Penangkapan 3 Ibu-Ibu Pelaku Fitnah Keji Bukti Lawan Jokowi Gelap Mata

ilustrasi

Oleh : Sahir Nopi

Entah sudah berapa kali orang ditangkap karena melakukan fitnah keji kepada pemerintah maupun keluarga Presiden Joko Widodo. Fitnah-fitnah itu membuktikan bahwa perlawanan Capres 02, sudah lagi tidak rasional bahkan melanggar agama. Kondisi ini juga menjadi potret bahwa kelompok Capres Prabowo tidak memaknai Pilpres sebagai ajang demokrasi tetapi ajang pertarungan. Para pelaku fitnah keji bukan hanya dari kalangan orang tak berpendidikan, ada banyak orang berpendidikan bahkan dosen hingga pimpinan partai melakukannya.

Jum'at 22 Februari viral sebuah video yang menampilkan kampanye door to door dan menyebut jika Jokowi berkuasa lagi LBGT diperbolehkan, adzan dilarang bahkan pengajian akan dibatasi. Berdasarkan keterangan dari postingan sosmed pagi ini, tiga orang perempuan itu melakukannya di Kerawang. Dua orang yakni Engqay Sugiyanti dan Ika Peranika merupakan penduduk Desa Wancimekar Kecamatan Kotabaru Kerawang. Sedangkan Widianingsih penduduk perumahan Bumi Telukjambe.

Meski organ BPN sudah membantah, namun isu yang dikembangkan sudah menyebar kemana-mana. Sebuah cara-cara berpolitik yang bukan hanya menabrak akar budaya namun juga tidak sesuai dengan ajaran Rasulullah.

Entah apa yang mereka maknai dengan agama, apa fungsi kerudung mereka, apa efek sholat mereka dan lain sebagainya. Ini kejadian ke berapa kalinya karena sejak 2014, kejadian-kejadian yang muncul bermula dari tersebarnya tabloid Obor Rakyat. Sebuah tabloid yang sangat komunis. Ya cara-cara yang dipakai adalah cara partai komunis Indonesia. Bagi mereka Pilpres itu harga mati untuk menang. Pakai cara apapun tidak dianggap sebagai merusak. Pun sama halnya dengan elit-elit PKS.

Hidayat Nur Wahid sebagai pimpinan PKS juga telah menyerang Jokowi secara membabi buta. Terakhir tudingan politisasi Jan Ethes yang tidak ada kaitannya dengan Pilpres. Atau pasukan mereka di sosmed juga beberapa menjalani proses hukum sebut saja kasus Saracen, MCA, Jonru, Buni Yani, Ahmad Dhani dan lain sebagainya. Beberapa yang belum kena proses seperti Mustofa Nahra, Nanik Deyang, Fadli Zon, Ferdinand Hutahaen dan banyak lagi. Pun pelaku tuduhan keji penganiayaan Ratna Sarumpaet Hanum Rais, cuitan 7 kontainer surat suara tercoblos Andi Arief, serta banyak tuduhan keji lainnya.

Kelompok penentang petahana memang sejak awal tidak berniat bertarung dalam Pilpres yang fair. Menyebarnya fitnah-fitnah itu juga dibantu oleh para pendukung Prabowo yang berada dalam lingkaran tokoh masyarakat utamanya FPI, 212 dan lain sebagainya.

Cara-cara yang dilakukan pun sangat jauh berbeda denan cara Jokowi. Lihat saja bagaimana pendukung Presiden berkampanye. Bukan hanya dengan deklarasi, menciptakan lagu, membuat film pendek dan lain sebagainya. Cara kampanye kubu 01 tidak menyinggung sama sekali lawannya. Mengapa? Ya karena kubu 02 tidak memiliki konsep yang jelas terkait apa yang hendak mereka cita-citakan. Perdebatan sosmed yang dilontarkan pendukung 02 berkali-kali terkait janji Jokowi. Padahal jika mereka mau mereka bisa tahu program apa saja yang telah, sedang dan belum direalisasikan.

Cara kampanye 2 kubu saja sudah menjelaskan kepada siapa kita harusnya berpihak. Tidak perlu sampai soal capaian atau program yang hendak diperjuangkan karena semua sudah jelas.

Monday, February 25, 2019 - 11:30
Kategori Rubrik: