Penebar Hoax, Petarung Cengeng

Ilustrasi

Oleh : Rijal Mummaziq

Politik itu kayak truk sedot WC. Kita butuh, tapi tidak setiap waktu. Apalagi terlampau sering. Kalau butuh ya dipakai. Panggil saja petugasnya. Bayar. Selesai. Karena itu dalam soal politik saya nggak mau serius-serius. Apalagi sampai mengkopar kapirkan segala. Lha ngapain, wong politik itu lucu. Di Jakarta, kader PKS koyok yok-yok-o mau Perang Badar segala melawan PDI-P yang ditengarai membantu penis-ta agama. Lha di daerah lain, kader kedua partai ini juga asyik berembug strategi pemenangan calon kepala daerah yang dia dukung sambil kongko-kongko di kafe.

Jadi, nggak usah serius-serius mbela politik. Ngapain, elit-elitnya sibuk bagi proyek, sedangkan kroco-kroconya gedebak gedebuk di dunia maya ngabisin kuota mbela junjungannya. Petinggi partainya asyik nonton tari hula hula di Hawai, kader bawahannya hanya bisa nonton topeng monyet di perempatan kampung.

Bos partai naik alphard berpendingin, wangi, nenteng hape mutakhir, lha kader-kader di bawahnya bingung bayar cicilan motor, mumet mikir harga beras dan rokok yang naik. Itupun belum mikir dana buat beli kuota untuk ber'jihad' menjadi cyber army sambil pisuh-pisuhan di medsos. Hahaha. Lha kalau sudah tercyduk, coba dicek, berapa sahabat yang mau menjenguk di bui. Boro-boro membantu, tanya nomor rekening buat membantu sewa pengacara saja nggak ada, kok. Jadi, nggak usah kagum dengan jumlah jempol dan komentar puja puji yang mampir di status penyebar kebencian maupun pengecer hoax. Anggap saja itu tepuk tangan penonton yang kalau pertandingan seru mereka bakal bersoraksorai, tapi kalau ada pemain cidera mereka diam lalu beringsut meninggalkan pinggir gelanggang. Nggak peduli pemain semaput atau mati kena sikut lawan.

Wis ta? Paham ta? Nggak usah terlampau serius ngurusi politik. Kalau pengen serius ya nyemplung sekalian. Asal jangan jadi petarung cengeng. Ada masalah sedikit, curhat. Kena hantam, mewek, curhat kalau didzolimi. Lha dalah. Ini sih pesilat tanggung yang cengeng. Sudah tahu resiko masuk gelanggang bakal babak belur kalau nggak punya kemampuan beladiri yang baik, malah bergaya jadi pesilat. Akhirnya ya cengeng. Ngalem. Merasa didzolimi terus. Padahal ya begitulah resiko menjadi petarung. Duel.

Tapi yo ngene iki reeeek, goro goro politik Cap Segawon, molai taun 2014, gegeran ra mari-mari. Goro-goro mbelo bokonge Prabowo lan Jokowi, santri-santri podo padu. Aku jek eling rek, sik panas-panase kampanye nang fesbuk mbelani Prabowo, ono santri senior pondok gede nang Rembang nyelathu lek kiai pendukung Jokowi iku kiai pelacur. Sak walike yo ngunu, ono santri (mboh pondok ndi, aku lali) sing ndukung Jokowi nuduh poro kiai sing ndukung Prabowo iku kiai goblok, kerono jarene diapusi Prabowo. Embuhlah, lek babakan politik, koyoke akeh sing ilang kewarasane.

Sepisan maneh, ra usah nemen nemen mikir politik. Digawe santai ae yo....yooo....yoooo..

Sumber : Status Facebook Rijal Mumazziq

Thursday, February 22, 2018 - 00:15
Kategori Rubrik: