Pendidikan Radikal

ilustrasi

Oleh : Efron Bayern

نعمة لكم وسلام من الله ابينا والرب يسوع المسيح

Minggu ini adalah Minggu ke-22 setelah Pentakosta. Bacaan Ekumenis diambil dari Hagai 1:15b-2:9, Mazmur 145:1-5, 17-21, 2Tesalonika 145:1-5, 17-21, dan Lukas 20:27-38.

Dalam bacaan Injil Minggu ini Yesus dan orang-orang Saduki bersoal-jawab. Latar cerita adalah Yesus mengajar di Bait Allah dalam Lukas 20-21.

Dikisahkan beberapa orang Saduki mendatangi Yesus, yang menurut penulis Injil Lukas mereka tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka bertanya kepada Yesus: "Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang memiliki saudara laki-laki, mati, sedang isterinya masih ada, tetapi ia tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan lalu mati dengan tidak meninggalkan anak. Lalu perempuan itu dikawini oleh yang kedua, dan oleh yang ketiga dan demikianlah berturut-turut oleh ketujuh saudara itu, mereka semuanya mati dengan tidak meninggalkan anak. Akhirnya perempuan itu pun mati. Bagaimana sekarang dengan perempuan itu, siapakah di antara orang-orang itu yang menjadi suaminya pada hari kebangkitan, sebab ketujuhnya telah beristerikan dia?" (ay. 27-33)

Saduki (dari kata Zadok) adalah nama kelompok aristokratik Yahudi yang berkuasa di Yerusalem hingga Bait Suci dihancurkan pada 70 ZB. Kaum Saduki juga bertanggung jawab terhadap ibadah yang dilakukan di Bait Suci sebagai kaum imam, yang hampir seluruh imam-imam dapat digolongkan sebagai kaum ini. Jabatan Imam Besar Yahudi pada umumnya diduduki oleh orang Saduki, tetapi tidak semua orang Saduki adalah imam. Ada kemungkinan bahwa orang-orang Saduki juga terdiri dari orang awam yang kaya dan tuan-tuan tanah.

Di lingkungan orang Yahudi pada masa itu kebangkitan adalah wacana secara nisbi baru, yang baru muncul sekitar abad ke-2 SZB seperti dalam Kitab Daniel 12:2. Sampai menjelang akhir abad 1 ZB, ketika Injil Lukas ditulis, perdebatan dan perkembangan wacana kebangkitan masih terus terjadi sehingga ada berbagai pemikiran yang berbeda dalam Perjanjian Baru.

Dalam tradisi Israel (lih. Ul. 25:5), termasuk yang terkandung dalam perkawinan Levirat, tujuan perkawinan yang utama bukanlah untuk mengesahkan cinta kasih romantis seperti dalam kebudayaan modern, melainkan untuk mendapatkan anak atau keturunan. Manusia akan mati. Adanya keturunan akan mencegah kepunahan. Jadi, pertanyan orang-orang Saduki di atas pumpunnya bukanlah pada siapa suami perempuan itu, melainkan apakah Yesus bersama dengan mereka yang tidak percaya pada kebangkitan.

Jawab Yesus kepada mereka: "Orang-orang dunia ini kawin dan dikawinkan,tetapi mereka yang dianggap layak untuk mendapat bagian dalam dunia yang lain itu dan dalam kebangkitan dari antara orang mati, tidak kawin dan tidak dikawinkan, sebab mereka tidak dapat mati lagi; mereka sama seperti malaikat-malaikat, tetapi mereka adalah anak-anak Allah, karena mereka telah dibangkitkan. Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, yang TUHAN disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup." (ay. 34-38)

Jawaban Yesus di atas menurut teologi penulis Injil Lukas Yesus membuat pembedaan yang tegas: ada dua dunia. Pertama, dunia ini, orang memang kawin dan dikawinkan. Kedua, dunia yang lain itu, dunia orang-orang yang dibangkitkan tidak begitu. Sesudah kebangkitan manusia tidak lagi kawin dan dikawinkan, karena sudah tidak paut lagi. Tidak paut, karena tidak dapat mati lagi. Perkawinan menurut Levirat ialah mencegah kepunahan. Manusia pada hari kebangkitan sama dengan malaikat: tidak dapat mati lagi.

Meski berangkat dari latar dan prapaham yang berbeda, penulis Injil Markus, Lukas, dan Matius menyampaikan hal yang sama bahwa sesudah kebangkitan kawin-mengawin-dikawinkan tidak paut lagi, karena manusia tidak mati lagi. Tidak ada penyediaan bidadari untuk memenuhi kebutuhan seksual laki-laki. Apabila kita melanjutkan membaca ayat berikutnya (ay. 39), beberapa ahli taurat berpendapat, “Guru, jawab-Mu itu tepat sekali.”

Di sini kembali Yesus mengajarkan bagaimana berpikir radikal, yang hendak menjernihkan realitas lewat pemahaman akar realitas itu sendiri. Yesus tidak terjebak siapa laki-laki yang akan dihutung menjadi suami perempuan. Untuk menjawab pertanyaan itu Yesus berpikir radikal, yang tidak akan pernah terpaku pada fenomena suatu entitas tertentu. Ia akan mengobarkan hasrat-Nya untuk menemukan akar (radix) seluruh realitas. Apabila akar realitas itu ditemukan, maka segala sesuatu yang bertumbuh di atas akar itu akan dapat dipahami.

Saya tertarik apa yang disampaikan oleh Mendikbud Nadiem Makarim di hadapan Komisi X DPR pada Kamis lalu. Nadiem menyindir masyarakat yang saat ini hidup di era digital. Mereka mengira mentang-mentang Nadiem adalah pengusaha besar bisnis digital kemudian bidang pengajaran dibuat aplikasi digital. Sehebat-hebatnya teknologi, kata Nadiem, ia tidak bisa mengganti nasabah murid dan guru, nasabah batin. Nasabah murid dan guru yang terbaik itu bukan seberapa banyak informasi yang dia tahu, tapi yang punya nasabah batin terkuat. “Dari situlah timbul rasa percaya, baru itu anak bisa belajar.” kata Nadiem.

Hal itu senada dengan empu pendidikan J. Drost (1988). Guru menolong apa yang tidak dapat dilakukan oleh orangtua, yaitu pengajaran. Untuk mengajar guru memasukkan unsur pendidikan agar anak merasa aman dan nyaman dalam belajar. Mengajar-belajar, bukan belajar-mengajar.

Dalam pada itu empu pendidikan orang dewasa Andar Ismail (1990) mengatakan bahwa kita jangan jatuh pada pandangan sauvinistik, pandangan sempit yang menganggap bahwa budaya kita lebih luhur daripada budaya pendidikan di belahan dunia lain, atau budaya kontemporer lebih baik daripada budaya pendidikan purba. Orang kerap terjebak dalam anggapan bahwa suatu pemikiran yang baru pastilah paut dibandingkan dengan pemikiran dari abad-abad sebelumnya yang dianggap usang. Rendah atau luhurnya suatu kebudayaan bergantung pada rendah atau luhurnya pandangan kebudayaan yang bersangkutan terhadap pendidikan.

Nadiem Makarim sudah memeragakan bagaimana berpikir radikal. Ia tidak terjebak oleh romantisme budaya digital, tetapi melihat dan menemukan akar realitas untuk memahami sistem pendidikan yang tumbuh di atas akar realitas itu. Seperti Yesus yang mengatakan bahwa hidup sesudah kematian bukan soal kawin-dikawinkan, demikian juga Nadiem yang menolak tujuan pendidikan untuk membuat pemuda pintar dan mendapat pekerjaan, melainkan menjadikan pemuda harus bisa berpikir secara independen, berpikir secara kritis, dan mampu memertanyakan informasi yang diterima.

Quote of the day:
“Never try to teach a pig to sing. It wastes your time and annoys the pig.”

يباركك الرب ويحرسك.
يضيء الرب بوجهه عليك ويرحمك.
يرفع الرب وجهه عليك ويمنحك سلاما.

Wassalam,

Sumber : Status Facebook Efron Bayern

Sunday, November 10, 2019 - 19:00
Kategori Rubrik: