Pencitraan Anies Di Pulau Reklamasi

ilustrasi

Oleh : Reja Hidayat

Penghentian Semu Pulau Reklamasi
Anies Baswedan tidak secara tegas menyatakan empat pulau di Teluk Jakarta—yakni Pulau C, D, G dan N—dicabut. Ia berkata pulau yang terlanjur jadi itu akan dimanfaatkan untuk kepentingan publik.

Pekan keempat Desember 2018, Anies dan pejabat teras Pemprov Jakarta mengunjungi Pulau D. Tujuannya, meresmikan secara simbolik peletakan batu pertama jalur "jalan sehat dan sepeda santai" dan penamaan pohon bersama di Pulau C dan Pulau D.

Beragam awak media turut diundang untuk memberikan citra bahwa Pulau D untuk publik. Ia mengumumkan pergantian nama Pulau C menjadi Pantai Kita dan Pulau D menjadi Pantai Maju.
.
Kedua pulau itu dibuat oleh pengembang yang sama, PT Kapuk Niaga Indah (KNI)-anak usaha PT Agung Sedayu Group. Pulau C seluas 276 hektare sementara Pulau D seluas 312 hektare.

Jumat pekan lalu, saya menelusuri jejak papan yang diresmikan Anies di Pulau D di pinggir tanggul. Saya menggunakan kata "pulau" karena bibir pulau ini tak ada pantai dan pasir tapi ribuan batu untuk menahan air laut menghantam pulau. Sekitar satu jam menyusuri jalan pasir di pinggir tanggul menggunakan sepeda motor, tanda-tanda pelang peresmian itu sudah tak ada, padahal belum genap sebulan lewat
.

Saya malah mendapati tanda-tanda pembangunan rumah mewah dua lantai yang dikerjakan oleh sekitar 10 pekerja. Harga hunian mewah ini antara Rp3,4 miliar sampai Rp6,2 miliar. Temuan ini lagi-lagi kontradiktif dengan pernyataan Marco Kusumawijaya.

Di Balai Kota Jakarta, Selasa pekan lalu, 15 Januari, Marco berkata kepada saya bahwa "Semua (pulau reklamasi) dihentikan tapi dihentikan pada saat kondisi terakhir."

Kalil Charliem, seorang nelayan kerang hijau di Kali Adem, Jakarta Utara, berkata kepada saya bahwa aktivitas di Pulau C dan D masih jalan terus.

Ia mengatakan Anies pernah melakukan penyegelan kedua pulau ini, tapi bukti di lapangan berbeda dari ceritanya di depan publik.

"Bicara ke publik segel, tapi di lapangan tetap berjalan. Menata bangunan di dalam juga colong-colongan. Siang berhenti, malam aktivitas. Kalau ketahuan wartawan berhenti dulu, nanti jalan lagi," kata Kalil dengan nada kesal.
.

Sumber : Tirto.id

Monday, January 21, 2019 - 15:30
Kategori Rubrik: