Pemimpin dan Penguasa

Oleh: Dimas Supriyanto

 

Semakin lama kita mengenal Jokowi dan Prabowo, dua calon presiden yang sedang bertarung memperebutkan suara di tanah air di bumi pertiwi yang kita cintai, semakin mudah kita membedakan karakter keduanya - terutama dari sisi watak yang mendominasinya. Jokowi lebih berwatak pemimpin, sedangkan Prabowo lebih berwatak penguasa.

Pemimpin dan penguasa adalah kombinasi yang dibutuhkan untuk menggerakkan rakyat, birokrat dan aparat, tapi dominasi salahsatunya akan mengarahkan kemana bangsa ini ke tujuan akhirnya.

 

 

Ada perbedaan nyata di antara keduanya: watak pemimpin dan watak penguasa

Pemimpin adalah ‘pamong praja’, penganyom, pelindung, yang mensejahterakan rakyat dalam kekuasaannya.

Sedangkan penguasa adalah ‘pangreh praja’, penguasa yang memerintah aparat, bawahan, dan rakyatnya agar tetap dalam kontrol dan kekuasaannya.

Pemimpin rela berkorban dan tidak mementingkan diri sendiri, melainkan kesejahteraan rakyatnya. Sedangkan penguasa mengutamakan kesejahteraan diri dan kroni serta pendukungnya.

Seorang pemimpin mengarahkan anak buah dan mereka yang ada dalam pengaruhnya untuk bersama sama bekerja untuk perusahaan bangsa ini. Seorang penguasa lebih berorientasi menundukkan dan menguasai apa yang ada.

Pemimpin akan mendukung orang lain untuk bekerjasama dengan menyamakan visinya. Sedangkan penguasa akan membidiknya sebagai saingan dan ancaman yang membahayakan diri dan kroninya.

Pemimpin memberikan inspirasi untuk menggerakan dari dalam setiap individu yang dipimpin. Sedang penguasa menghadirkan kepatuhan dan ketakutan, akan jatuhnya sanksi bila melanggar ketentuan penguasa.

Seorang pemimpin menyadari batas batas dimana dia akan segera turun dan berganti, sedangkan penguasa berupaya terus mengabadikan kekuasaannya. Dan melakukan segala cara untuk mempertahankannya. Biasanya dengan cara otoriter.

Seorang pemimpin adalah nahkoda, seorang pilot, yang menerbangkan dan melayarkan kapal ke arah tujuan bersama . Dia menguasai peralatan dan arah tujuan pelabuhan, sebagaimana yang diinginkan dan menjadi tujuan bersama. Dia seorang ahli dan matang secara mental.

Seorang penguasa adalah kanak kanak dan kakek kakek yang harus dituruti kemauannya dengan kemanjaan dan kekuasaan yang dia miliki, tak peduli pada keinginan orang banyak di sekitarnya. Penguasa cendrung otoriter dan temperamental.

Seorang pemimpin menyiapkan pengganti, sedangkan penguasa akan menyiapkan keturunan dan kerabat untuk memastikan kekuasaan tidak jatuh kepada orang dan keluarga lain. Agar kedudukan dan kekayaannya abadi.

PRABOWO menguasai lahan ratusan ribu hektar, menguasai 14 perusahaan dengan ribuan karyawan. Sebelumnya, sebagai jendral dan mantu presiden, menguasai 33 batalion dengan 11 ribu pasukan angkatan darat. Tapi apakah dia mampu memimpin ?

Sebagai penguasa perusahaan dia terlibat dalam hutang pada bank hingga Rp.14 triliun, dan harus menyicil hutang bank hingga 20 tahun. Ribuan pegawainya demo lantaran berbulan bulan tidak gajian dan nyaris dipailitkan.

Dan sebagai jendral (Pangkostrad) bagi 11 ribu prajurit di 33 batalion berakhir dengan pemberhentian. Dia tak mampu memimpin.

Seorang pemimpin bisa menunjukkan keteladanan, pada watak diri, keluarga dan anak buah yang dipimpinnya. Dia seorang imam. Sebagai imam tidak berpikir pada kekayaan diri. Isteri dan anak dijaga, agar tidak membebani tugas ayahnya, yang sedang menjadi sorotan seluruh elemen bangsa. Seorang pemimpin berupaya menjadi teladan dalam banyak hal, baik dalam kehidupan pribadi, dalam kehidupan keluarga besar, maupun dalam kepemimpinan bersama anak buah dan pengikutnya.

Itulah yang ditunjukkan Jokowi. Dia terlatih memimpin rakyat, sejak menjadi walikota dua periode, gubernur dan kemudian membangun berbagai aspek, mengejar ketertinggalan dengan bangsa lain, selama di istana negara.

Seedangkan seorang penguasa bisa mengabaikan semuanya. Keluarga carut marut, kehidupan pribadi tak bisa dijadikan teladan, bukan masalah. Karena utamanya adalah menguasai. Yang penting menjadi penguasa.

Itulah yang ditunjukkan Prabowo.

Pemimpin memiliki otoritas dan menggunakannya untuk menegakkan aturan dan mesejahterakan rakyat, dari golongan manapun dan seluruh strata.

Penguasa menggunakan otoritas untuk menguasai berbagai aset demi kesejahteraan diri dan kroninya agar terus berkuasa selama lamanya. ***

 

(Sumber: Facebook Dimas Supriyanto)

Tuesday, February 19, 2019 - 17:45
Kategori Rubrik: