Pendapat Menarik Nasr Hamid Abu Zayd Tentang Poligami

Oleh: Saefudin Achmad

 

Nasr Hamid Abu Zayd adalah cendekiawan muslim kontroversial di abad 21. Banyak pandangannya tentang Islam yang memancing reaksi keras dari kalangan ulama-ulama konservatif fundamentalis. Salah satu pandangan beliau yang cukup kontroversi adalah soal poligami yang cukup menyentil. Ayat tentang poligami ada pada surat An-Nisa ayat 3.

Dalam menafsirkan ayat tersebut, ada 3 langkah yang digunakan oleh Nasr Hamid Abu Zayd.

 

Pertama, konteks teks ayat. Menurutnya, sebelum datangnya Islam (pra Islam) poligami tidaklah dibatasi sampai empat, melainkan lebih dari itu. Kemudian ketika Islam datang dengan al- Qur’annya, izin seorang laki-laki untuk menikah dibatasi sampai empat kali. 
Kesimpulannya, ayat poligami tersebut berfungsi untuk membatasi, bukan memperbanyak.

Kedua, meletakkan teks dalam konteks al-Qur’an secara keseluruhan. Nasr Hamid mencoba untuk menemukan makna yang “tak terkatakan” dalam al-Qur’an. Pada konteks poligami ini, Nasr Hamid membandingkan dua ayat yang cenderung saling menjelaskan, ia membandingkan surat an-Nisa ayat 3 dan an-Nisa ayat 129.

Nasr Hamid menganalisis kedua ayat tersebut dengan analisis linguistic. Beliau fokus kepada makna kata “adil”. Pada ayat yang pertama (An-Nisa ayat 3) kata “adil” adalah fi’il syarth, dan kata “seorang” adalah sebagai jawab syarth, kemudian ditegaskan oleh ayat sesudahnya (an-Nisa 129) bahwa adil adalah sesuatu yang mustahil bisa dilakukan oleh manusia.

Dari sini Nasr Hamid ingin mengungkapkan bahwa salah satu syarat seseorang boleh berpoligami adalah masalah keadilan, tapi untuk bisa berbuat adil, seseorang tidak akan mampu melakukannya, karenanya Nasr Hamid menyimpulkan bahwa “poligami dilarang”.

Ketiga, mengusulkan sebuah pembaharuan hukum Islam (contribution to knowledge). Dalam hukum Islam klasik poligami diklasifikasikan masuk dalam bab “hal-hal yang diperbolehkan”. Nasr Hamid tidak sepakat dengan klasifikasi tersebut.

Menurutnya, Poligami tidak masuk kategori “hal-hal yang diperbolehkan” karena pembolehan terkait dengan hal yang tidak dibicarakan oleh teks, sementara pembolehan poligami dalam al-Qur’an pada hakikatnya adalah sebuah pembatasan dari praktek poligami yang tak terbatas. Nasr Hamid meyakini bahwa “pembatasan” tidak berarti “pembolehan”.

Kesimpulannya (sebagaimana yang penulis pahami), Nasr Hamid tidak sepakat dengan ulama-ulama konservatif soal “pembolehan” poligami. Nasr Hamid berkeyakinan bahwa syarat poligami yang terlampau berat yaitu “adil”, yang menurut An-Nisa Ayat 129 dijelaskan bahwa tidak ada manusia yang bisa berlaku “adil”, yang membuatnya tidak sepakat dengan adanya poligami di era sekarang.

 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Monday, February 10, 2020 - 08:00
Kategori Rubrik: