Pemerintah Dapatkan Top Posisi Kepercayaan Rakyat, Buktikan Hasil Kerja Jokowi

Ilustrasi

RedaksiIndonesia-Meski di media cetak, elektronik, sosmed Indonesia ramai oleh berbagai isu yang menghantam pemerintah. Lihat saja berita mengenai Hak angket, tuduhan pemerintah bela Ahok, revisi UU KPK, penentangan Perppu no 2/2017, kenaikan hutang, pencabutan subsidi listrik dan masih banyak isu lain. Para politisi, pengamat maupun aktivis medsos yang anti pemerintah menggambarkan seakan-akan keadaan Indonesia benar-benar runyam.

Belum lagi 2 isu yang tetap terus digulirkan mereka soal pro China dan bangkitnya komunisme. Sebuah ilusi yang tentu saja faktanya hanya berada diruang kosong medsos. Di sudut lain gegap gempita medsos, seorang berbaju putih terus bekerja. Menyusuri Indonesia, menyapa rakyat diberbagai pelosok, mengatasi berbagai persoalan dan ujung-ujungnya mengambil kebijakan. Mungkin dilihat media, kebijakan ini jauh tidak populer. Bahkan ketika ditanya seseorang, beliau menjawab bahwa negara ini sudah lama salah kelola.

Bisa kita bandingkan dengan presiden sebelumnya. Hanya soal pidato saja harus dilatih, diatur bahkan biar terlihat eyecathing. Tapi soal implementasi ya kita tahu sendiri. Bagaimana mangkraknya mobil internet, rusaknya hambalang, besarnya uang korupsi e-KTP, belum lagi ratusan trilyun duit subsidi BBM maupun listrik yang terbuang sia-sia karena membiayai orang-orang mampu.

Para tokoh nasional yang anti Jokowi ini terpecah sesuai spesialisasinya masing-masing. Kalau bicara tentang isu agama diserahkan ke GNPF atau FPI. Kan disana ada Munarman, Khaththath, Buni Yani, amien Rais, Bakhtiar Nasir maupun Tengku Zulkarnain. Soal politik ada Fachri Hamzah, Fadli Zon dan politisi lain. Soal hukum ada Margarito Kamis dan Romly Atmasasmitha. Kalau di medsos, banyak banget. Tapi ramainya teriakan mereka diberbagai media rupanya kalah dengan kebijakan maupun kerja-kerja presiden Jokowi. Bedanya dengan presiden sebelumnya, yakni Jokowi selalu memastikan kerja-kerja lapangan tuntas dan tidak meninggalkan masalah. Bayangkan sejak perencanaan, lelang, mulai pengerjaan proyek, pertengahan penggarapan proyek hingga selesai selalu dipantau.

Tidak heran bila tiap hari kita temui berita presiden berada di lapangan. Dulu berita tentang presiden ya ketika ada rapat di Istana Negara atau kalau dilapangan ya meresmikan sesuatu. Sekarang beda sekali, bahkan banyak hal yang tidak pernah dilakukan presiden sebelumnya itu dikerjakan. Tak heran Jokowi masuk dalam 50 tokoh Islam berpengaruh sedunia selain KH Said Aqil Siradj yang dari Indonesia.

Masyarakat sendiri mengapresiasi kerja-kerja pemerintah dengan memberi nilai yang sepadan. Presiden Joko Widodo mampu mempertahankan tingkat kepercayaan dari Maret 2017 hingga Juni 2017 pada angka 80 persen. Sebuah capaian kinerja yang luar biasa dan belum pernah diraih presiden paska reformasi. Jaman SBY, capaian tertinggi berkisar pada angka 60 persen saja. Tingkat kepercayaan masyarakat pada Maret 2017 mencapai 80 persen diperoleh dalam sebuah survey yang dilakukan oleh Indo Barometer. Sedangkan pertengahan Juli, survey dilakukan oleh Gallup World Poll (GWP) dengan hasil sama. Angka 80 persen ini meningkat 28 persen dibandingkan angka tingkat kepercayaan 10 tahun lalu, yakni 2007 yang hanya mencapai 52 persen.

tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dipengaruhi beberapa faktor.

Faktor-faktor itu, di antaranya, masyarakat menganggap pemerintah dapat diandalkan, cepat, tanggap, adil serta mampu melindungi masyarakat dari risiko sekaligus memberikan pelayanan publik secara efektif. Hasil ini setidaknya menggambarkan dukungan kuat kepada Joko Widodo untuk kembali mencalonkan diri pada Pemilu 2019. Harusnya lawan-lawan Jokowi berpikir ulang untuk memakai isu-isu lama yang sebetulnya tidak berdasar. Banyak sekali isu-isu ngibul alias bohong dengan memanfaatkan ketidaktahuan masyarakat. Sebut saja mengenai pencabutan subsidi listrik, BBM, bangkitnya komunisme, pro China, hutang luar negeri dan lain sebagainya.

Lawan-lawan politik Jokowi harus menggunakan isu-isu yang lebih baik, tidak mengandung fitnah, menyesatkan, mengandung pendidikan politik yang baik, bukan black campaign seperti obor rakyat dan sebagainya. Lihat saja kasus Buni Yani, Rizieq Shihab, Al Khaththath, HTI itu bukan dalam kondisi pemerintah memerangi Islam. Coba lihat pemaknaan lawan politik, semua mengarah kesana. Tuhan tidak akan merestui kalian jika cara-cara yang sama tetap digunakan. Lihat saja jika tetap nekad, selisih hasil Pilpres 2019 akan semakin lebar.

Thursday, July 20, 2017 - 14:45
Kategori Rubrik: