Pendapat Menarik Gus Baha' tentang Takdir

Oleh: Saefudin Achmad

 

Seperti biasa, saya ingin menulis pendapat Gus Baha' yang beliau sampaikan dalam sebuah pengajian. Tidak ada maksud apa-apa. Saya punya keyakinan ilmu itu harus ditulis agar tidak lupa. Setelah mendengar pengajian Gus Baha', saya berharap ilmu yang sudah saya dapat tidak lupa. 

Tulisan ini tidak persis sama (secara redaksi) dengan sebagimana yang beliau sampaikan. Hanya garis besarnya saja. Semoga jika ada kesalahan, bisa dimaafkan oleh Gus Baha'. Jika kesalahan ini menjadi dosa, saya berharap Allah mengampuni.

 

Saya kira selama ini banyak diantara kita yang bertanya-tanya sebenarnya takdir bisa dirubah atau tidak? Lalu kenapa ada hadits yang menyatakan bahwa silaturahmi bisa menambah umur dan sedekah bisa menolak bala (musibah)? Mari kita simak pendapat menarik Gus Baha' tentang takdir, untuk menjawab pertanyaan apakah takdir bisa dirubah atau tidak.

Dalam menjelaskan persoalan takdir, Gus Baha' menjelaskan terlebih dahulu tentang pernyataan Imam Ghazali yang sebenarnya ada nuansa guyon, tapi menjadi kontroversi. Imam Ghazali mengeluarkan pernyataan: "Saya sama sekali tidak takut dengan su'ul khotimah. Su'ul khotimah itu tidak ada." Pernyataan kontroversi ini mendatangkan kritik ulama semasanya dan kemudian membuat beliau menulis kitab, "al-imla' fi isykalat al-ihya".

Setelah penyataannya menuai kritik dan polemik, Imam Ghazali baru menjelaskan maksud pernyataanya. Beliau menjelaskan bahwa tidak ada su'ul khotimah, yang ada su'ul sabiqah ( menurut yang dipahami penulis artinya catatan buruk atau nasib yang sudah tertulis di lauh mahfudz).

Menanggapi pernyataan Imam Ghazali, Gus Baha' menjelaskan bahwa maksudnya adalah kita (manusia) mati dalam keadaan iman atau kafir itu sesuai dengan catatan yang sudah tertulis di lauh mahfudz. Jadi saat ini seharusnya tidak ada yang perlu ditakutkan karena nasib kita sudah lewat, maksudnya nasib kita nanti apakah akan mati secara su'ul khotimah atau husnul khotimah itu sudah tertulis di lauh mahfudz. 

Oleh sebab itu, yang harus ditakutkan itu adalah su'ul sabiqah, bukan su'ul khotimah. Kita harus takut kalau ternyata catatan takdir kita yang sudah tertulis di lauh mahfudz adalah mati dalam keadaan kafir sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. Al-Hadid ayat 22 yang artinya: "Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah."

Gus Baha' menyatakan bahwa dirinya tidak takut dengan su'ul khatimah karena yang perlu ditakutkan adalah su'ul sabiqoh (karena sudah tertulis). Menurut beliau, justru sesuatu yang sudah terlewat (maksudnya tertulis di lauh mahfudz) lebih enak karena masih bisa dinegosiasi. Untuk itu kata Imam Ghazali penting sekali manusia memiliki harapan.

Gus Baha' juga menyatakan bahwa saat sakaratul maut, kita sudah tak ada kesempatan untuk negosiasi dengan catatan nasib kita yang sudah tertulis di lauh mahfudz. Namun pada saat kondisi kita masih sehat, kita masih punya kesempatan untuk negosiasi dengan Allah untuk merubah catatan nasib buruk kita yang sudah tertulis di lauh mahfudz. 

Gus Baha' meyakini bahwa catatan nasib buruk manusia yang sudah tertulis di lauh mahfudz masih bisa dirubah oleh Allah dengan ke-Maha Kuasaan-Nya, dan merubah catatan nasib buruk manusia sama sekali tidak mengganggu ke-Tuhanan Allah. Dalil yang dipakai Gus Baha' bahwa Allah berkuasa untuk menghapus atau merubah catatan nasib manusia adalah Q.S. Ar-Ra'd ayat: 39 yang artinya: "Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh)."

Beliau juga menyatakan bahwa dalam ajaran Islam, silaturahmi bisa menambah umur. Orang yang dermawan juga bisa menghilangkan kemurkaan Allah. Kalau disuruh memilih, tentu kita berharap nasib kita yang sudah tertulis di lauh mahfudz adalah nasib yang baik. Namun kalau ternyata nasib yang tertulis adalah nasib buruk, kita masih bisa merubahnya.

Gus Baha' mencontohkan bahwa barangkali dengan barokahnya ngaji, membuat Allah tidak tega dan akhirnya memberikan ampunan. Beliau sangat yakin bahwa orang yang mau ikut ngaji akan mendapatkan ampunan karena haditsnya shahih bahwa orang yang mendatangi majlis ilmu dosanya diampuni.

Oleh sebab itu, menurut Gus Baha', ada malaikat yang dengki kepada manusia yang sebenarnya tidak niat ngaji tapi ikut hadir di pengajian. Malaikat mengadu kepada Allah bahwa ada seseorang yang tidak niat ngaji, tapi cuma lewat terus melihat ada keramaian (pengajian) dan akhirnya ikut. Kemudian Allah menjawab mereka adalah orang-orang yang paling aku cintai sehingga yang menempel ke mereka langsung Aku ampuni. Oleh sebab itu, ngaji bisa menjadi sarana negosiasi untuk mengubah nasib buruk yang sudah tercatat di lauh mahfudz.

 

(Sumber: Facebook Saefudin Achmad)

Wednesday, February 5, 2020 - 19:15
Kategori Rubrik: