biologi sampai saat ini.... Nah, gmn dengan berbagai macam dalil yang Al-Quran yang digunakan untuk membantah itu? Saya dengan tegas menyampaikan bahwa saya menposisikan Al-Quran pd derajat yag lebih tinggi dari teori apapun, dan ini dalam keyakinan saya tidak mengacu pd teori ilmiah tentang thesis dan antithesis. Bagi saya, Al-Quran adalah thesis/sintesis yang sudah baku dan tidak diragukan lagi dan berhenti disitu. Khususnya bagi kita yg muslim. Terus yg menjadi masalah adalah kenapa itu harus dibenturkan dengan teori yg sifatnya masih terus bergerak yang entah sampai kapan akhirnya..... Saya bertanya, apakah yakin bahwa dalil yg dimaksud adalah dalil yg emang hanya untuk meruntuhkan teori Darwin itu saja? Bagaimana selanjutnya, ketika 100 atau 200 tahun akan datang, ternyata ditemukan lagi “missing-link” yang ditolak dengan dalil2 itu tadi, sehingga “perang” permbuktian Ilmiah itu kembali terjadi. Mau ditaruh dimana muka Agama kita? Bukankah hal seperti ini telah terjadi ketika Copernicus dan Galileo mengatakan bahwa bumi itu bulat terus dianggap Bid’ah oleh Agamawan (gereja) waktu itu karena dianggap berbeda dgn keyakinan mereka bahwa bumi itu datar, dan akhirnya harus dihukum? Tp bukankah Bumi itu bulat sekarang terbukti? (Kecuali kalian penganut “the flat-earth”).

Saya menyampaikan bahwa kitab suci bagi saya merangkul hal yg sangat besar. Sehingga, hal-hal sepele seperti Teori Darwin gak usah harus dalil Ayat2 Suci yang digunakan. Yakini saja, pelan2 semua akan terbukti. Ketakutan saya adalah, karena kita ingin mencocok-cocokkan, tapi justru malah merusak keyakinan generasi kita yang akan datang... Sebenarnya, narasumber agak sedikit kaget dgn pernyataan saya. Karena sampai akhir acara, tidak ada lagi sesi diskusi, dan saya “dipaksa” untuk mendengar saja.

Ehmmm.... setelah saya berbicara, seorang akhwat menyerang saya secara personal. Saya ingat betul kalimatnya: “Saya tau kak Ancha suka belajar Teori Kiri, sehingga tidak mengakui kebenaran ini. Apa yg kakak pelajari adalah ajaran Yahudi dan org2 Kafir”.... Saya cuma tersenyum.... Dalam hati saya berkata Ibadahku hanya kepada Allah, dan tidak mesti manusia harus tau itu semua. Kalo’ perlu, kusembunyikan ibadahku, seperti ku menyembunyikan aibku...... DONE!!!! Saya pun keluar..... Dalam perjalanan keluar, ketua Panitia datang minta maaf....

Sampai saat ini, saya coba konsisten dengan itu. Bukan hanya pd bidang Pengetahuan Alam, tapi juga di bidang sosial, seperti politik dan kenegaraan..... saya sangat yakin, NILAI-NILAI itu lebih penting dari FIGUR atau SISTEM itu sendiri..... Dengan kata lain, NILAI-NILAI KEISLAMAN bagai saya lebih penting dari ORANG ISLAM.....

Sumber : Status Facebook Parawansa Assoniwora

Wednesday, June 20, 2018 - 14:30
Kategori Rubrik: