Pemilu Luar Negeri Dan Antusiasme Partisipasi Pemilih

ilustrasi

Oleh : Meiliani Burtenzorgy

Karena banyaknya pertanyaan dari teman-teman lewat medsos maupun japri soal ricuhnya pelaksanaan Pemilu di Sydney, berikut adalah tanggapan dan beberapa informasi yang saya ketahui sebagai WNI yang ikut mencoblos di TPS Sydney.

Sebelumnya saya ucapkan terimakasih dan apresiasi atas kerja keras PPLN Sydney yang telah bekerja sejak setahun lalu hingga terlaksananya Pemilu RI di wilayah Australia pada tanggal 13 April yang lalu.

TANGGAPAN DAN INFO SEPUTAR VIDEO KERICUHAN DI TPS SYDNEY:

1. Dalam video kericuhan dan perdebatan antara para WNI Sydney dan seorang pria di sekitar pintu KJRI Sydney yang sudah dikunci, saya mengklarifikasi bahwa pria tersebut adalah benar Bapak Samsul Bahri alias Berry. Ybs memang aktivis PKS Sydney dan aktivis gerakan #2019GantiPresiden. Perlu dicatat bahwa ybs berstatus SAKSI dari pihak paslon #02, jadi ybs BUKAN ketua KPPS Sydney. Yang sangat disayangkan, kenapa ybs yang keluar menemui dan mendebat para WNI yang tertahan di pintu masuk KJRI Sydney. Seharusnya hal itu dilakukan oleh pihak PPLN Sydney, bukan pihak saksi dari salah satu paslon. Akibat dari tindakan yang tidak patut tsb adalah berkembangnya isu-isu negatif terkait netralitas PPLN Sydney.

2. Keterangan dari pihak KPU Pusat dan PPLN Sydney bahwa WNI Sydney yang tidak bisa mencoblos di TPS Town Hall adalah DPK dan bukan DPT, TIDAK SEPENUHNYA BENAR. Dari keterangan yang saya himpun dari berbagai group WNI Sydney, banyak juga WNI Sydney yang berstatus DPT dan sudah mengantri lebih dari 3 jam tetapi tidak diizinkan mencoblos dengan alasan waktu habis.

3. Ada indikasi bahwa penutupan beberapa TPS tepat jam 6 sore di tengah antrian massa yang membludak, adalah hasil tekanan saksi dari salah satu Paslon terhadap PPLN Sydney. Hal ini dibuktikan dari beberapa video yang beredar yang memperlihatkan perdebatan antara panitia dan saksi pada saat voting memutuskan apakah pencoblosan lanjut atau tutup.

KRITIK UNTUK PPLN SYDNEY:

1. PPLN Sydney seharusnya menyadari prinsip utama pelayanan Pemilu bahwa PPLN WAJIB melayani WNI yang ingin menggunakan hak pilihnya tanpa terkendala teknis dan administrasi, sepanjang surat suara masih tersedia.

2. Pada kasus terkendala terbatasnya waktu sewa gedung TPS Town Hall, seharusnya PPLN secara profesional antisipasi dengan membludaknya calon voter dengan cara memperpanjang sewa gedung. Kalaupun perpanjangan sewa tidak memungkinkan, pencoblosan bisa dilanjutkan di TPS Gedung KJRI Konsulat Jenderal RI Sydney.

3. Anehnya, TPS di gedung KJRI Sydney juga ditutup jam 6 sore. Padahal tentu saja KJRI Sydney TIDAK terkendala masalah sewa gedung. Ratusan calon voter terus berjuang bertahan di depan pintu masuk KJRI dan ramai-ramai menyanyikan lagu Indonesia Raya.

3. PPLN Sydney melakukan kesalahan dalam menginterpretasikan batas waktu pemilihan sampai jam 6 sore. Harusnya yang ditutup adalan ANTREAN, bukan pintu masuk ke TPS yang ditutup. Artinya, masyarakat yang SUDAH masuk antrean sampai dengan pukul 6 HARUS dilayani. Saya sendiri mencoblos di TPS Yagoona, mengantri sekitar 1.5 jam (2.40-4.15 PM). Di TPS Yagoona, WNI yang akan mencoblos MASIH DILAYANI sampai pukul 8 malam.

4. Perlu dicatat oleh PPLN Sydney bahwa tindakan dengan sengaja menghalangi masyarakat untuk memilih dalam Pemilu adalah termasuk TINDAK PIDANA PEMILU. Hal ini diatur dalam UU Pemilu pasal 510:
"Setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan orang lain kehilangan hak pilihnya dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp 24 juta."

5. PPLN Sydney dapat berkaca pada profesionalisme PPLN di New York. Di KJRI New York, WNI dilayani sampai TENGAH MALAM. Bahkan Bapak Konjen New York sendiri sampai jam 23.30 ikut berbaur mengobrol dan menyemangati masyarakat yang mengantri. PPLN New York bahkan secara simpatik terus membagi-bagikan snack, buah dan air pada antrian WNI New York yang sampai tidak sempat makan siang dan makan malam demi masa depan Bangsa dan Negara

SARAN UNTUK WNI DI TANAH AIR

Dengan berkaca pada pengalaman rekan-rekan WNI di LN yang terkendala secara tidak masuk akal hanya untuk menggunakan hak pilihnya, saya menyarankan rekan-rekan di tanah air untuk MENCOBLOS SEPAGI MUNGKIN. Antrian pemilu di LN sungguh tidak manusiawi: di Eropa 3-5 jam, di Hong Kong 5-6 jam, di Tokyo bahkan ada yang antri sampai 9 jam!

Anda-anda di Tanah Air yang sudah berada dan masuk antrian di TPS SEBELUM jam 1 siang BERHAK mencoblos. Hak Anda ini diatur dalam UU Pemilu. Siapa pun yang menghalangi hak Anda, dapat dipidana penjara hingga 2 tahun. Anda HARUS sadar Hak! Jangan takut dengan provokasi dan intimidasi dari pihak mana pun.

Kepada Panitia Pemilu di Tanah Air agar mengantisipasi antusiasme masyarakat dalam Pemilu 2019 ini, please jangan melakukan kesalahan yang sama spt yang dilakukan PPLN di berbagai negara.

Status ini open for public, saya persilakan rekan-rekan PPLN Sydney, WNI Sydney dan rekan-rekan lain untuk ikut urun rembug/berkomentar.

Kepada rekan-rekan WNI se-dunia, HATS OFF untuk kalian semua yang telah memperjuangkan hak pilihnya mengantri berjam-jam, kehujanan, kepanasan dan kelaparan. Haru dan bangga campur jadi satu membaca cerita-cerita perjuangan kalian di berbagai belahan dunia.

Kepada rekan-rekan Golput dengan alasan malas dan sejenisnya, malu-lah pada rekan-rekan kalian yang mengantri nyoblos di udara terbuka sampai 9 jam di LN. Kepada rekan-rekan Golput dengan alasan ideologis, saya menghargai pilihan kalian tapi tolong juga hargai pilihan WNI yang ingin memilih.

INDONESIA LAYAK DIPERJUANGKAN, KAWAN.

Sumber : Status Facebook Meiliani Burtenzorgy

Tuesday, April 16, 2019 - 00:30
Kategori Rubrik: