Penerbitan IMB Pulau Reklamasi dan Prediksi Pilpres

Oleh: Rudi S Kamri

Beberapa hari terakhir kita dikejutkan dengan kenekatan Gubernur DKI Jakarta dalam mengeluarkan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) di pulau reklamasi Jakarta Utara. Beberapa media dan netizen menggugat konsistensi janji kampanye Anies Baswedan dengan realitas yang dilakukan. Bahkan WALHI Jakarta pun mempertanyakan sikap plin-plan dari Anies Baswedan tersebut. Tapi Anies masih tetap bersikukuh dengan keputusannya.

Kalau saya, sama sekali tidak kaget dengan sifat inkonsistensi seorang Anies Baswedan. Karena rekam jejaknya terpapar panjang bak jalan tol Jakarta - Surabaya. Dulu tahun 2014 dia gigih mengecam dan mempertanyakan kapasitas seorang Prabowo untuk menjadi Capres. Tahun 2019, dia berbalik 180° memuji-muji Prabowo sebagai Capres yang hebat. Dulu dia giat mengkampanyekan gerakan "merajut tenun kebhinekaan Indonesia", tapi saat Pilkada DKI Jakarta 2017 dia dengan senyum lebar merobek-robek tenun kebangsaan dan dengan dingin mengibarkan politik identitas keagamaan untuk mendapatkan kekuasaan di Balai Kota Jakarta. Dan banyak lagi daftarnya.

 

Sebetulnya secara aturan formal, memang dia berhak berbuat apa saja di daerah kekuasaannya DKI Jakarta. Dan kebetulan dia diuntungkan dengan memble-nya pengawasan dari Mendagri. Sebagai contoh selama 10 bulan lebih dia menjadi PENGUASA TUNGGAL di DKI Jakarta tanpa Wagub pun, Mendagri membiarkannya. Luar biasa keren kan ?

Seharusnya seorang pejabat publik tidak semata mengacu pada aturan formal semata dalam mengambil keputusan yang berdampak pada publik. Tapi perlu juga ada kebijakan yang mengacu pada etika sosial dan konsistensi janji yang telah terlanjur disampaikan pada rakyat. Dan kepekaan dalam beretika ini yang memang tidak dimiliki oleh seorang Anies Baswedan. Seharusnya 58% rakyat DKI Jakarta yang tertipu dengan janji kampanyenya bisa menggugat. Tapi konyolnya kaum 58% ini sudah menjelma menjadi pasukan dungu yang buta mata hati dan nuraninya. Jadi apapun keputusan yang diambil oleh Anies akan tetap diberikan tepukan gemuruh dan membabi buta mendukungnya. 

Tapi ada yang menarik dengan langkah Anies Baswedan akhir-akhir ini. Selain menerbitkan IMB pulau reklamasi, didahului dengan langkah dia begitu akrab merangkul para perusuh 22 Mei yang sudah menghancurkan kotanya. Dia juga membiarkan pintu Jakarta terbuka lebar bagi pendatang dari daerah pasca mudik lebaran tanpa seleksi. Dan baru-baru ini dia terbang ke Palu memberikan sumbangan bencana gempa dan tsunami yang terjadi 9 bulan lalu yang kebetulan Gubernur Sulawesi Tengah dijabat oleh kader Gerindra. Pemberian sumbangan yang super telat tidak dihiraukan, yang penting mendapatkan liputan media sebagai orang yang pemurah. 

Ada apakah kok tiba-tiba dia begitu semangat ingin menjadi spotlite media massa nasional ?

Saya menduga keras ada 2 hal yang dilakukan Anies Baswedan saat ini. Dan semuanya mengarah pada persiapan Pilpres 2024.

PERTAMA
Dia mencari simpati publik dengan merangkul sebanyak mungkin berbagai kalangan bahkan kaum anti pemerintah seperti para perusuh pun dirangkulnya. Di sisi lain dia juga ingin mendapatkan simpati secara nasional sebagai seorang pemimpin yang peduli dengan para pendatang meskipun akan berpotensi besar menjadikan Jakarta penuh sesak "over capacity". 

KEDUA
Dengan menerbitkan IMB pulau reklamasi secara tidak langsung dia merangkul erat pengusaha kakap klan 9 naga yang terlibat dalam proyek raksasa reklamasi teluk Jakarta untuk kepentingan "fund rising". Mungkin juga bisa mendompleng proyek-proyek di DKI Jakarta yang super jumbo untuk kegiatan pengumpulan dananya. 

Salahkah yang dilakukan Anies Baswedan ? Sama sekali tidak salah. Hal itu sah-sah saja dalam politik. Bahkan ada kemungkinan saat ini dia sudah mempersiapkan Tim Suksesnya melalui jalur jaringan alumni HMI atau jalur lain. Apalagi secara realita berdasarkan hasil survei dari salah satu lembaga survey terpercaya dia dianggap merupakan kandidat terkuat untuk Pilpres 2024 nanti.

Pertanyaannya, apakah kita ikhlas dan rela punya Presiden se-kualitas Anies Baswedan ?
Kalau saya sih ogah, entahlah kalau Anda.....

Salam SATU Indonesia
21062024

Sunday, June 23, 2019 - 09:45
Kategori Rubrik: