Pendukung Sekaligus Pembunuh Prabowo

Oleh: Sunardian Wirodhono

 

Ulah pendukung Prabowo yang tak proporsional, lebih sering dipenuhi ujaran kebencian, membuat meme atau komen negatif, membuat nilai jual Prabowo makin anjlok. Apalagi dengan gampang menyebar fitnah.

Lihat fitnah terbaru pendukung Prabowo, ditudinglah dalam debat kedua Jokowi menggunakan alat khusus (entah itu earpiece atau pulpen). Tudingan tanpa pembuktian, di jaman medsos pakai gaya bertanya, sama saja keji.

 

 

Kalau ada yang percaya, pasti karena lebih bodoh, atau memang sudah membenci sebelumnya. Apalagi bagi yang tak melihat fakta, bahwa Prabowo memang kalah set. Fitnah itu bukan saja menghina KPU dan Bawaslu, tapi juga kewarasan kita. Apakah kita akan toleran pada ketidakwarasan ini? Rela negara dikuasai kelompok tak waras?

Seperti ketika mereka menyebar kabar bohong soal lima skenario, bahwa Jokowi akan menyingkirkan Ma’ruf Amien. Dan endingnya Ahok/BTP bersanding dengan Hari Tanoe sebagai RI1-RI2. Bagaimana logikanya? Tak penting soal logika, apalagi moral.

Karena tujuannya untuk meyakinkan ‘kelompok Islam’ yang mendukung mereka, agar tidak nyeberang. Mereka cemas, Jokowi-Ma’ruf makin banyak menerima dukungan dari kalangan Islam, yang dulunya ke Prabowo. Banyaknya deklarasi pada Jokowi, membuat mereka gentar. Mereka mendelegitimasi aksi deklarasi itu sebagai sesuatu yang kuno. Karena volume deklarasi ke mereka kalah banyak.

Soal fitnah alat bantu Jokowi dalam debat ke-dua, tujuannya antara lain untuk membelokkan perhatian masyarakat, dari isu penguasaan lahan Prabowo. Demikian juga serangan balik, bahwa data yang disampaikan Jokowi tak valid. Mereka mencoba menegasikan substansi tudingan Jokowi.

Tapi mungkin Jokowi kurang mau berbagi strategi, apalagi yang high-risk. Ia tanggung sendiri. Seperti seorang raja mengulum intan. Dia membiarkan strateginya menemukan jalan. Karena Jokowi bukan bagian masa lalu. Bukan bagian dari masalah. Juga ketika di sekitar Jokowi ada militer, pelanggar HAM, mungkin juga pemegang lahan HGU?

Sebagai outsider, Jokowi bisa dengan enteng membakar sawah, hingga ular dan tikus keluar dari sarangnya. Dan antarmereka bisa saling serang. Jika Jokowi pada periode ke-dua akan fokus ke suprastruktur, pembangunan SDM, maka antara lain penegakkan hukum akan jadi senjata mautnya.

Periode terakhir Jokowi, nilai komprominya akan lebih rendah. Nothing to lose. Itulah yang ditakuti orang-orang masa lalu, baik yang berbaik-baik pada Jokowi, maupun memusuhi. Jokowi bukan bagian dari mereka, sehingga lebih bisa melenggang lepas dari belenggu soehartoisme, satu demi satu, perlahan tapi pasti.

Di situ kelas seorang strateg. Bukan aktivis yang dikit-dikit demo, dikit-dikit ngambeg ngancam golput. Dia seorang pemberani, dan teguh. Masuk ke jantung pertahanan lawan. Meski bisa jadi sendirian. Dan kita sambil kongkow di cafe, menebarkan skeptisisme? Orang baik dukung orang baik. Dan Prabowo dibunuh oleh pendukungnya sendiri.

 

(Sumber: Facebook Sunardian W)

Tuesday, February 19, 2019 - 14:30
Kategori Rubrik: