Pendidikan Kita Harus Dibenahi

ilustrasi
Oleh : Budi Santoso Purwokartiko
 
Dunia pendidikan kita sering dikritik terlalu dominan mengajarkan bagaimana cara cepat mengerjakan soal. Tetutama metoda belajar di tempat bimbel. Dan itu dapat jodoh di cara seleksi mahasiswa yang juga mengukur itu. Tanpa bermaksud meremehkan peran guru dalam mengajar, itu memang fakta. Di level internasional siswa kita ranking PISAnya juga rendah, tetutama untuk kemampuan problem solver, kemampuan menyelesaikan persoalan yang panjang lewat tahap formulasi dan metoda yang tepat.
 
Di kalangan mahasiswa pertanyaan-pertanyaan mengenai konsep, pengertian, formulasi persoalan juga mendapat nilai rendah . Tapi pertanyaan bagaimana menyelesaikan soal, ngitung-itung akan dengan baik diselesaikan. Anak saya sendiri adalah buktinya. Misalnya saya tanya ada berapa jenis games dalam Game Theory. Dia jawab," kasih saja soal, aku nanti bisa ngitung". 
Kalau presentasi tugas, jarang ada temannya yang mengkritisi, sekedar menyimak. Tidak ingin mempertanyakan secara lebih detail suatu topik yang dipresentasikan.
 
Secara umum orang bilang siswa kita suka yang belajar secara instant: formulasi sudah diberikan,tinggal ngitung dengan rumus.
Persoalan dalam hidup tidak semudah soal di dalam kelas. Banyak parameter harus dicari, formulasi harus dilakukan dengan baik, metoda yang tepat harus dipilih dari sekian banyak kemungkinan. Urusan menemukan solusi menjadi hal yang tidak sulit karena banyak software yang bisa membantu.
Dalam beragama konon juga terjadi fenomena serupa. Banyak amalan instant yang jadi primadona. Dasarnya iming-iming pahala. Maka tidak heran ada teman alumni ITB bercerita bahwa temannya yang pengusaha sering kali mengurangi timbangan, takaran atau komposisi bahan, dalam berdagang atau mengerjakan proyek demi dapat profit yang lebih tinggi. Tapi hampir tiap tahun dia umroh. Pahala beribadah di tanah suci yang katanya puluhan kali lipat diharapkan lebih besar daripada dosa yang dibuat karena mengurangi timbangan.
 
Banyak yang getol ngumpulin tabungan pahala dari gaya celana yang ala rosul atau dari ukuran jenggotnya daripada beramal yang lain yang lebih esensial. Amalan-amalan asesoris yang nggak berefek lebih disukai daripada amalan esensial yang berefek bagi masyarakat dan lingkungan.
 
 Amalan esensial misalnya bersikap jujur sehingga orang merasa aman bekerja dengan dia. Atau amalan berupa bekerja secara 'bersih' sehingga proyek yang dikerjakan berkualitas tinggi sehingga hasilnya dirasakan masyarakat.
Saya melihat ini seperti ada paralelisme antara cara belajar anak yang pinter mengerjakan soal tapi kurang.memahami esensi masalahnya dengan amalan asesoris.
 
Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko
 
 
Wednesday, June 5, 2019 - 13:30
Kategori Rubrik: