Penanganan Tepat Bagi Napiter

ilustrasi

Oleh : Muhammad Jawy

Satu yang yang saya apresiasi ke BNPT, mereka serius melakukan pendekatan kepada sebagian napi teroris kelas kakap, untuk diajak taubat nasuha, dan kembali ke pangkuan NKRI.

Model ideolog seperti Imam Samudera, yang menjadi otak sekaligus pemikir utama jaringan Bom Bali 2002, memang harus dieksekusi, karena ia menyebar virus ekstremisme yang berbahaya. Bahkan sampai dieksekusi pun, ia masih merasa dalam kebenaran.

Kalau semua napi teroris dieksekusi seperti Imam Samudera, ini juga meninggalkan masalah yang tidak kecil, masyarakat yang awam ilmu agama, tetapi punya semangat berlebih, akan menganggap mereka semua adalah martir.

Mereka yang kecewa secara ekonomi, sosial atau politik, akan sangat mudah sekali terbujuk dengan rayuan iblis yang menyaru Islam seperti Al Qaeda dan ISIS ini.

Para napiter yang taubat, dan kemudian menjadi campaigner untuk NKRI, adalah asset BNPT dan asset negara yang sangat baik untuk memupus habis pencitraan martir yang disebarkan oleh da'i sesat yang giat mencari korban doktrinasi ini. Mereka bisa menjadi deterrent bagi pemuda kurang wawasan, yang nyaris terbujuk dengan "jalan cepat menggapai surga" ala-ala Baghdadi.

Para pemuda yang termakan doktrinasi radikal, itu nyaris tidak bisa didekati dengan pendekatan kebangsaan, kebhinnekaan. Mereka merasa hidup dalam echo chamber mereka sendiri, dan suara dari echo chamber lain yang menyerukan nilai kebangsaan, tidak akan dihiraukan secuilpun.

Mereka hanya akan menoleh kalau yang berkata adalah orang di dalam echo chambernya, atau orang yang pernah berada dalam kelompoknya. Itu sebabnya figur seperti Ali Fauzi, Ali Imron, Nasir Abbas, penting untuk dirawat sebagai kontra narasi yang kuat melawan para dai sesat yang hingga kini masih aktif bergerilya mencari didikan baru di berbagai daerah.

Mempertemukan napiter dengan korban bom seperti yang dilakukan kemarin ini, juga penting untuk mengurangi potensi anak muda yang nyaris tersesat dalam jalan terorisme

Terimakasih BNPT!

Sumber : Status Facebook Muhammad Jawy

Tuesday, February 18, 2020 - 09:00
Kategori Rubrik: