Pencatutan Nama Al Ghazali Oleh Hizbut Tahrir untuk Melayani Agenda Mereka

ilustrasi

Oleh : Muafa

Ciri khas orang Hizbut Tahrir jika merasa benar adalah MELEDAK-LEDAK.

Jika salah, maka biasanya mereka akan melakukan salah satu di antara dua hal, MENCARI-CARI PEMBENARAN atau MENGALIHKAN ISU. Dua hal ini juga sering dilakukan buzzer-buzzer politik untuk membela politisi yang membayarnya. Jadi, dari sisi watak, propagandis Hizbut Tahrir itu selevel dengan mereka. Karena itulah saya tidak suka menyebut aktivis Hizbut Tahrir sebagai pengemban dakwah, karena dakwah terlalu mulia disematkan kepada mereka. Lebih netral kita menyebutnya propagandis Hizbut Tahrir saja.

Contoh praktis dari watak mereka adalah reaksi yang mereka munculkan setelah mendapatkan teguran halus dari ustaz Salim A. Fillah tentang masalah mencatut nama tanpa izin, tanpa transparasi, dan tanpa kejujuran dalam proyek propaganda mereka saat membuat film Jejak Khilafah. Semestinya kalau jujur dan tidak manipulatif, sejak awal semua narasumber diberitahu bahwa maksud semua wawancara adalah untuk propaganda khilafah, mempromosikan Hizbut Tahrir, menarget masyarakat mendukung Hizbut Tahrir, menghancurkan sistem NKRI, mengantinya dengan sistem khilafah konsep Hizbut Tahrir, lalu kekuasaan khilafah diberikan kepada Hizbut Tahrir. Semestinya jika jujur dan lugas visi-misi itu disampaikan di awal agar para narasumber segera bisa bersikap antara bersedia diwawancarai ataukah tidak. Tetapi kader Hizbut Tahrir ternyata menyembunyikan agenda-agenda asli itu. Akibatnya, ketika film Jejak Khilafah itu jadi, para narasumber keberatan diambil dicatut namanya, karena memang merasa ditipu dan tidak mau mendapat kesan mendukung propaganda khilafah versi Hizbut Tahrir.

Anda bisa melihat, setelah mendapatkan teguran lembut seperti itu, orang-orang Hizbut Tahrir bukannya sadar diri lalu bertaubat, tetapi merespon dengan mencari-cari pembenaran atau mengalihkan isu.

Salah satu contoh upaya mencari-cari pembenaran itu adalah tulisan Azizi Fatoni yang berjudul “Mencatut Perkataan Al Imam Al Ghazali Untuk Menolak Pentingnya Khilafah”

Lihat tulisannya di tautan berikut ini,
https://web.facebook.com/azizi.fathoni.5/posts/181235566729203

Seakan-akan mereka mau mengatakan “ Kalau kader Hizbut Tahrir memang benar mencatut, apa masalahnya? Kan banyak juga orang yang mencatut nama?”.

Dari sisi akhlak, respon semacam ini jelas tidak beradab, keliru dan menunjukkan betapa bebalnya orang-orang Hizbut Tahrir saat mendapatkan nasihat dan koreksi. Nasihat yang diterima bukan lagi masuk telinga kiri keluar telinga kanan, tapi mendal bin mental ndak masuk telinga sama sekali. Seakan-akan sudah ṣummun bukmun ‘umyun.

Letak kekeliruan respon seperti itu begini.

Sebuah kemungkaran, selamanya tetap menjadi kemungkaran. Ia tidak bisa menjadi benar jika ada orang lain yang melakukannya. Jika ada kader Hizbut Tahrir memperkosa, maka itu maksiat dan selamanya tetap menajdi maksiat. Perbuatan memperkosa itu selamanya tetap haram dan maksiat serta tidak bisa menjadi halal atau “harus dimaklumi” hanya karena ada orang NU atau PKS atau Muhammadiyah yang juga memperkosa.

Ini kaidah sederhana sebenarnya. Tapi tidak mudah dilihat oleh orang-orang yang mata, telinga dan hatinya tertutup oleh kabut asabiah.

Anda memframing dan menipu narasumber itu sudah tindakan tidak beradab, keliru, dosa, kemungkaran. Seandainya-pun ada 100 orang Nu dan Muhammadiyyah melakukannya, maka itu tidak membuat perbuatan mungkar Anda menjadi amal saleh.

Sekarang saya akan fokus untuk membongkar tulisan Azizi Fathoni, agar semakin terlihat betapa manipulatif dan tidak jujurnya kader-kader Hizbut Tahrir saat menyampaikan ilmu ke umat. Mencari-cari data pencatutan orang lain untuk membenarkan tindakan mungkar kader Hizbut Tahrir saja sudah salah dan menunjukkan asabiah maqit, apalagi jika data yang dipakai juga dianalisis secara salah.

PANDANGAN AL-GAZZĀLĪ TERHADAP KHILAFAH

Sikap Al-Gazzālī terkait khilafah sebenarnya sangat jelas. Beliau minta isu khilafah ini tidak usah dibesar-besarkan dan jangan terlalu dibahas. Beliau tahu hukumnya. Bahkan lebih tahu daripada orang-orang Hizbut Tahrir. Tapi karena beliau sangat tahu hakikat dan dampak pembahasan khilafah, maka beliau minta supaya isu ini tidak usah dibesar-besarkan, apalagi dijadikan topik yang selalu dibicarakan orang awam. TIDAK MEMBAHAS KHILAFAH LEBIH SELAMAT daripada membahasnya, meskipun benar. Membahas dengan benar saya sudah terancam tidak selamat alias ke neraka, bagaimana jika orang membahasnya lalu salah?! . Al-Gazzālī berkata,

النظر في الإمامة أيضاً ليس من المهمات، وليس أيضاً من فن المعقولات فيها بل من الفقهيات، ثم إنها مثار للتعصبات والمعرض عن الخوض فيها أسلم من الخائض بل وإن أصاب، فكيف إذا أخطأ. (الاقتصاد في الاعتقاد للغزالي (ص: 127)
Artinya,
“Mengkaji imamah/khilafah bukan termasuk hal-hal yang penting. Ia juga bukan termasuk bidang ma’qulat (kajian rasional). Ia lebih tepat digolongkan pembahasan fikih. Kemudian, ia bisa memicu sikap ta’asshub/fanatisme. Orang yang menghindar membahasnya lebih selamat daripada orang yang terjun mengupasnya meski dia benar. Bagimana jika dia salah, coba?” (Al-Iqtishod fi Al-I’tiqod, hlm 127)

Inilah penjelasan yang lebih jujur terkait sikap Al-Gazzāli terhadap khilafah.

Adapun klaim bahwa muhimmāt dalam kitab Al-Ghazzali hanya bermakna pembahasan akidah saja, maka jelas itu salah bin keliru.

Muhimmāt itu isim fā‘il dari kata ahamma. Makna bahasanya adalah aqlaqa (membuat risau) dan hazana (membuat sedih). Jadi makna bahasa muhimm itu adalah sesuatu yang membuat risau atau membuat sedih dan membuat jadi pikiran. Biar lebih mudah, orang menyingkatnya dengan terjemah “sesuatu yang penting”. Dalam Mukhtār Al-Siḥāh disebutkan,
مختار الصحاح (ص: 328)
وَ (أَهَمَّهُ) الْأَمْرُ أَقْلَقَهُ وَحَزَنَهُ

Artinya,
Wa-ahammahū al-amr bermakna perkara itu merisaukannya dan membuatnya bersedih”

Jadi, ketika AL-Gazzāli bilang bahwa khilafah itu bukan termasuk muhimmāt, seakaan-akan beliau mau bilang, “Jangan kau jadikan soal imama dan khilafah ini sebagai perkara yang merisaukanmu, menyedihkanmu, mengisi pikiranmu dan menghabiskan waktumu. Dia dia bukan perkara akidah. Dia hanya perkara fikih, itupun pembahasan fikih yang berbahaya. Ia bisa menimbulkan asabiah. Ia juga bisa membuat orang masuk neraka meskipun pembahasannya benar.

Yang menguatkan makna ini adalah Al-Gazzālī di tempat lain dalam buku tersebut jelas menggunakan kata muhimm itu secara bahasa yakni perkara yang penting. Buktinya beliau menyebut sebagian ilmu itu kadang muhimm (penting) bagi sebagian orang, sementara dia laisa bimuhimm (tidak penting) bagi sebagian yang lain. Al-Gazzālī berkata,

في بيان الخوض في هذا العلم وإن كان مهماً فهو في حق بعض الخلق ليس بمهم بل المهم لهم تركه (الاقتصاد في الاعتقاد للغزالي (ص: 14)

Artinya,
“Penjelasan tentang terjun dalam ilmu ini meskipun penting tetapi itu bagi sebagian orang tidak penting bahkan yang penting bagi mereka justru meninggalkannya” (Al-iqtiṣad fī Al-I‘tiqād, hlm 14)

Jika muhimm dibatasi hanya perkara akidah, maka tidak mungkin ada akidah yang tidak penting bagi seorang muslim.

PERBEDAAN SIKAP AL-GAZZĀLĪ DENGAN HIZBUT TAHRIR DALAM HAL KHILAFAH

Al-Gazzālī tidak sama dengan Hizbut Tahrir. Al-Gazzālī adalah seorang fakih dan mendalam ilmu fikihnya. Beliau menempatkan khilafah itu secara proporsional. Beliau menjelaskan hukumnya secara jujur kepada masyarakat, tapi tidak membombastiskannya. Beliau tidak sepakat dengan kalangan syiah yang menjadikan khilafah ini sebagai persoalan akidah karena itu jenis bombastisasi khilafah/imamah.

Adapun Hizbut Tahrir, mereka membombastiskan masalah khilafah ini sampai level seolah-olah akidah. Memang betul Hizbut Tahrir menegaskan khilafah termasuk perkara hukum, bukan akidah. Tapi prakteknya, kader Hizbut Tahrir memposisikan khilafah itu seakan-akan akidah. Banyak kalimat diucapkan kader Hizbut Tahrir yang nyrempet-nyremper kemusyrikan jika sudah bicara khilafah seperti bilang “Hanya khilafah yang bisa menyelesaikan kemiskinan”, “Hanya khilafah yang bisa meyelesaikan kriminalitas”, “Hanya khilafah yang bisa menyelesaikan kristenisasi” dan lain-lain. Jadi, dalam hal ini Hizbut Tahrir itu sama atau minimal mendekati Syiah. Membombastiskan khilafah/imamah sampai taraf yang tidak wajar.

Al-Gazzālī hidup di zaman umat Islam mengalami krisis akibat perang salib. Yerusalem dikuasai pasukan salib saat Al-Gazzālī kira-kira berusia 43 tahun, padahal khilafah masih ada. Tetapi, fakta sejarah menunjukkan Al-Gazzālī tidak didapati mengucapkan setu hurufpun mengucapkan kalimat yang menghebat-hebatkan khilafah semisal kalimat yang bermakna “Hanya khilafah yang bisa membebaskan kaum muslimin dari pasukan salib” lalu mengajak kaum muslimin yang berpecah untuk bernaung dalam satu kepemimpinan yang dinamakan khilafah atau mengajak memperkuat khilafah. Al-Gazzāli tahu bahwa sebutan khilafah itu hanya pakaian politik. Percuma menegakkan dan membesarkan khilafah jika yang ngisi orang-orang keropos. Di zmana Al-GhazzālI khilafah sudah ada. Tapi khilafah keropos. Khalifah yang ada wkatu itu malah diketahui sibuk dengan burung merpatinya daripada mengurusi kaum darah muslimin yang tertumpah.

Maka beliau memutuskan menulis kitab iḥyā’ ulūmiddin sebagai buku pendidikan umat Islam, supaya kokoh jiwanya. Al-Gazzālī tidak teriak-teriak khilafah tiap hari, mempromosikan khilafah, apalagi membuat partai politik untuk memperkuat khilafah dan menyatukan kaum muslimin yang berpecah belah dengan seruan-seruan politik. Al-Gazzāli juga tidak menghabiskan umur untuk membuat analisis-analisis politik penuh suuzon seraya mencaci maki sejumlah pemimpin kaum muslimin yang tidak memnperkuat khilafah Abbasiyyah waktu itu.

Ini menunjukkan Al-Gazzālī beda dengan Hizbut Tahrir. Al-Gazzālī lebih sepakat fokus ke pendidikan untuk menyelesaikan maslaah umat. Hizbut Tahrir lebih senang ke politik.

Beda sayangku, benar-benar beda.

Al-Gazzālī tidak membombastiskan khilafah. Hizbut Tahrirlah yang membombastiskan khilafah. Bahkan kita bisa mengatakan, nampaknya Hizbut Tahrir adalah di antara kelompok yang menjadi perusak terbesar citra khilafah di kalangan intelektual dan para awam yang tidak paham betul hakikat khilafah.

Lebih dari itu, perjuangan Hizbut Tahrir mempropagandakan khilafah itu hakikatnya adalah memberi kekuasaan pada amirnya saat ini, yakni Aṭā’ Abū Al-Rasytah. Lugasnya, perjuangan propaganda politik Hizbut Tahrir itu berjuang demi amirnya, bukan demi tegaknya agama Allah. Sebab, jika orang memang ikhlas dan tulus menegakkan agama Allah, pasti tidak peduli siapa yang menegakkan agama Allah dan tidak peduli siapa pemimpin umat Islam. Dia tidak akan mengharuskan pemimpin dari kelompoknya sendiri. yang penting tegak agama Allah dan tegak pemimpin umat Islam. Hizbut Tahrir tidak begitu. Mereka ngotot dan mengharuskan kaum muslimin pokoknya amir Hizbut Tahrir harus jadi pemimpin dunia. Tidak boleh orang lain. Ini jelas menunjukkan Al-Gazzāli tidak sama dengan Hizbut Tahrir.

Sudah begitu, kader-kader Hizbut Tahrir menggunakan perkataan para ulama yang membahas hukum khilafah (di antaranya Al-Gazzālī ini) demi memenuhi ambisi mencarikan kekuasaan untuk Atā’ Abū Al-Rasytah ini. Inilah sebenarnya pencatutan keji itu. Perkataan ulama diframing untuk melayani agenda politik Hizbut Tahrir dan dicatut untuk memuluskan ambisi Hizbut Tahrir. Ini seperti pencatutan nama ulama untuk membuktikan bahwa khilafah itu wajib, tapi menyembunyikan bahwa para ulama mengatakan quraisy adalah syarat sah khilafah.

Lebih jelas bukan bagaimana watak orang-orang Hizbut Tahrir? Penuh tadlis, framing, tidak jujur, dan menipu.

Inilah yang saya bahas dalam artikel saya yang berjudul “KRISIS ADAB AKTIVIS HIZBUT TAHRIR”

Wallahua'lam

Sumber : Status Facebook Sya'roni

Saturday, August 8, 2020 - 18:30
Kategori Rubrik: