Pemilu, Hak Atau Kewajiban?

Ilustrasi

Oleh : Sahat Siagian

Pertanyaan ini pernah mendarat di ask.fm saya pada tahun 2014, di tengah gegap gempita pilpres. Nampaknya bukan hanya saya yang mendapat pertanyaan—dalam hitungan menit linimasa saya dijejali jawaban para pengguna ask.fm.

Saat itu pertanyaan tersebut tidak saya gubris. Saya terlalu lelah dengan subyek politik yang saya pelajari tiap hari di kelas. Namun bila diizinkan, saya akan menjawabnya dengan pertanyaan lain: pemilu di negara mana?

Di 11 negara (termasuk Australia, Brazil dan Argentina), pemilu adalah sebuah kewajiban. Praktiknya pun beragam. Di Australia, bila seseorang terdaftar sebagai pemilih dan terbukti tidak memilih tanpa alasan yang sah (sakit, dlsb) maka pelanggar akan dikenakan konsekuensi denda sebesar 26 AUD (Rp260.000,-).

Di Brazil, memilih menjadi kewajiban bagi tiap pemilih yang bisa membaca dalam rentang usia 17-70. Di Argentina, anda boleh menolak untuk mencoblos, namun konsekuensinya anda harus mengabarkan KPU setempat dalam kurun waktu maksimal 48 jam sebelum pemilu dimulai.

Sebaliknya, di Amerika Serikat, sudah menjadi rahasia umum bahwa Partai Republican melancarkan berbagai upaya agar kaum marjinal tidak dapat memilih. Praktik paling fatal ialah gerrymandering. Dalam video berdurasi 20 menit, John Oliver menjelaskan praktik gerrymandering--sebuah praktik yang cukup kompleks untuk menarik serta memindahkan garis batas tiap wilayah pemilu regional.

Bila diterapkan di Indonesia yang menganut sistem demokrasi langsung, praktek gerrymandering tidak akan berdampak apapun. Namun di Amerika Serikat, yang menganut sistem demokrasi representatif, perpindahan garis satu sentimeter saja bisa berkonsekuensi maut.

Sejengkal tersebut bisa jadi pembeda antara berlangsungnya jaminan asuransi kesehatan nasional dan dicabutnya jaminan kesehatan jutaan penduduk miskin di Amerika.

Satu lagi, Partai Republik berusaha sekuat-mampus agar Pemilu tidak jatuh di hari libur dan tidak boleh diliburkan. Para pemilih Demokrat, yang mayoritas berada di kelas bawah, mana rela kehilangan $12 X 8 jam dari saku mereka demi ikut Pemilu?

Indonesia?

Negeri ini lucu. Tidak ada upaya sistematis buat membatasi atau mendiskriminasi pemilih seperti gerrymandering. Pemilu berlangsung di hari libur. Namun tidak juga ada hukuman bagi mereka yang tidak memilih. Di tengah dua kemungkinan ekstrem ini, para pemilih Indonesia berdiri. Bebas dari restriksi maupun penalti. Bisa jadi kita adalah negara yang diberkati dengan kehendak bebas di bilik pemilu. 
Namun nampaknya minimnya konsekuensi membuat kita berpikir terlampau pendek. 
***

Sudah jadi pengetahuan umum bahwa Donald Trump dan kroninya Partai Republican adalah setan yang mewujud di Amerika Serikat. Di tahun 2016, ia bukanlah kandidat manis yang kemudian mencabut topengnya setelah terpilih.

Rasisme, xenofobia, seksisme dan tindak kejahatan seksnya sudah terkuak sejak lama sebelum ia jadi kandidat Partai Republik. Lalu bagaimana bisa orang dungu dan jahat (kombinasi yang sungguh ngeri) ini bisa terpilih sebagai presiden Amerika Serikat?

Dengan iseng saya kemudian menelepon teman saya orang Amerika, ‘Marie, kenapa sih kalian para demokrat susah banget menghimpun suara? ‘Gimana bisa Donald Trump sampai menang?’

Dia tertawa getir. ‘Begini: pemilih demokrat itu kalau bukan liberal intelektual ngehek kelas atas, ya kaum marginal kayak gue yang orangtuanya imigran. Bayangkan bahwa kami secara kolektif cuma punya $10 di saku di hari pemilu. Buat liberal ngehek kelas atas, mereka merasa bahwa mereka yang paling cerdas. Paling paham kandidat yang harus dipilih.

Semua kandidat harus tanpa cela. Kurang sedikit ya gak akan dipilih. Kaum marjinal kayak gue pun juga terlalu selektif buat memilih. Bukan karena kami sok tahu, tapi karena banyak yang kami pertaruhkan. Salah pilih, bisa jadi besok gue sudah dideportasi ke Filipina. Ketika uang yang ada di tangan lo begitu sedikit, bahkan membuang dua sen pun terasa perih.

Sementara para konservatif bangsat itu merupakan golongan orang kaya. Mereka tahu kepentingan siapa yang sedang mereka lindungi. Basis pemilih mereka adalah status quo negara ini: laki-laki dan perempuan kulit putih. Tidak banyak yang mereka khawatirkan. Slogan mereka adalah ‘yang penting Republikan’.

Dalam pemilu, mereka secara kolektif punya $10,000. Ketika uang lo sebanyak itu, maka pengeluaranmu dan konsekuensinya tidak terasa.

Karena cuma punya harta sedikit dan bisa hilang kalau salah pilih dalam Pemilu, kami jadi terlalu picky. Sebaliknya para Republikan, karena hartanya banyak, mungkin bisa berkata dalam hati: ah, salah pilih sekali ini gapapa, yang penting Republikan."

Saya tertegun.

“When you put it that way, politics kinda makes sense doesn’t it?” ujarnya.
***

Sisa hari saya habiskan untuk memikirkan konsekuensi. Saya sesungguhnya orang yang paling benci ditakuti, apalagi soal politik. Ketakutan tidak akan mengantar saya pada pilihan yang rasional. Namun rasanya kali ini kita harus berandai soal konsekuensi untuk tiba di sebuah simpulan akhir.

Ketika anda masuk ke bilik suara nanti, apa yang sesungguhnya sedang anda pertaruhkan?

(tulisan ini dikirim salah satu penggemar gelap saya, yang menolak disebut namanya. saya juga gak bersedia pakai tulisan dia untuk nyari kredit bagi nama saya)

Sumber : Status Facebook Sahat Siagian

Wednesday, January 9, 2019 - 11:15
Kategori Rubrik: