Pemimpin dan Penjual Es Krim

ilustrasi

Oleh : Agung Wibawanto

Kecenderungan humanis kita sebagai makhluk sosial adalah selalu ingin menyenangkan semua orang (setidaknya banyak orang) dan tidak enak menyakiti satu orang pun yang ia kenal. Bahkan jika perlu orang yang tidak dikenalnya pun bisa senang, atau dirinya bermanfaat.

Yang namanya kecenderungan tentu tidak semua begitu. Ada pula yang justru tidak peduli atau tidak mau tahu bagaimana orang lain meresponnya. Terlebih, ada yang senang jika orang lain susah, dan menjadi susah jika orang lain terlihat senang. Tidak memiliki sisi humanis.

Kecenderungan yang pertama adalah bagus. Yang salah jika karena alasan tersebut kemudian membuatnya banyak menimbang, ragu-ragu bahkan menimbulkan kecemasan berlebihan. Bagaimana jika orang lain tidak suka? Bagaimana jika ada yang marah dan salah mengerti?

Bagaimana pula jika kemudian saya justru diolok-olok? Untuk beberapa tindakan, memang perlu memikirkan hal tersebut. Tindakan-tindakan yang bodoh, konyol dan kontroversi. Namun untuk sebuah tindakan penting, dianggap baik dan harus segera, maka lakukanlah.

 

Apapun yang terjadi, itulah pilihan yang terbaik buatmu saat itu (meski belum tentu yang terbaik buat orang lain), terima dan jalani saja secara konsisten dan konsekuen. Karena jika ragu-ragu dan menunggu hingga semua senang yang kita lakukan, maka sesungguhnya kita tidak melakukan apa-apa.

Hanya diam di tempat saja sementara waktu berjalan terus. Kondisi dan situasi seperti ini sering dihadapi oleh seorang pemimpin. Ada dilema dalam memgambil keputusan. Kadang bukan masalah dampak dari keputusan, melainkan memang harus segera diambil tindakan.

Biarkan proses yang menilai. Karena tidak bisa menyenangkan semua orang merupakan keniscayaan yang harus dihadapi. Seorang Steve Job mengatakan bahwa jika kita ingin semua orang tampak senang, maka jangan jadi seorang pemimpin. Jadilah seorang penjual ice cream.

Tetaplah menjadi humanis yang terus berpikir serta memiliki empati. Namun jangan ragu untuk sesuatu yang baik menurut mu. Bahkan orang bijak mengatakan, "Tidak perlu ada alasan untuk berbuat baik," meski resiko ada yang tidak suka harus diterimanya. (Awib)

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Saturday, October 31, 2020 - 13:30
Kategori Rubrik: