Pencitraan Jokowi?

Oleh: Erizeli Bandaro

 

Ketika mahasiswa UI mengatakan ada kelaparan di Papua. Jokowi tidak merespon secara negatif. Justru mengajak mahasiswa itu untuk datang ke Papua melihat lapangan yang sulit dijangkau. Setelah itu Jokowi memerintahkan instansi terkait melakukan pembenahan agar wilayah yang terisolir itu dapat punya akses kepada pangan. Juga menyediakan rumah sehat bagi mereka agar mereka tidak lagi tinggal ditempat yang sulit dijangkau untuk pembinaan. Masalahnya selesai. Jokowi juga mengundang Sopir truk untuk bertanya soal pungli dijalanan. Para supir menjawab dengan santai tanpa beban tentang apa yang mereka alami. Bahwa pungli dari aparat masih ada dan pemerasan preman masih terjadi. Jokowi langsung perintahkan kepada instansi terkait untuk memperbaiki.

Kalaulah Jokowi orientasinya berkuasa karena pencitraan maka fakta yang menyudutkan pemerintahannya akan dihadapinya dengan retorika untuk membela bawahan dan dirinya. Jokowi akan melengkapai team PR hebat agar bisa menghadapi semua rumor negatif terhadap dirinya dan pemerintahannya. Tetapi Jokowi tidak punya PR hebat untuk mengcounter opini negatif terhadap kebijakannya. Tidak memaksa media TV menyiarkan hal yang positip terhadap pemerintahannya. Tidak meminta pemuka agama agar memberikan kesan hebat terhadap dirinya. Tidak. Jokowi tidak membangun kredibilitasnya dari wacana dan pencitraan atas dasar retorika. Makanya Jokowi tidak terganggu orang membencinya dan tidak juga merasa tinggi ketika orang memujinya.

 

 

Mengapa ? Jokowi itu seorang pengusaha tulen. Kalau anda benar benar pengusah tulen akan tahu bahwa reputasi dan kredibilitas anda diukur dari keinerja anda bukan dari pencitraan. Semewah apapun rumah dan kendaraan anda untuk membangun cintra bonafid, tetapi gagal bayar utang maka itu semua akan disita. Sebaik apapun anda kepada karyawan namun gagal bayar bonus dan jaminan sosial maka anda kehilangan respect dari karyawan. Karenanya setiap pengusaha sadar bahwa dia harus focus bagaimana delivery commitmen. Walau karena itu ada yang puas dan tidak puas. itu biasa saja. Dia tidak terganggu dengan sikap orang lain diluar dirinya. Apalagi baper. Baginya bekerja keras adalah ibadah. Mendapatkan rasa hormat dari effortnya, bukan karena manusia tetapi Tuhan.

Itu sebabnya dengan keterbatasan APBN bahkan defisit Jokowi terus berupaya mencari solusi agar Indonesia mendapatkan financial resource sehingga agendanya membangun infrastruktur ekonomi tetap terlaksana. Agar ketertinggalan pembangunan didaerah yang selama ini dipunggungi dapat menikmati kue pembangunan. Apakah itu dapat dihargai oleh rakyat?, dia serahkan kepada Tuhan. Karena sesungguhnya kekuasaan itu dari Tuhan dan kepada Tuhanlah dipersembahkan. Tuhanlah sebaik baiknya penilai dan keadilan. Kalau Jokowi kembali terpilih sebagai presiden pada pemilu 2019 maka itu juga kehendak Tuhan. Tidak ada manusia yang bisa mendikte Tuhan.

 

(Sumber: Facebook Erizeli)

Friday, May 11, 2018 - 14:00
Kategori Rubrik: