Penak Jamanku, To?

Oleh: Wahyu Sutono

Ya jelas penak sekali, la wong saat itu penulis masih muda dan masih bisa lirik-lirik si cantik atau sebaliknya si cantik yang melirik penulis. La kami saat itu masih pada kinyis-kinyis pake celana cutbray.. Cie cie pede amat ya....

Kemarin saat mengunggah tulisan tentang Tommy yang merasa prihatin karena selama 20 tahun reformasi tidak ada kemajuan, sontak banyak sahabat FB berkomentar yang intinya berpendapat mana mungkin Tommy bisa merasakan keprihatinan, karena selain Tommy sudah biasa hidup bergelimang harta, juga realitasnya pembangunan saat ini sangat jauh lebih maju dibanding era orde baru (Orba).

 

Namun dari ratusan komen, terselip beberapa akun yang komen dengan gigihnya membela era Orba yang katanya di era tersebutlah Indonesia justru jaya, karena mulai dibangun, makmur, harga apa pun serba murah, dan tingkat keamanannya sangat tinggi. Hampir jarang terdengar terjadi perampokan.

Lucunya, beberapa diantara dari mereka itu belum genap berusia 10 tahun saat Presiden ke-2 Soeharto lengser keprabon. Sehingga mereka jadi bahan rundungan (bully) dan dikatakan di era digital ini bila tak paham sejarah hanya akan mempermalukan diri sendiri, terlebih tidak mengalami secara langsung serentetan masa tersebut.

Oleh sebab itu perlu dijelasken daripada masa yang memili'i waktu berkuasa selama 32 tahun yang dikataken sebagai demokrasi terpimpin, yang mana bahwa saat itu memang sangat aman dan jarang sekali terdengar daripada perampokan, karena ya apa yang mau dirampoknya? La wong yang punya sepeda motor 70cc saja sekampung cuma 1 orang.

Untuk itu, sodara-sodara sebangsa dan setanah air perlu paham bahwa semangken banyak rakyat Indonesia yang saat ini sudah daripada semangken cerdas. Jadi kalau dikataken bahwa di jaman Orba sudah makmur tentunya daripada tidak percaya. Karena saat itu sekampung yang punya TV hitam putih bisa dihitung jari. Mangkanya kalo ndak nonton rame-rame di tetangga yang agak tajir, yo nonton daripada di kelurahan.

Kala itu pun penulis baru bisa punya baju baru bila lebaran tiba, dan seragam sekolah sampe bolong dan harus ditutup tensoplas. Lalu sepatu harus dijahit kalau sudah mulai usang, dan setiap hari Senin dibalur kapur agar sedikit kinclong. Jangan tanya lagi kaos kaki yang sudah bolong. Itu masih mendingan, bila dibandingkan teman sekolah masih ada yang nyeker, alias tanpa alas kaki.

Ke sekolah pun harus jalan kaki dengan membawa tas yang terbuat dari kain spanduk bekas. Rumah kami dulu disebutnya gedek atau bilik dari anyaman bambu yang setiap menjelang 17 Agustus harus dikapur dengan batu apu. Halaman rumah kami ditanami sayur mayur agar bisa menghemat pengeluaran.

Memang benar bila harga-harga saat itu sangatlah murah. Sangat jauh sekali bila dibandingkan saat ini. Coba bayangkan, apalagi di jaman orde lama pasti lebih murah lagi. Makin murah lagi di jaman Majapahit. Tapi ingat.. gaji atau penghasilan kala itu pun sangat keciiiil sekali. Jadi ya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja.

Bahkan di tahun 80-an saat penulis mulai bekerja di salah satu BUMN, gaji pertamanya hanya 75.000 rupiah, yang kalau dikonversikan sekarang mungkin hanya cukup untuk sekali makan di resto siap saji. Jadi penulis tidak mau bermimpi beli televisi dan radio yang harganya mahal selain masih harus membayar pajak bulanan. Apalagi beli sepeda motor, karena sepeda gowes saja kena pajak.

Lalu bagaimana dengan urusan politik? Penulis sudah tidak mau ambil pusing. Bahkan nyaris setiap pemilu lebih baik Golput, karena sudah bisa dipastikan yang menang Soeharto terus selama 6 periode. Bukan 2 periode lo. Nah baru saat bekerja di salah satu BUMN-lah terpaksa ikut pemilu karena diadakan di kantor dan semua harus pilih Golkar, karena saat itu karyawan BUMN secara otomatis menjadi kader Golkar dan anggota Korpri.

Saat itu pada umumnya masyarakat tidak berani bicara sesuatu yang bertentangan dengan pemerintah kalau ingin aman dan nyaman hidupnya. Tidak seperti sekarang siapa pun bisa seenak jidatnya bicara apa pun. Bahkan hingga menghina dan fitnah seorang presiden dan keluarganya, seolah menjadi sesuatu yang lumrah. Kalau terciduk, banyak yang selesai hanya dengan materai 6000.

Hingga tibalah mahasiswa seluruh Indonesia turun ke jalan, lalu kuasai geduang MPR-DPR dan menuntut Presiden Soeharto turun karena selain dianggap tidak demokratis alias otoriter, juga saat itu ekonomi semakin terpuruk, serta nilai tukar rupiah terhadap dolar terjun bebas hingga sempat mencapai 18.000 rupiah per dolar, walau kemudian bertahan di kisaran 16.000-17.000 rupiah per dolarnya.

Akhirnya Soeharto pun lengser keprabon dan digantikan wakilnya Prof. Dr. Ing. BJ Habibie yang segera memperbaiki ekonomi yang lalu dikenal dengan istilah Habibienomics. Tapi negeri ini pun belum berangkat maju pesat, karena Habibie pun dilengserkan. 

Alhasil negeri ini terasa rata-rata air saja, hingga akhirnya munculah si tukang kayu yang membangun negeri ini secara spartan dari Aceh hingga Papua yang selama ini belum tersentuh, hingga si tukang kayu ini disebutnya sebagai Bapak Papua.

"Tukang kayu yang tinggi kurus inilah yang kemudian selalu difitnah oleh mereka yang zona nyamannya terganggu. Padahal baik kawan mau pun lawan mengakui hasilnya. Dengan kata lain ternyata penak jamannya si tukang kayu yang oleh orang Perancis disebutnya sebagai Jokowi, yang saat ini menjadi presiden ke-7 Republik Indonesia."

(Sumber: Facebook Wahyu Sutono)

Saturday, June 27, 2020 - 22:30
Kategori Rubrik: