Pengacara adalah Salah Satu Profesi yang Sulit Dikontrol

ilustrasi

Oleh : Buyung Kaneka Waluya

Keuangan mandiri..., otoritas bekerja mandiri..., bahkan bagi klien pengacara bisa dianggap "Dewa".

Apa yang dititahkan..., ibarat "sabda pandita ratu".

Klien tidak boleh membantah..., wajib taat advice Lawyer.

Jika tidak nurut....?

Tangani saja perkara sendiri.

Berbeda dengan profesi penegak hukum yang lain..., yang terikat SK kepegawaian..., yang gajinya ada pada kantung negara..., yang pekerjaannya berdasarkan kebijakan dan supervisi negara..., dan yang tindakannya dikontrol oleh negara.

Pengacara bisa menjadi dewa dan malaikat..., tetapi pada kondisi tertentu bisa menjadi seorang yatim.

Tidak ada yang mempedulikan..., tidak ada yang mengapresiasi..., tidak ada yang menjamin kantung terisi atau minimal dapur ngebul..., dan periuk bisa terisi beras ditanak.

Dalam konteks itu-lah..., orang bisa memahami tidak ada tempat bagi pribadi yang lemah untuk meniti profesi pengacara.

Setiap pengacara dituntut menjadi petarung..., karena posisinya yang memang menjadi pembela.

Tidak mungkin hadir pada diri pembela jiwa-jiwa yang kerdil..., jiwa-jiwa yang rapuh..., apalagi jiwa labil yang mudah mengganti posisi berdiri di atas kaki yang lain.

Pada prakteknya..., dan kita pasti temui..., meski tidak mayoritas..., profesi ini juga dihinggapi pribadi pragmatis oportunistik..., yaitu oknum pengacara..., yang sangat mudah memisahkan kaki di mana kepentingan pribadi diuntungkan.

Amanah itu adalah sebatas harga..., besaran rupiah akan mendorong kecenderungan loyalitas.

Tidak perlu menghardik..., tidak perlu mengeluarkan sumpah serapah..., biasa saja..., karena setiap profesi pasti ada penyimpangan.

Pada akhirnya..., seorang pengacara akan dikumpulkan dengan klien yang seirama.

Yang jujur..., amanah..., bermartabat..., Istiqomah..., akan berhimpun dengan klien-klien yang amanah..., menghargai jasa hukum..., mengapresiasi terhadap karya advokat yang tidak berbentuk fisik.

Kita tidak perlu mengukur isi kantong klien..., atau mengukur ketebalan kantong lawan..., cukup jalankan amanah..., rezeki sudah ada yang mengatur.

Tidak berkurang hak karena berjuang..., tidak berkelimpahan harta karena pengkhianatan.

Kalau belum rejeki..., dikejar tetap berlari.

Kalau sudah milik..., kita tidur juga rekening ada yang transfer.

Pengacara Pejuang..., adalah kelompok pengacara yang tidak saja menjalankan profesi untuk mencari nafkah..., tetapi menjalankan sebuah misi.

Misi ini yang menuntunnya melangkahkan kaki..., berpeluh..., berkeringat..., berkorban demi sebuah tujuan.

Inilah yang ditakuti penguasa dzalim...., sebab pengacara tidak punya atasan..., dan tidak terikat dengan status gaji..., tidak terpasung dengan ikatan struktural.

Ia dapat melanglang buana ke seluruh medan pertarungan..., dari urusan perdata yang belum menjadi sengketa..., dari penyidikan yang menjadi wewenang polisi..., beralih ke penuntutan menghadapi jaksa..., melakukan banding atas putusan hakim..., bahkan sampai mendampingi klien menjalani putusan di lapas.

Lingkup pekerjaan pengacara dari A sampai Z..., dan kinerja ini tidak dimiliki profesi lain selain dari pengacara.

Kemampuan dan ruang deklamasi yang begitu luas..., jika digunakan untuk melakukan pertarungan melawan kekuasaan yang dzalim..., bisa diprediksi dampaknya.

Mungkin ini yang menyebabkan para tiran..., ketika ingin melanggengkan kekuasaannya..., yang pertama harus mereka lakukan adalah :

"Lets Kill All Lawyer".(Shakespeare).

Rahayu

Sumber : Status Facebook Buyung Kaneka Waluya

Thursday, February 27, 2020 - 09:45
Kategori Rubrik: