Penanganan Bencana Palu Lambat? Yang Nyiyir Silahkan ke Palu

Oleh : Aldi Bhumi

Sebetulnya, aku gak ingin tulis begini.

Tapi entah mengapa, aku paling empet, muak, sama politisi yg jualan penderitaan org lain. Bagiku, mereka adalah kerak sampah terdalam yg ada d kehidupan manusia saat ini.

Apalagi bila jualannya d lakukan d saat sedang terjadi bencana. Apalagi bila yg dijual adalah tuduhan "ANDA LAMBAT TANGANI BENCANA", dari balik kenyamanan smartphone d ruang berAC dalam posisi setengah tidur.

Sedangkan yg d tuduh "lamban" sedang berjemuran d bawah terik matahari, mempersiapkan logistik bagi korban bencana, memastikan keamanan dan ketertiban fasilitas umum, atau berdiri berjam2 berusaha memperbaiki tulang yg patah dalam ruang operasi yg seadanya.

Mungkin tdk sedikit dari mereka si "lamban" itu yg sedang bingung mencari jalan mengantarkan logistik k camp pengungsian krn terputusnya jalur transportasi.

Jgn lupa, TNI sebagai bagian dari pihak si "lamban" kmarin merayakan HUT nya. Dengan hadiah ultah tertinggi berupa kesempatan memberi pengabdian pada korban bencana yg sangat membutuhkannya.

Belum lagi para relawan, yg sudah antri keberangkatan dari hari pertama dan sudah hadir dari awal kalau saja tdk terhambat transportasi.

Jualan penderitaan ini d mulai oleh Ahmad Muzani, Sekjen Gerindra, tgl 5 bulan 10 lalu d Depok. Pemerintah lambat tangani bencana Palu dan Donggala, katanya d tempat yg cukup jauh dan aman dari bencana.

Entah apa maksudnya, tapi tindakannya menjual penderitaan warga Palu dan Donggala, membawa daerah terdampak musibah tersebut kedalam perdebatan "SAYA LEBIH PEDULI DARI ANDA" yg menjijikkan antara Ngabalin dengan Gerindra.

Sebagai jawaban kepada Ahmad Muzani, Ngabalin mengingatkan bahwa Palu masih memiliki walikota, yg kebetulan kader Gerindra. Ngabalin menyoroti keluhan warga Palu yg merasa tidak ada informasi dari pemda.

Jawaban Ngabalin membawa jawaban yg sama menjijikkannya dari Andre Rosiade sebagai Badan Komunikasi DPP Gerindra.

"Pertanyaannya, Bang Ngabalin sudah berapa kali ke ke Palu? Kan baru sekali. Makanya nggak tahu bagaimana Pak Longki bekerja pagi, siang dan malam melayani rakyatnya yang tertimpa musibah gempa dan tsunami,"

"Bedanya Pak Longki nggak pencitraan bawa media seperti Pak Jokowi yang membangun pencitraan supaya terlihat bekerja tapi hasilnya tidak dirasakan masyarakat," kata Andre.

Pernyataan Ngabalin, sebetulnya bukan tampa dasar. Dan pernyataan ini bukan berasal dari Ngabalin sendiri. Pernyataan ini juga merupakan pernyataan warga Palu. Seperti yg tercantum pada link kompas tv d bawah.

Bila anda dari awal mendengarkan berita dari media netral, seperti RRI, dari awal sekali keluhan masyarakat paling banyak adalah tidak adanya informasi dari pemkot Palu.

Mereka khawatir, akan datang bantuan? Kapan? Bagaimana caranya meminta bantuan? Sampai kapan situasi krisis? Apakah besok bisa makan? Dan lain2.

Terus terang, sebetulnya akupun tidak menyalahkan pemkot Palu. Walkot Palu pasti sudah cukup sakit melihat kotanya yg luluh lantak. Bahkan Pasha Ungu pun, sang wawali, sempat merasakan nikmatnya bermalam d tenda pengungsian.

Jadi, tidak seharusnya ada prasangka bahwa walkot dan wakilnya tdk ikut merasakan penderitaan warga Palu.

Keterlambatan penyampaian informasi bisa aku pahami, d saat listrik dan sinyal mati d wilayah terdampak, bagaimana propagasi informasi bisa berlangsung efektif?

Bedanya walkot Longki dan Pasha, berkonsentrasi pada pemulihan dan penanganan bencana. Mereka semua yg berada d daerah bencana, para walkot, TNI, Polri, relawan, dokter dan lain2, tidak teriak2 seperti para oportunis politik yg menjual penderitaan org lain dari jauh.

Aku yakin baik Longki dan Pasha pun sadar, sampai berbusa pun mulut politisi Gerindra tuna empathy yg berteriak lambat dan menyalahkan pemerintah,... Longki dan Pasha adalah pemimpin Palu.

Tidak bisa d elakkan, segala kebaikan maupun keburukan yg terjadi dalam masa penanganan pasca gempa Palu, terkait nama mereka.

Dan segala bantuan, baik dari mereka yg memang bertugas menangani bencana, maupun dari mereka yg merelakan waktu dan tenaganya sebagai relawan,... patut d hargai.

Daripada menilai penanganan bencana dari jauh, dari keamanan dan kenyamanan, lebih baik Ahmad Muzani dan Andre Rosiade berangkat k Palu. Ikut membantu distribusi logistik, dan memberi informasi akurat pada para korban.

Bravo untuk Longki, Pasha, TNI, Polri, relawan, PUPR, PLN, dan semua pihak yg terlibat penanganan bencana Palu, Sigi, dan Donggala baik langsung maupun tak langsung.

Nyinyir dari tempat aman sangat menjijikkan.

Ahmad Muzani dan Andre Rosiade, shame on you.

(kwek)

 

Sumber : facebook Aldi Bhumi

Monday, October 8, 2018 - 14:15
Kategori Rubrik: